Inilah Adab Memberi Nasehat

Inilah Adab Memberi Nasehat

Nasehat itu pahit dan berat, namun itu bermanfaat.

Nasehat itu bukan perkara yang mudah, tapi itu adalah ibadah.

Nabi ﷺ bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama ini nasehat.” (HR. Muslim)

Ya, agama ini pada hakekatnya adalah nasehat. Nasehat bagi siapa pun. Karena itu, sudah sepantasnya kita memberikan nasehat kepada siapa pun yang membutuhkannya.

Jarir bin ‘Abdillah berkata:

بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Aku berjanji setia kepada Rasulullah ﷺ untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menasehati setiap muslim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah, saking pentingnya nasehat, sampai-sampai Nabi ﷺ menjadikan itu sebagai janji yang harus ditunaikan oleh sahabatnya.

Nabi ﷺ bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ

“Hak muslim terhadap muslim lainnya ada 6:

Nabi ﷺ ditanya:

مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟

“Apa sajakah itu wahai Rasulullah?”

Nabi ﷺ menyebutkan salah satunya yaitu:

وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ

“Jika ia meminta nasehat, maka nasehatilah ia.” (HR. Muslim)

Lihatlah, saking pentingnya nasehat, sampai-sampai Nabi ﷺ menjadikan itu sebagai hak seorang muslim yang wajib kita tunaikan jika ia memang membutuhkannya.

Itulah kedudukan nasehat dalam Islam. Sangat agung dan mulia.

Saking mulianya kedudukan nasehat, sampai-sampai ‘Abdullah bin Al-Mubarak tatkala ditanya tentang apakah amalan yang paling utama, ia menjawab:

النُّصْحُ لِلَّهِ

“Nasehat karena Allah.” (Al-Amr bi Al-Ma’ruf wa An-Nahy ‘An Al-Munkar)

 

Adab Memberi Nasehat

Memberi nasehat itu adalah ibadah. Sedangkan suatu ibadah pasti ada adab-adabnya.

Lantas, apa adab-adab dalam memberi nasehat?

 

1. Ikhlas dalam memberikan nasehat

Memberi nasehat itu adalah ibadah. Sedangkan ibadah hanya berhak ditujukan kepada Allah dan karena Allah. Karena itu, hendaknya orang yang memberi nasehat mengharapkan balasan dari Allah atas nasehatnya. Ia tidak memberikan nasehat karena ria, popularitas, atau tujuan dunia lainnya.

Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

 

2. Berilmu tentang apa yang akan dinasehatkan.

Seorang menjadi penunjuk jalan suatu rombongan. Ia akan menunjukkan kepada mereka suatu tempat. Tapi, ia sendiri tidak tahu tempat itu. Ia tidak tahu di mana letaknya. Ia tidak tahu arahnya. Lantas bagaimana akibatnya?

Tentu saja fatal akibatnya. Maka, begitu pula orang yang hendak memberi nasehat kalau ia sendiri tidak tahu, tidak paham, dan tidak mengerti tentang apa yang akan ia nasehatkan.

Allah berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah: ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan basirah.” (QS. Yusuf: 108)

dengan basirah yaitu dengan ilmu. Sehingga jelaslah mana yang benar dan mana yang salah.

Artinya, orang yang ingin memberi nasehat harus tahu, mengerti, dan paham tentang:

  • Apa yang akan ia nasehatkan
  • Siapa yang akan ia nasehati
  • Bagaimana cara menasehati

 

3. Tidak menasehati seseorang di hadapan orang lain.

Imam Asy-Syafi’i berkata:

مَنْ وَعَظَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ نصحه وزَانَهُ، وَمَنْ وَعَظَهُ عَلَانِيَةً فَقَدْ فضحه وشَانَهُ

“Siapa yang menasehati saudaranya secara diam-diam, maka sungguh, ia telah menasehatinya dan berbuat baik kepadanya. Dan siapa yang menasehati saudaranya secara terang-terangan, maka sungguh, ia telah mempermalukannya dan berbuat buruk kepadanya.” (Ihya Ulum Ad-Din)

Ya, itu kalau orang yang dinasehati adalah orang biasa, lantas bagaimana dengan penguasa?

Sa’id bin Jubair bertanya kepada Ibnu ‘Abbas:

آمُرُ إِمَامِي بِالْمَعْرُوفِ؟

“Apakah aku menyuruh pemimpinku untuk berbuat baik?”

Maka Ibnu ‘Abbas pun berkata:

إِنْ خَشِيتَ أَنْ يَقْتُلَكَ فَلَا، فَإِنْ كُنْتَ فَاعِلًا فَفِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ وَلَا تَعِبْ إِمَامَكَ

“Jika engkau takut kalau ia akan membunuhmu, maka itu tidak perlu. Tapi kalau engkau mau tak mau mesti memberikan nasehat, maka lakukanlah itu antara dirimu dengannya saja dan jangan engkau cela pemimpinmu!” (Syu’ab  Al-Iman)

 

4. Memerhatikan waktu dan tempat yang cocok.

Abdullah bin Mas’ud biasa memberikan nasehat kepada orang-orang setiap hari Kamis. Maka ada yang berkata:

يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ؟

“Wahai Abu ‘Abdurrahman, sungguh, aku ingin kalau engkau memberi nasehat kepada kami setiap hari.”

Maka Ibnu Mas’ud pun berkata:

أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ، وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ، كَمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا، مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

“Sesungguhnya aku enggan melakukan itu, karena aku takut membuat kalian bosan. Sesungguhnya aku memerhatikan waktu dalam memberi nasehat kepada kalian sebagaimana Nabi ﷺ memerhatikan waktu dalam memberi nasehat kepada kami, karena khawatir kebosanan akan menimpa kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak mesti seseorang memberi nasehat setiap waktu dan pada setiap kesempatan. Karena, itu akan membosankan. Namun, carilah waktu yang tepat dalam memberi nasehat.

(bersambung)

 

Siberut, 10 Rajab 1442

Abu Yahya Adiya