“Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku ada yang imannya tidak akan baik kecuali dengan kekayaan. Kalau Kujadikan ia miskin, maka ia akan kafir. Dan di antara hamba-hamba-Ku ada yang imannya tidak akan baik kecuali dengan kemiskinan. Kalau Kujadikan ia kaya, maka ia akan kafir. Dan di antara hamba-hamba-Ku ada yang imannya tidak akan baik kecuali dengan sakit. Kalau Kujadikan ia sehat, maka ia akan kafir. Dan di antara hamba-hamba-Ku ada yang imannya tidak akan baik kecuali dengan kesehatan. Kalau Kujadikan ia sakit, maka ia akan kafir.” (Al-Jāmi’ Aṣ-Ṣagīr)
Itulah nasihat dari hadis qudsi, tapi sayangnya…
Dalam sanad hadis ini ada perawi yang bernama Yaḥyā bin ’Isā Ar-Ramlī. Siapakah dia?
Syekh Muḥammad Nāṣiruddīn Al-Albānī berkata:
يحيى بن عيسى الرملي، أورده الذهبي في ” الضعفاء ” وقال:
“Yaḥyā bin ’Isā Ar-Ramlī disebutkan oleh Aż-Żahabī dalam Aḍ-Ḍu’afa‘ (para perawi lemah) dan beliau berkata:
صدوق يهم، ضعفه ابن معين
“Ia jujur tapi ceroboh, dan telah dinyatakan lemah oleh Ibnu Ma’īn.”
وقال النسائي:
Dan An-Nasā‘ī berkata:
ليس بالقوي
“Ia tidak kuat.”
وقال الحافظ في ” التقريب :
Al-Hāfiẓ berkata dalam At-Taqrīb:
صدوق يخطيء
“Ia orang yang jujur tapi banyak melakukan kesalahan.” (Silsilah Al-Aḥādīṡ Aḍ-Ḍa’īfah wa Al-Maudū’ah wa Atsaruhā As-Sayyi‘ fī Al-Ummah)
Kalau demikian, sanad hadis ini lemah dan tidak sahih. Namun, bukan berarti maknanya tidak sahih. Sebab, itu sesuai dengan firman Allah:
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الأرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan rezeki sesuai dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)
Allah menjelaskan bahwa seandainya Dia melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tanpa batas, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi, yakni terjerumus dalam kelalaian, jauh dari ketaatan, dan tenggelam dalam syahwat mereka. Namun, dengan kebijaksanaan-Nya yang tak tertandingi, Allah menurunkan rezeki kepada setiap makhluk sesuai dengan ukuran yang Dia tentukan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala rahasia dan keadaan hamba-hamba-Nya dan Maha Melihat segala perbuatan mereka. Oleh karena itu, mustahil bagi-Nya memberikan rezeki secara sembarangan dan tanpa perhitungan yang adil dan penuh hikmah.
Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:
والله سبحانه وتعالى يبتلي عباده بالمال يعني بالغنى وبالفقر، فمن الناس من لو أغناه الله لأفسده الغني، ومن الناس من لو أفقره الله لأفسده الفقر، والله عز وجل يعطي كل أحد بحسب ما تقتضيه الحكمة
“Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan harta, yakni dengan kekayaan dan kemiskinan. Di antara manusia, ada yang jika Allah jadikan kaya, maka kekayaan tersebut akan membuatnya rusak. Dan di antara manusia, ada juga yang jika Allah jadikan miskin, maka kemiskinan tersebut akan membuatnya rusak. Allah memberikan kepada setiap orang sesuai dengan apa yang dituntut oleh hikmah-Nya.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣāliḥīn)
Maka, sambutlah setiap pemberian Allah dengan hati yang lapang dan jiwa yang tabah, karena setiap ketetapan-Nya sarat dengan keadilan dan hikmah.
Siberut, 16 Rabī’ul Ṡāni 1447
Abu Yahya Adiya






