Ibnu ‘Ulayyah yaitu Isma’il bin Ibrahim bin Miqsam Al-Asadiy.
Ia adalah seorang ulama ahli hadis dari kota Bashrah yang asalnya dari Kufah. Ia lebih dikenal sebagai Ibnu ‘Ulayyah. ‘Ulayyah adalah nama ibunya.
Imam Ibnu ‘Ulayyah memiliki dua anak yang berbeda.
Imam Adz-Dzahabi berkata:
وَلابْنِ عُلَيَّةَ ابْنٌ آخَرُ، جَهْمِيٌّ شَيْطَانٌ، اسْمُهُ: إِبْرَاهِيْمُ بنُ إِسْمَاعِيْلَ، كَانَ يَقُوْلُ بِخَلْقِ القُرْآنِ، وَيُنَاظِر
“Ibnu ‘Ulayyah memiliki anak seorang penganut Jahmiyyah dan setan. Namanya Ibrahim bin Isma’il. Ia berpendapat bahwa Al-Quran adalah makhluk dan ia mendebat orang lain tentang itu.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Di antara yang didebat oleh Ibrahim bin Isma’il adalah Imam Asy-Syafi’i.
Itu yang pertama. Lantas bagaimana dengan anak Imam Ibnu ‘Ulayyah yang lain?
Imam Adz-Dzahabi berkata:
وَابْنٌ آخَرُ، اسْمُهُ: حَمَّادُ بنُ إِسْمَاعِيْلَ، لَحِقَ أَبَاهُ، وَهُوَ مِنْ شُيُوْخِ مُسْلِمٍ
“Dan anaknya yang lain namanya Hammad bin Isma’il. Ia mengikuti jejak ayahnya dan ia termasuk gurunya Imam Muslim.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Ya, Hammad bin Isma’il mengikuti jejaknya yakni menjadi ulama Ahlussunnah dan ahli hadis.
Berarti, sekali lagi, Imam Ibnu ‘Ulayyah memiliki dua anak yang berbeda.
Yang satu seorang ahlussunnah dan menjadi ahli hadis, yakni Hammad bin Isma’il. Sedangkan yang satu lagi menjadi ahli bidah, yakni Ibrahim bin Isma’il.
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari semua ini?
1. Hidayah ada di tangan Allah.
Walaupun Imam Ibnu ‘Ulayyah adalah seorang ulama besar, tetap saja beliau tidak bisa memberikan hidayah kepada anaknya, Ibrahim bin Isma’il.
Bagaimana bisa Ibrahim bin Isma’il menjadi seorang Jahmiyyah dan ahli bidah, padahal orang tuanya adalah ulama Ahlussunnah dan ahli hadis?!
Itulah hidayah. Hidayah itu di tangan Allah, bukan di tangan ulama.
Allah berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau (wahai Rasul) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kau kasihi, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashshash ayat 56)
Ayat ini ditujukan kepada nabi kita.
Nah, kalau seorang nabi saja tidak bisa memberikan petunjuk dan hidayah, maka apalagi orang yang ada di bawahnya!
Sehebat apa pun keilmuan dan ketakwaan seseorang, tetap saja ia tidak bisa memberi hidayah. Hanya Allah lah yang bisa memberikan hidayah.
2. Benar atau tidaknya ajaran seseorang tidak ada hubungannya dengan penerimaan keluarganya.
Ajaran seseorang belum tentu benar karena diterima keluarganya. Sebagaimana ajaran seseorang belum tentu sesat karena ditolak keluarganya.
Ajaran yang dipegang oleh Imam Ibnu ‘Ulayyah jelas benar, yakni ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Namun nyatanya, itu ditolak oleh anaknya yakni Ibrahim bin Isma’il.
Maka kelirulah orang yang menolak dai yang mengajarkan kebenaran dengan alasan: “Kalau memang yang ia ajarkan benar, tentu akan diterima oleh keluarganya sebelum orang lain!”
Padahal, kalau kita mau melihat dakwah nabi kita sendiri, niscaya pernyataan seperti itu terbantahkan.
Bukankah di antara mereka yang menentang dakwah nabi kita ada juga orang yang masih memiliki hubungan kerabat dengan nabi kita? Bahkan, bukankah paman kandung beliau sendiri menentang dakwah beliau?
Maka jangan kaitkan benar atau tidaknya ajaran seseorang dengan penerimaan keluarganya!
Siberut, 9 Jumada Ats-Tsaniyah 1446
Abu Yahya Adiya






