Kenapa Harus Dakwah Tauhid?

Kenapa Harus Dakwah Tauhid?

Kenapa kita mesti mempelajari tauhid? Kenapa kita harus terus mengajarkan tauhid? Kenapa kita wajib mengusung dakwah tauhid?

Karena….

  1. Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia.

“Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat:  56)

Supaya mereka beribadah kepada-Ku. Ya, supaya mereka beribadah kepada Allah semata.

Itulah tauhid. Itulah tujuan Allah menciptakan kita.

 

  1. Tauhid adalah inti dakwah para rasul

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah kepada Allah dan jauhilah tagut!” (QS. An Nahl: 36)

Beribadahlah kepada Allah dan jauhilah tagut! Itulah tauhid. Itulah dakwah para rasul.

Allah berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan yakin. Maha Suci Allah. Dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Mengajak kepada Allah yakni:

إلى توحيد الله لا إلى حظ من حظوظ الدنيا ولا إلى رئاسة ولا إلى حزبية.

“Mengajak untuk mengesakan Allah. Bukan untuk meraih bagian dari dunia. Bukan untuk meraih kepemimpinan, atau mengajak pada golongan.” (Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid)

Itulah tauhid. Itulah dakwah yang diusung rasul kita.

 

  1. Tauhid adalah kunci kejayaan umat Islam.

“Allah telah berjanji kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bahwa sungguh, Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun.” (QS. An-Nur: 55)

Lihatlah, semua janji Allah itu akan terwujud dengan syarat: “mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun”!

Itulah tauhid. Itulah kunci kejayaan kita.

Syekh ‘Abdul Malik Ar-Ramadhani berkata:

فهل انتبه المسلمون لهذا الشرط العظيم { يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا }

“Apakah kaum muslimin memerhatikan syarat yang agung ini: ‘mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun’?

وهل يرشح للنصر من يعلق أمله بحجر؟

Apakah bakal ditolong orang yang menggantungkan harapannya kepada batu?

وهل يرشح للنصر من يستغيث بميت من البشر؟

Apakah bakal ditolong orang yang beristigasah kepada orang yang sudah mati?

وهل يرشح للنصر من يسجد عند قبر؟

Apakah bakal ditolong orang yang bersujud di sisi kubur?

وهل يرشح للنصر من يطوف بمشهد رجل صالح؟

Apakah bakal ditolong orang yang melakukan tawaf di pusara orang saleh?

وهل يرشح للنصر من يجعل سره وعلانيته بيد ولي أو يقسم بنبي؟

Apakah bakal ditolong orang yang menyerahkan perkaranya yang tersembunyi maupun yang tampak ke tangan wali atau bersumpah dengan nama nabi?” (As-Sabiil Ilaa Al-‘Izz wa At-Tamkiin)

Ya, tidak akan ditolong. Sebab….

ولا يمكن النصر لأي جماعة تُهمل التوحيد ولا تكافح الشرك بأنواعه

“Kemenangan tidak akan tercapai oleh golongan yang meremehkan masalah tauhid dan tidak memerangi syirik dengan segala bentuknya.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

Semua perkara tadi menunjukkan pentingnya tauhid. Karena itu, apa sikap kita yang seharusnya terhadap dakwah tauhid?

 

Jangan Remehkan Dakwah Tauhid!

Ya, jangan remehkan pengajaran tentang tauhid. Jangan memandang remeh dakwah tauhid!

Apa contoh meremehkan dakwah tauhid?

 

  1. Menganggap pengajaran tentang tauhid tidak penting bagi umat.

Seperti ucapan seseorang:

ليس من الضروري أن نظل ثلاثة عشر عاما نغرس العقيدة, وندعو إليها, لأننا اليوم بين المسلمين يؤمنون بأن لا إله إلا الله, وأن محمدا رسول الله, فليسوا محتاجين إلى أن نعلهم العقيدة مثل هذه المادة!

