Menjadi Ahlussunnah Tanpa Mengikuti Sunnah?

Menjadi Ahlussunnah Tanpa Mengikuti Sunnah?

Apa mungkin seseorang dianggap Ahlussunnah tapi tidak mengikuti sunnah?

Tentu saja tidak mungkin.

Seseorang dikatakan Ahlussunnah tatkala ia mengamalkan sunnah nabi-Nya dan berpegang teguh padanya.

Imam Al-Barbahari berkata:

السنة هي الإسلام والإسلام هي السنة

“Sunnah adalah Islam dan Islam adalah Sunnah.” (Syarh As-Sunnah)

Ahlussunnah bersemangat mengamalkan sunnah Nabi ﷺ. Sebab, mereka sadar bahwa sunnah Nabi ﷺ pada hakekatnya adalah Islam itu sendiri.

Karena itu, jika satu sunnah ditinggalkan, maka berkuranglah kesempurnaan Islam. Dan jika sunnah demi sunnah terus tinggalkan, maka makin berkuranglah kesempurnaan Islam hingga bisa hilanglah Islam secara keseluruhan.

‘Abdullah Ibnu Ad-Dailami berkata:

إِنَّ أَوَّلَ ذَهَابِ الدِّينِ تَرْكُ السُّنَّةِ , يَذْهَبُ الدِّينُ سُنَّةً سُنَّةً , كَمَا يَذْهَبُ الْحَبْلُ قُوَّةً قُوَّةً

“Sesungguhnya awal pertama hilangnya agama ini adalah ditinggalkannya sunnah. Agama ini akan hilang satu sunnah demi satu sunnah seperti hilangnya tali seutas demi seutas.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah)

Makanya, tidaklah salah jika Ahlussunnah adalah orang-orang yang bersemangat mengamalkan sunnah Nabi ﷺ agar tidak hilang dari muka bumi.

 

Keutamaan Mengikuti Sunnah

Berpegang teguh pada sunnah Nabi ﷺ adalah sebuah kemuliaan. Mengikuti petunjuk Nabi ﷺ adalah sebuah keutamaan. Apa saja keutamaan mengikuti sunnah Nabi ﷺ?

  1. Dengan mengikuti sunnah Nabi ﷺ, Allah akan mencintai kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Rasul), ‘Jika kalian memang mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali-‘Imran: 31)

 

  1. Mengikuti sunnah Nabi ﷺ adalah kunci keselamatan dari berbagai kesesatan dan penyimpangan.

Nabi ﷺ bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian sepeninggalku, niscaya ia melihat perselisihan yang banyak. Karena itu, berpeganglah pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah pada sunnah tadi dan gigitlah itu dengan gigi geraham kalian!” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Inilah cara agar selamat dari kesesatan. Inilah solusi agar selamat dari penyimpangan, yaitu berpegang teguh pada sunnah nabi kita.

Imam Az-Zuhri berkata:

كَانَ مَنْ مَضَى مِنْ عُلَمَائِنَا يَقُولُونَ:

“Para ulama kita yang terdahulu berkata:

الِاعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ

“Berpegang teguh pada sunnah adalah keselamatan.” (Sunan Ad-Darimi)

 

  1. Orang yang mengikuti sunnah akan mendapatkan hidayah.

Allah berfirman:

وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

“Kalau kalian menaatinya, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Nur: 54)

Ya, siapa yang menaati Nabi ﷺ dan mengikuti sunnahnya, maka ia akan mendapatkan cahaya dan petunjuk dari-Nya.

Abul ‘Abbas bin ‘Atha berkata:

من ألزم نفسه آداب السنة: غمر الله قلبه بنور المعرفة.

“Siapa yang membiasakan dirinya dengan adab-adab sunnah, niscaya Allah memenuhi

hatinya dengan cahaya makrifah.” (Hilyah Al-Aulia wa Thobaqaat Al-Ashfiya)

Ya, hatinya akan bercahaya sehingga tidak bimbang dan bingung. Dan cahaya itu bukan hanya terasa oleh dirinya saja, bahkan terasa juga oleh orang lain selain dirinya.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata:

إن لله عبادا يحيي بهم البلاد وهم أصحاب السنة

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang melalui mereka Allah hidupkan negeri-negeri. Mereka itu adalah ashabussunnah (para pemegang sunnah).” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

Allah hidupkan negeri-negeri melalui para pengikut sunnah. Lewat merekalah sunnah-sunnah Nabi ﷺ tersebar di muka bumi. Dan kalau ada sunnah Nabi ﷺ yang sudah terkubur, maka merekalah yang berusaha menghidupkannya kembali.

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:

الفرقة الناجية : يحيون سُنن الرسول ﷺ في عبادتهم و سلوكهم و حياتهم فأصبحوا غرباء بين قومهم

“Golongan yang selamat itu menghidupkan sunnah-sunnah Rasul ﷺ dalam ibadah, perilaku dan kehidupan mereka. Karena itulah mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaum mereka.

كما أخبر عنهم رسول الله ﷺ بقوله:

Sebagaimana Nabi ﷺ telah mengabarkan tentang mereka lewat sabdanya:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (Manhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)
Bukankah ketika Nabi ﷺ menyampaikan risalah Islam awalnya dianggap aneh dan asing?

Ketika menyekutukan Allah dengan orang-orang saleh, pohon, batu dan berhala lainnya sudah merajalela, dianggap lumrah dan biasa, tiba-tiba datanglah Nabi ﷺ menyatakan bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah semata. Bukankah itu dianggap aneh?

Ketika krisis moral dan akhlak sudah merajalela, dianggap lumrah dan biasa, tiba-tiba datanglah Nabi ﷺ meluruskan semua penyimpangan itu. Bukankah itu dianggap asing?

Ya, asing. Tentu saja asing. Dan suatu saat Islam pun akan kembali asing. Orang yang berpegang teguh padanya akan dianggap aneh dan asing. Namun, apakah itu suatu kehinaan dan kerendahan?

Tidak!

Sebab, Nabi ﷺ mengatakan, “Beruntunglah orang-orang yang asing.”

Maka, bergembiralah wahai para pengikut sunnah, karena keberuntungan ada di hadapan kalian!

 

Siberut, 13 Rabi’ul Tsani 1443

Abu Yahya Adiya