“Saya sudah tahu tentang tauhid!”
Kalimat ini merupakan senjata setan untuk menyeret manusia menuju syirik.
Sebab, kalau seseorang merasa sudah tahu tentang sesuatu, biasanya ia tidak akan mau mempelajari sesuatu itu.
Kalau ia merasa sudah tahu tentang tauhid, biasanya ia tidak akan mau mempelajari tauhid.
Dan kalau seseorang sudah tidak mau mempelajari tauhid, ia akan terjatuh pada syirik. Baik ia sadari maupun tidak. Baik ia akui maupun tidak.
Maklumat dari Ibrahim ﷺ
Allah berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِين
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayah dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Allah yang telah menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Az-Zukhruf: 26-27)
Lihatlah, Nabi Ibrahim ﷺ berlepas diri dari segala sesuatu yang disembah oleh ayah dan kaumnya. Ya, semuanya, kecuali yang telah menciptakan beliau yaitu Allah. Beliau tidak berlepas diri dari-Nya. Beliau justru beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun dan siapa pun.
Itulah hakekat dari tauhid dan syahadat laa ilaaha illa Allah, yaitu berlepas diri dari segala peribadatan kepada selain Allah dan beribadah hanya kepada Allah.
Dan itu pula yang ditunjukkan oleh nabi kita.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مَنْ دُونِ اللهِ، حَرُمَ مَالُهُ، وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ
“Siapa yang mengucapkan لا إله إلا الله, dan mengingkari segala yang disembah selain Allah, maka terjagalah harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya kembali kepada Allah.” (HR. Muslim)
Maka, kalau ada orang yang mengucapkan laa ilaaha illaa Allah, tapi tidak berlepas diri dari syirik, dan tidak mengingkari segala peribadatan kepada selain Allah, berarti pahamkah ia tentang tauhid? Tahukah ia akan makna syahadat laa ilaaha illaa Allah?!
Antara Patung dan Orang Mati
“Kami melakukan syirik?!”
Mungkin itulah reaksi yang muncul, kalau kita menegur mereka yang menghinakan diri kepada orang-orang yang sudah mati.
Dan kalau kita katakan bahwa perbuatan mereka seperti perbuatan orang-orang musyrik zaman dahulu, mereka akan memberontak dengan berkata, “Apakah kalian menyamakan kami dengan mereka?! Apakah orang yang mendekatkan diri kepada wali-wali Allah kalian samakan dengan orang yang mendekatkan diri kepada patung-patung?!”
Padahal….
Allah Ta’ala berfirman:
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya. Sesungguhnya siksa Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 56-57)
Yang dimaksud dengan mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka adalah para malaikat, nabi, orang saleh atau jin.
Mereka disembah oleh orang-orang musyrik. Padahal, mereka adalah hamba-hamba Allah juga, sama seperti mereka.
Mereka dimintai pertolongan dan keselamatan dari siksa Allah. Padahal, mereka sendiri mengharapkan rahmat Allah dan takut akan siksa-Nya.
Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik zaman jahiliah pun beribadah kepada orang saleh, dan karena itu mereka dianggap musyrik.
Berarti, hakekat dari tauhid dan syahadat laa ilaaha illaa Allah, yaitu berlepas diri dari segala peribadatan kepada selain Allah, di antaranya yaitu peribadatan kepada orang saleh dan beribadah hanya kepada Allah.
Maka, kalau ada orang yang memanggil-manggil orang saleh, dan menghinakan diri di hadapan kuburnya, berarti pahamkah ia tentang tauhid? Tahukah ia akan makna syahadat laa ilaaha illaa Allah?!
Pemuka Agama pun Bisa Dituhankan
Allah berfirman:
اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَهًا وَاحِدًا لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan juga Al-Masih putera Maryam. Padahal, mereka hanya disuruh untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan yang benar kecuali Dia. Maha suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31)
Lihatlah, ahli kitab telah menuhankan para pemuka agama mereka dan ahli ibadah mereka!
Kok bisa?
Mereka meminta nasehat kepada para pemuka agama dan ahli ibadah mereka, kemudian para pemuka agama dan ahli ibadah itu menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan, lalu ternyata mereka pun mematuhi apa yang ditunjukkan oleh para pemuka agama dan ahli ibadah itu.
Karena itulah mereka dianggap sudah menuhankan para pemuka agama dan ahli ibadah mereka. Sebab, di antara hak istimewa Tuhan adalah menghalalkan dan mengharamkan.
Kalau begitu, hakekat dari tauhid dan syahadat laa Ilaaha Illaa Allah adalah berlepas diri dari siapa pun yang mengharamkan apa yang Allah halalkan, atau menghalalkan apa yang Allah haramkan dan meyakini hanya Allah lah yang berhak menghalalkan dan mengharamkan.
Maka, kalau ada orang yang mengharamkan apa yang Allah halalkan atau menghalalkan apa yang Allah haramkan karena “asal bapak senang”, berarti pahamkah ia tentang tauhid? Tahukah ia akan makna syahadat laa ilaaha illaa Allah?!
Dalam Cinta pun Dia Tidak Boleh Diduakan
Allah berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّهِ
“Di antara manusia ada yang membuat tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih besar cinta mereka kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 165)
Lihatlah, Allah menganggap orang yang menyamakan diri-Nya dengan selain-Nya dalam hal kecintaan sebagai musyrik dan membuat tandingan bagi-Nya.
Maka, tidak boleh seorang mencintai siapa pun seperti halnya ia mencintai Allah.
Allah menciptakan manusia di dunia untuk mengabdi kepada-Nya, dan Dia menganugerahkan kepadanya berbagai nikmat dan rezeki tanpa henti. Namun, apa jadinya, kalau ia mengutarakan kepada selain-Nya:
“Aku hidup untuk merindukanmu….”
“Semua yang kulakukan hanya untukmu….”
“Aku cuma memiliki dua pilihan: hidup untuk terus mencintaimu atau mati..!”
“Karena kau segala-galanya bagiku….”
“Di pikirku hanya satu. Di anganku hanya satu. Dirimu….”
“Setiap detik waktuku selalu mengingat dirimu….”
Apakah semua ucapan tadi muncul dari orang yang paham tentang tauhid dan tahu akan makna syahadat laa ilaaha illaa Allah?!
Maka, kalimat “saya sudah tahu tentang tauhid!” merupakan senjata setan untuk menyeret manusia menuju syirik. Baik ia sadari maupun tidak. Baik ia akui maupun tidak.
Siberut, 2 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya






