“Aisyah dan Zainab pernah saling membanggakan diri.”
Itulah kabar dari Muhammad bin ‘Abdillah bin Jahsy.
Dalam hal apa keduanya saling membanggakan diri?
Zainab berkata:
أَنَا الَّتِي نَزَلَ تَزْوِيجِي مِنَ السَّمَاءِ
“Aku adalah orang yang turun wahyu menikahkanku dari atas langit.”
Sedangkan ‘Aisyah berkata:
أَنَا الَّتِي نَزَلَ عُذْري مِنَ السَّمَاءِ
“Aku adalah orang yang turun wahyu memaafkanku dari atas langit.” (Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ibn Katsir, dan Ad-Durr Al-Mantsur Fii At-Tafsiir bi Al-Matsuur)
‘Aisyah dituduh selingkuh dengan Shafwan bin Mu’aththal.
Demi membersihkan dirinya dari tuduhan keji, Allah sampai menurunkan beberapa ayat secara khusus mengenai dirinya, yaitu surat An-Nuur ayat kesebelas sampai ayat kedua puluh.
‘Aisyah berkata:
فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَؤُلَاءِ الْآيَاتِ بَرَاءَتِي
“Allah menurunkan ayat-ayat itu untuk membebaskan diriku dari tuduhan keji tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim dan ini adalah redaksi Muslim)
Itulah kemuliaan ‘Aisyah, isteri Nabi ﷺ tercinta.
Sedangkan Zainab binti Jahsy, Allah telah memuliakannya dengan menikahkannya secara langsung dengan Nabi ﷺ.
Sebelumnya Zainab adalah istri Zaid bin Haritsah, anak angkat Nabi ﷺ.
Orang-orang jahiliah menganggap pernikahan seseorang dengan mantan istri anak angkatnya adalah perkara yang terlarang.
Demi menghapus kebiasaan jahiliah tersebut, Allah menyuruh nabi-Nya untuk menikahi Zainab, mantan istri anak angkatnya tersebut.
Allah menurunkan firman-Nya:
فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا
“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami menikahkanmu dengannya agar tidak ada keberatan bagi orang-orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluan mereka terhadap istri-istri mereka.” (QS. Al-Ahzab: 37)
Itulah kemuliaan Zainab binti Jahsy, istri nabi kita.
Selain menunjukkan kemuliaan dua istri Nabi ﷺ, ayat dan hadis tadi juga menunjukkan ketinggian Allah, yakni Allah Maha Tinggi, tinggi di atas langit ketujuh, tinggi di atas Arsy.
Anas bin Malik berkata:
فَكَانَتْ زَيْنَبُ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ تَقُولُ
“Zainab membanggakan diri di hadapan isteri-isteri Nabi ﷺ lainnya seraya berkata:
زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ وَزَوَّجَنِي اللَّهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ
“Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian, sedangkan aku dinikahkan sendiri oleh Allah Ta’ala dari atas langit ketujuh!” (HR. Bukhari)
Dan Zainab juga pernah berkata kepada Nabi ﷺ:
زَوَّجَنِيكَ الرَّحْمَنُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ فَوْقِ عَرْشِهِ
“Tuhan Yang Maha Pengasih telah menikahkan aku denganmu dari atas Arsy-Nya.” (HR. Al-Hakim)
Lihatlah, dinikahkan sendiri oleh Allah Ta’ala dari atas langit ketujuh dan dari atas Arsy-Nya!
Ketika ‘Aisyah wafat, Ibnu ‘Abbas mengunjunginya lalu berkata:
كُنْتِ أَحَبَّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَلَمْ يَكُنْ يُحِبُّ إِلا طَيِّبًا، وَأَنْزَلَ اللَّهُ بَرَاءَتَكِ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ
“Engkau adalah wanita yang paling dicintai Rasulullah ﷺ. Dan beliau tidak mungkin mencintai kecuali yang baik. Dan Allah telah menurunkan dari atas langit ketujuh pembebasan dirimu dari tuduhan yang keji.” (Ar-Radd ‘Alaa Al-Jahmiyyah)
Lihatlah, Allah telah menurunkan dari atas langit ketujuh pembebasan dirimu dari tuduhan yang keji!
Ayat-ayat dan hadis-hadis tadi cukup untuk membantah sekte Jahmiyyah yang menolak ketinggian Allah di atas Arsy.
Siberut, 16 Jumada Al-Ulaa 1444
Abu Yahya Adiya






