Menyadarkan Umat lewat Dusta

Menyadarkan Umat lewat Dusta

Suatu hari Imam ‘Ali bin Al-Madini mendatangi tokoh Sufi, Ahmad bin ‘Atha Al-Hujaimi. Dan ketika itu beliau melihat ada gulungan kertas padanya. Dari gulungan kertas itulah ia menyampaikan hadis-hadis.

Maka Imam ‘Ali bin Al-Madini bertanya:

أَسَمِعْتَ هَذَا؟

“Apakah engkau pernah mendengar hadis-hadis yang ada padanya?”

Ahmad bin ‘Atha Al-Hujaimi menjawab:

لاَ، وَلَكِنِ اشْتَرَيْتُهُ، وَفِيْهِ أَحَادِيْثُ حِسَانٌ أُحَدِّثُ بِهَا هَؤُلاَءِ.

“Tidak, akan tetapi aku membelinya dan di dalamnya ada hadis-hadis bagus yang kusampaikan kepada mereka.”

Imam ‘Ali bin Al-Madini pun berkata kepadanya:

أَمَّا تَخَافُ اللهَ؟ تُقَرِّبُ العِبَادَ إِلَى اللهِ بِالكَذِبِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ﷺ!

“Apakah engkau tidak takut kepada Allah? Engkau mendekatkan manusia kepada Allah dengan cara dusta atas nama Rasulullah!” (Siyar A’lam An-Nubala)

Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari kisah singkat ini:

 

1. Menyampaikan hadis yang tidak jelas statusnya sama saja dengan dusta atas nama Nabi ﷺ.

Seperti yang terjadi pada tokoh Sufi tadi. Ia ingin menyadarkan umat dengan cara menyampaikan hadis-hadis yang tidak jelas statusnya. Dan itu diingkari oleh Imam ‘Ali bin Al-Madini dan beliau menganggap perbuatan tersebut sebagai dusta atas nama Nabi ﷺ.

Imam Ad-Daruquthni berkata:

توعد ﷺ بالنَّار من كذب عَلَيْهِ بعد أمره بالتبليغ عَنهُ فَفِي ذَلِك دَلِيل على أَنه انما أَمر أَن يبلغ عَنهُ الصَّحِيح دون السقيم وَالْحق دون الْبَاطِل لَا أَن يبلغ عَنهُ جَمِيع مَا رُوِيَ عَنهُ لِأَنَّهُ قَالَ ﷺ

“Nabi ﷺ mengancam orang yang berdusta atas nama beliau dengan neraka setelah perintah untuk menyampaikan hadis dari beliau. Pada yang demikian terdapat dalil bahwa yang diperintahkan adalah menyampaikan hadis yang sahih, bukan yang bermasalah, dan hadis yang benar, bukan yang batil. Bukan menyampaikan semua yang diriwayatkan dari beliau. Sebab, beliau ﷺ bersabda:

كَفَى بالمَرءِ كَذِباً أنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سمعِ

“Cukuplah seorang dinyatakan sebagai pendusta jika menyampaikan semua yang ia dengar.”

أخرجه مُسلم من حَدِيث أبي هُرَيْرَة فَمن حدث بِجَمِيعِ مَا سمع من الْأَخْبَار المروية عَن النَّبِي ﷺ وَلم يُمَيّز بَين صحيحها وسقيمها وحقها من باطلها باء بالاثم

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah. Siapa yang menyampaikan semua yang ia dengar berupa kabar-kabar yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ tanpa memilah antara yang sahih dengan yang bermasalah, dan tanpa memilah antara yang benar dengan yang batil, maka ia telah kembali membawa dosa.” (Tahdzir Al-Khowwash min Akadzib Al-Qashshash)

 

2. Tidak boleh menyadarkan umat lewat dusta.

 

3. Niat baik semata tidak cukup dalam beramal. Mesti disertai dengan cara yang baik.

Seperti yang terjadi pada tokoh Sufi tadi. Ia ingin membimbing umat. Tentu saja itu niat yang baik. Namun, cara yang ia tempuh tidak baik yaitu dengan menyampaikan hadis yang tidak jelas statusnya. Maka, bagaimana bisa itu diterima?

 

4. Kebanyakan kaum Sufi jauh dari ilmu hadis, sehingga akhirnya banyak di antara mereka yang menyampaikan hadis-hadis yang tidak jelas statusnya, bahkan jelas-jelas lemah atau palsu.

Imam Adz-Dzahabi menjelaskan tentang Ahmad bin ‘Atha Al-Hujaimi, tokoh Sufi tadi:

مَا كَانَ الرَّجُلُ يَدْرِي مَا الحَدِيْثُ، وَلَكِنَّهُ عَبْدٌ صَالِحٌ، وَقَعَ فِي القَدَرِ، نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ تُرَّهَاتِ الصَّوَفَةِ، فَلاَ خَيْرَ إِلاَّ فِي الاتِّبَاعِ، وَلاَ يُمْكِنُ الاتِّبَاعُ إِلاَّ بِمَعْرِفَةِ السُّنَنِ.

“Orang ini tidak tahu apa itu hadis. Namun, ia orang saleh yang terjatuh dalam pemikiran Qadariyyah. Kita berlindung kepada Allah dari kebatilan kaum Sufi. Maka, tidak ada kebaikan kecuali dengan mengikuti Nabi. Dan tidak mungkin mengikuti Nabi kecuali dengan mengenal sunah-sunahnya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

 

Siberut, 24 Shafar 1446
Abu Yahya Adiya