“Aku memandang mereka akan binasa!”
Itulah perkataan Ibnu ‘Abbas tatkala mendengar seseorang membantah sunnah Nabi ﷺ dengan perkataan Abu Bakar dan ‘Umar.
Ibnu ‘Abbas berkata:
أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ، وَيَقُولُ: نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
“Aku memandang mereka akan binasa. Kukatakan, ‘Nabi ﷺ bersabda demikian’, tetapi mereka malah berkata, ‘Abu Bakar dan ‘Umar melarang demikian.” (HR. Ahmad)
Siapakah Abu Bakar? Dan siapakah ‘Umar?
Bukankah keduanya manusia terbaik setelah Nabi ﷺ?
Bukankah keduanya sosok mulia yang sudah dijamin masuk surga?
Namun, apa jadinya kalau kita mendahulukan perkataan keduanya di atas perkataan nabi kita?
Binasa!
Demikianlah kata Ibnu ‘Abbas.
Nah, kalau mendahulukan ucapan keduanya di atas ucapan Nabi ﷺ saja mengundang siksa, maka bagaimana pula kalau seseorang sampai mendahulukan ucapan selain keduanya di atas ucapan Nabi ﷺ?!
Kalau tadi sikap Ibnu ‘Abbas terhadap orang yang menyangkal sabda Nabi ﷺ dengan perkataan Abu Bakar dan ‘Umar, maka kira-kira bagaimana sikapnya terhadap orang yang menyangkal sabda Nabi ﷺ dengan perkataan selain Abu Bakar dan ‘Umar?!
Bagaimana pula sikapnya terhadap orang yang menyanggah sabda nabi-Nya dengan perkataan imam mazhabnya?!
Bagaimana pula sikapnya terhadap orang yang membantah sabda nabi-Nya dengan perkataan ulamanya, ustaznya, dan tokoh panutannya?
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap yang lain, nanti lenyaplah pahala segala amal kalian sedangkan kalian tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 1)
Kalau meninggikan suara melebihi suara Nabi ﷺ saja bisa menyebabkan lenyapnya pahala seluruh amalan, maka bagaimana pula dengan meninggikan suatu pendapat melebihi petunjuk Nabi?! Bukankah karena itu pahala amalan lebih mungkin untuk lenyap lagi?!
Junjung tinggilah perkataan Allah dan nabi-Nya. Dan jangan mendahulukan perkataan siapa pun di atas perkataan Allah dan nabi-Nya!
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)
Bagaimana bentuk mendahului Allah dan rasul-Nya?
Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan berkata:
وهذا يشمل معارضة السنة والكتاب بالرأي، والتقليد أيضاً
“Ini mencakup sikap menentang As-Sunnah dan Al-Quran dengan pendapat dan juga taklid.” (Fath Al-Bayan Fii Maqashid Al-Quran)
Dengan pendapat dan juga taklid artinya….
Siapa yang menentang firman Tuhannya atau sabda rasul-Nya dengan pendapatnya, maka ia telah mendahului Allah dan rasul-Nya.
Dan siapa yang menyanggah Al-Quran atau As-Sunnah karena mengekor panutannya, maka ia telah mendahului Allah dan rasul-Nya.
Itu sikap yang lancang terhadap Tuhannya. Dan itu bukan sikap orang yang akan selamat dari siksa-Nya.
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
الفرقة الناجية لا تُقدم كلام أحد على كلام الله و رسوله
“Golongan yang selamat tidak mendahulukan ucapan seorang pun di atas perkataan Allah dan rasul-Nya.” (Manhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)
Siberut, 9 Rabi’ul Tsani 1443
Abu Yahya Adiya






