Ketika Harus Melewati Tempat Angker

Kalau kita melewati tempat yang angker, sunyi, dan sepi, apa yang harus kita lakukan?

Dan kalau kita singgah di suatu tempat yang mengerikan, apa yang akan kita ucapkan?

Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا نَزَلَ أَحَدُكُمْ مَنْزِلًا، فَلْيَقُلْ:

“Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu berdoa:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan perkataan Allah yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Dia ciptakan).”

فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْه

Maka sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan dirinya sampai ia meninggalkan tempat tersebut.” (HR. Muslim)

 

Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadits ini:

 

  1. Memohon perlindungan adalah ibadah.

Sebab, itu telah Nabi ﷺ perintahkan. Sedangkan, apa yang diperintahkan Nabi ﷺ pasti dicintai Allah. Sementara apa yang dicintai Allah adalah ibadah.

Syekhul Islam berkata:

الْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة

“Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang Allah cintai dan Allah ridai baik berupa perkataan maupun perbuatan yang tersembunyi maupun yang nampak.” (Al-‘Ubudiyyah)

 

  1. Memohon perlindungan yang diperbolehkan hanyalah kepada Allah, dengan nama-nama-Nya atau sifat-sifat-Nya.

Karena itu, siapa yang memohon perlindungan kepada selain Allah, maka ia telah menyekutukan Allah.

 

  1. Perkataan Allah adalah sifat Allah, bukan ciptaan Allah (makhluk).

Sebab, kalau perkataan Allah adalah makhluk, tentu Nabi ﷺ tak akan menyuruh kita untuk berlindung pada perkataan Allah dalam doa tadi. Karena, berlindung kepada makhluk adalah syirik.

Syekhul Islam berkata:

وَلِهَذَا احْتَجَّ السَّلَفُ – كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ – عَلَى أَنَّ كَلَامَ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ فِيمَا احْتَجُّوا بِهِ بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ{أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ} قَالُوا:

“Karena itu, para ulama terdahulu seperti Ahmad, dan selainnya berargumen bahwa perkataan Allah bukanlah makhluk di antaranya dengan sabda Nabi ﷺ: “Aku berlindung dengan perkataan Allah yang sempurna.” Mereka berkata:

فَقَدْ اسْتَعَاذَ بِهَا وَلَا يُسْتَعَاذُ بِمَخْلُوقِ

“Nabi telah berlindung dengan perkataan Allah, sedangkan makhluk tidak boleh dimintai perlindungan.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Ibnul Qayyim berkata:

واحتج أهل السنة على المعتزلة في أن كلمات الله غير مخلوقة بأن النبي صلى الله عليه وسلم استعاذ بقوله:

“Ahlussunnah membantah Muktazilah bahwa perkataan Allah bukanlah makhluk dengan alasan bahwa Nabi ﷺ berlindung dengan mengucapkan:

أعوذ بكلمات الله التامات ” رواه مسلم

“Aku berlindung dengan perkataan Allah yang sempurna.” (HR. Muslim)

وهو لا يستعيذ بمخلوق أبدا

Dan beliau tidak mungkin berlindung kepada makhluk.” (Badai’ul Fawaid)

Perkataan Allah adalah sifat Allah, bukan ciptaan Allah (makhluk).

Sedangkan sifat Allah tidak mungkin memiliki kekurangan dan kelemahan. Sebagaimana Zat-Nya tidak memiliki kekurangan dan kelemahan, maka begitu pula sifat-Nya, tidak memiliki kekurangan dan kelemahan.

Berbeda halnya dengan ciptaan Allah. Sebaik apapun itu, pasti memiliki kekurangan dan kelemahan.

Makanya kalau kita menyatakan bahwa perkataan Allah adalah ciptaan Allah, berarti konsekuensinya ada saja kekurangan dan kelemahan dalam perkataan Allah.  Dan kalau seseorang sampai berani menyatakan bahwa ada kekurangan dan kelemahan dalam perkataan Allah, berarti ia sudah berani melecehkan Allah.

Makanya wajarlah jika para ulama terdahulu membantah dengan keras orang yang meyakini seperti itu.

Imam An-Nawawi berkata:

هذا مذهبنا وبه قال الإمام الشافعي رضي الله عنه على ما نقل عنه أنه قال:

“Inilah pendapat kami dan itu pula pendapat Imam Asy-Syafi’i-semoga Allah meridainya-sebagaimana yang ternukil darinya bahwa beliau berkata:

من قال لفظي بالقرآن مخلوق فهو كافر.

“Siapa yang berkata bahwa lafalku dalam membaca Al-Quran adalah makhluk, maka ia telah kafir.” (Juzu Fiihi Dzikri I’tiqad As-Salaf Fi Al-Huruf wa Al-Ashwath)

Imam Ibnu Khuzaimah berkata:

القرآن كلام الله، ومن قال إنه مخلوق فهو كافر يستتاب فإن تاب وإلا قتل ولا يدفن في مقابر المسلمين.

“Al-Qur’an adalah perkataan Allah. Siapa yang berkata bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (ciptaan Allah), maka ia telah kafir. Ia diminta taubat. Kalau tidak mau, maka ia dihukum mati dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Maka, Ahlussunah wal Jama’ah menyatakan dengan tegas bahwa Al-Quran adalah kalamullah bukan makhluk. Al-Quran adalah perkataan Allah bukan ciptaan Allah.

 

  1. Keutamaan doa tadi walaupun ringkas.

Apa manfaat doa tadi kalau kita ucapkan?

Kata Nabi ﷺ:

فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْه

“Maka sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan dirinya sampai ia meninggalkan tempat tersebut.” (HR. Muslim)

Itulah yang seharusnya kita lakukan dan kita ucapkan ketika singgah atau melewati tempat yang angker, sunyi, dan sepi.

Bukan dengan mengucapkan: “Permisi.”

Bukan pula dengan mengucapkan “Tolong jangan ganggu kami.”

Apalagi kalau sampai memberikan sesajen atau menyembelih hewan tertentu supaya tidak diganggu!

Itu semua tidak akan membuat kita selamat, malah mencelakakan kita di dunia dan akhirat!

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa: 48)

Siberut, 20 Syawwal 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Al-‘Ubudiyyah karya Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah.
  3. Badai’ul Fawaid karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.
  4. Juz’u Fiihi Dzikri I’tiqad As-Salaf Fi Al-Huruf wa Al-Ashwath karya Imam An-Nawawi.
  5. Majmu’ Al-Fatawa karya Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah.
  6. Mausu’ah Mawaqif As-Salaf Fii Al-‘Aqidah wa Al-Manhaj wa At-Tarbiyah karya Syekh Muhammad Al-Maghrawi.