“Bukan termasuk perkara yang darurat kita menanamkan akidah selama 13 tahun lamanya dan mengajak padanya. Sebab, kita sekarang ini berada di tengah kaum muslimin yang beriman bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Mereka tidak butuh untuk kita ajari akidah seperti materi ini!” (Aulawiyaat Al-Harakah Al-Islamiyyah)

Dan serupa dengan itu ucapan sebagian orang, “Sekarang ini, umat tidak butuh diajari tentang tauhid. Mereka sudah tahu mana itu tauhid dan mana itu syirik. Mereka sudah cerdas!”

Ya, “mereka sudah cerdas”, karena itu masih banyak di antara mereka yang percaya dengan klenik dan perdukunan hingga saat ini….

“Mereka sudah cerdas”, karena itu masih banyak di antara mereka yang mencari kekebalan dan kesaktian dari jimat dan benda tertentu hingga hari ini….

“Mereka sudah cerdas”, karena itu masih banyak di antara mereka yang mencari kesembuhan dan rezeki dari kuburan tertentu hingga hari ini….

Dan masih banyak lagi fenomena “kecerdasan” semacam itu yang tersebar di tengah umat ini.

 

  1. Menganggap pengajaran tentang tauhid akan melemahkan kekuatan umat.

Seperti ucapan sebagian orang:

“Jangan memecah belah umat dengan pembahasan tauhid dan syirik!”

“Musuh-musuh Islam sedang mengepung umat ini dari berbagai penjuru, maka jangan sibukkan mereka dengan pembahasan tauhid dan syirik!”

Padahal, Nabi ﷺ tidak pernah mendiamkan kesalahan dengan alasan menjaga “persatuan”, apalagi kalau kesalahan tersebut dalam masalah akidah.

Ketika beberapa sahabatnya yang baru masuk Islam hendak berperang dan meminta kepada beliau agar dibuatkan Dzatu Anwath seperti yang dimiliki oleh orang-orang musyrik, Nabi ﷺ mengingkari permintaan mereka.

Beliau ﷺ bersabda:

اللهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ: {اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

“Allahu Akbar! itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian). Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian telah mengucapkan perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa, ‘Buatkanlah untuk kami sembahan sebagaimana mereka memiliki sembahan!’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengerti!’

لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم

Kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian!” (HR. Tirmidzi dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)

Lihatlah, dalam keadaan genting, menjelang perang, beliau ﷺ tetap mengingkari kesalahan mereka.

Lihatlah, dalam keadaan mereka baru masuk Islam, beliau ﷺ tetap mengingkari kesalahan mereka.

Beliau ﷺ tidak menundanya, dan tidak mendiamkannya serta tidak pula membiarkannya. Beliau ﷺ tetap mengingkarinya.

Apakah itu perbuatan memecah belah umat?! Beranikah kita mengatakan bahwa beliau telah memecah belah umat?!

Siapa sebenarnya yang menjadi teladan kita? Siapa sebenarnya yang menjadi panutan kita?

Tirulah beliau, kalau memang kita termasuk golongan beliau!

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:

الفرقة الناجية تعتبر التوحيد وهو إفراد الله بالعبادة كالدعاء و الاستعانة والاستغاثة وقت الشدة و الرخاء ، و الذبح و النذر والتوكل و الحكم بما أنزل الله ، و غير ذلك من أنواع العبادة هو الأساس الذي تبنى عليه الدولة الإسلامية الصحيحة

“Golongan yang selamat menganggap tauhid yakni mengesakan Allah dalam beribadah, berdoa, memohon pertolongan, beristigasah baik di waktu sempit maupun lapang, menyembelih hewan, bernazar, tawakal, berhukum dengan apa yang Allah turunkan, dan berbagai bentuk ibadah lainnya adalah dasar bagi tegaknya pemerintahan Islam yang benar.

ولا بد من إبعاد الشرك و مظاهره الموجودة في أكثر البلاد الاسلامية، لأنه من مقتضيات التوحيد….

Dan mesti menyingkirkan syirik dan  berbagai simbolnya yang banyak ditemui di negara-negara Islam. Sebab itu termasuk konsekuensi tauhid….

أسوة بالرسل جميعا و برسولنا الكريم صلوات الله و سلامه عليهم أجمعين.

Itu sebagai bentuk peneladanan terhadap semua rasul dan rasul kita-semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka semua-.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

 

Siberut, 11 Rabi’ul Tsani 1443

Abu Yahya Adiya