Hadis yang Paling Dibenci Jahmiyyah

Hadis yang Paling Dibenci Jahmiyyah

“Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia tatkala tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman:

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Kukabulkan doanya. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Kuberi permintaannya. Dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Niscaya Kuampuni ia.” (HR. Muslim)

Ini adalah sabda nabi kita tercinta yang wajib kita terima. Namun sayangnya, ada orang-orang yang kepanasan membaca hadis ini lalu berkata: “Bagaimana bisa Allah turun? Seperti apa turunnya Allah?”

Maka, jawaban untuk mereka adalah seperti jawaban Imam Malik untuk orang yang mempertanyakan ketinggian Allah di atas Arsy. Beliau berkata:

الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة

“Makna istiwa (tinggi di atas) itu diketahui, sedangkan bagaimana hakikatnya itu tidak diketahui. Sementara beriman bahwa Dia tinggi di atas Arsy adalah wajib. Dan bertanya tentang hakikatnya adalah bidah!” (‘Aqidah As-Salaf Ashhab Al-Hadits)

Maka demikian pula jawaban kita terhadap orang yang mempertanyakan hadis tadi. Kita katakan:

النُّزُولُ مَعْلُومٌ وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ.

“Makna turunnya Allah itu diketahui, sedangkan bagaimana hakekatnya itu tidak diketahui. Sementara beriman bahwa Dia turun di sepertiga malam terakhir itu adalah wajib. Dan bertanya tentang hakikatnya adalah bidah!” (Majmu’ Al-Fatawa)

Kewajiban kita menerima hadis tadi dengan lapang dada dan tidak mempertanyakannya apalagi sampai membencinya!

Ketika menyinggung hadis tadi, Imam Ad-Darimi berkata:

أَنَّهُ أَغْيَظُ حَدِيثٍ لِلْجَهْمِيَّةِ وَأَنْقَضُ شَيْءٍ لِدَعْوَاهُمْ

“Itu merupakan hadis yang paling dibenci oleh Jahmiyyah dan paling membatalkan klaim mereka.” (Naqdh Al-Imam Abi Sa’id ‘Utsman bin Sa’id Ali Al-Marisi Al-Jahmi Al-‘Aniid)

Kenapa hadis tersebut membatalkan klaim mereka? Dan memang apa klaim mereka?

Imam Ad-Darimi berkata:

لِأَنَّهُمْ لَا يُقِرُّونَ أَنَّ اللَّهَ فَوْقَ عَرْشِهِ، فَوْقَ سَمَوَاتِهِ، وَلَكِنَّهُ فِي الْأَرْضِ، كَمَا هُوَ فِي السَّمَاءِ. فَكَيْفَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا مَنْ هُوَ تَحْتَهَا فِي الْأَرْضِ؟

“Sebab, mereka tidak mengakui bahwa Allah di atas Arsy-Nya yakni di atas langit-Nya, melainkan Dia di bumi, sebagaimana Dia di langit. Maka, bagaimana bisa Zat yang ada di bumi yakni di bawah langit turun ke langit dunia?” (Naqdh Al-Imam Abi Sa’id ‘Utsman bin Sa’id Ali Al-Marisi Al-Jahmi Al-‘Aniid)

Artinya hadis tadi membantah klaim Jahmiyyah bahwa Allah ada di mana-mana.
Imam Ibnu ‘Abdil Barr menyebutkan faidah dari hadis tadi:

وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّمَاءِ عَلَى الْعَرْشِ مِنْ فوق سبع سموات كَمَا قَالَتِ الْجَمَاعَةُ وَهُوَ مِنْ حُجَّتِهِمْ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ وَالْجَهْمِيَّةِ فِي قَوْلِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَلَيْسَ عَلَى الْعَرْشِ

“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa Allah berada di atas langit, di atas Arsy, yaitu di atas langit yang ketujuh, sebagaimana itu dikatakan oleh para ulama. Dan hadis ini termasuk argumen mereka untuk membantah kelompok Muktazilah dan Jahmiyyah yang berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana, bukan di atas Arsy.” (At-Tamhid)

Maka jelaslah bahwa hadis tadi membantah kelompok Jahmiyyah. Karena itu, wajarlah kalau mereka kepanasan dan sangat membenci hadis tersebut.

 

Siberut, 13 Rajab 1446
Abu Yahya Adiya