“Aku melepaskan pendapat Muktazilah, sebagaimana aku melepaskan bajuku ini!”
Itulah yang diucapkan oleh Imam Abul Hasan Al-Asy’ari suatu hari di hadapan khalayak ramai ketika berdiri di masjid hari Jumat.
Beliau mengumumkan sikap berlepas diri dari pendapat Muktazilah. Beliau mengucapkan perkataan tadi sambil melepaskan baju yang beliau kenakan.
Lalu, apa yang terjadi pada beliau setelah itu?
Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:
لكنه صار إلى مذهب الكلابية: أتباع عبد الله بن سعيد بن كلاب.
“Namun, setelahnya ia mengikuti pendapat Kullabiyyah, yaitu pengikut ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab.” (Lamhah ‘An Al-Firaq)
Itulah yang terjadi pada Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Namun, setelahnya Allah memberikan karunia yang sangat berharga kepada beliau.
Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:
ثم إن الله من على أبي الحسن الأشعري, وترك مذهب الكلابية, ورجع إلى مذهب الإمام أحمد بن حنبل, وقال:
“Kemudian, Allah memberi karunia kepada Abul Hasan Al-Asy’ari dan ia meninggalkan pendapat Kullabiyyah dan rujuk kepada pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan berkata:
“أنا أقول بما يقول به إمام أهل السنة والجماعة أحمد بن حنبل: أن الله استوى على العرش, وأن له يدا, وأن له وجها”
“Aku berpendapat sebagaimana pendapat Imam Ahlussunnah wal Jama’ah, Ahmad bin Hanbal bahwa Allah tinggi di atas Arsy dan bahwa Dia memiliki tangan dan wajah.”
ذكر هذا في كتابه: “الإبانة عن أصول الديانة”, وذكر هذا في كتابه الثاني: “مقالات الإسلاميين واختلاف المصلين” ذكر أنه على مذهب الإمام أحمد بن حنبل وإن بقيت عنده بعض المخالفات..
Ini ia sebutkan dalam kitabnya, Al-Ibanah ‘An Ushul Ad-Diyanah. Dan menyebutkan ini juga dalam kitabnya yang kedua, yaitu Maqalaat Islamiyyin wa Ikhtilaaf Al-Mushalliin. Ia menyebutkan bahwa dirinya di atas pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, walaupun tersisa pada dirinya sebagian kesalahan.
ولكن أتباعه بقوا على مذهب الكلابية
Namun, para pengikutnya tetap dalam pendapat Kullaabiyyah.” (Lamhah ‘An Al-Firaq)
Ya, sayangnya, para pengikutnya yakni sekte Asy’ariyyah tetap mengikuti pendapat Kullabiyyah. Namun, apakah itu dalam semua masalah?
Tidak!
Imam Adz-Dzahabi menyebutkan biografi dua tokoh sekte Kullabiyyah, ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab dan Al-Harits Al-Muhasibi:
وَصَنَّفَ فِي التَّوحِيدِ، وَإِثْبَاتِ الصِّفَاتِ، وَأَنَّ عُلُوَّ البَارِي عَلَى خَلقِه مَعْلُومٌ بِالفِطرَةِ وَالعَقلِ عَلَى وَفقِ النَّصِّ، وَكَذَلِكَ قَالَ المُحَاسِبِيُّ فِي كِتَابِ (فَهْمِ القُرْآنِ)
“Ia (‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab) menulis tentang tauhid, penetapan sifat-sifat Allah dan bahwa ketinggian-Nya di atas seluruh makhluk-Nya adalah perkara yang telah diketahui lewat fitrah dan akal, sesuai dengan nas. Demikian pula pendapat Al-Muhasibi dalam kitab Fahm Al-Quran.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Syekh Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-Khumais berkata:
وكان ابن كلاب والمحاسبي يثبتون لله صفة العلو والاستواء على العرش, كما يثبتون الصفات الخبرية كالوجه واليدين وغيرهما.
“Ibnu Kullab dan Al-Muhasibi menetapkan bagi Allah sifat tinggi di atas Arsy, sebagaimana mereka menetapkan sifat khabariyyah bagi Allah yaitu seperti wajah, kedua tangan, dan selain itu.” (Hiwar Ma Asy’ari)
Artinya, Kullabiyyah meyakini bahwa Allah tinggi di atas Arsy. Dan sekte Asy’ariyyah banyak mengambil pendapat sekte Kullabiyyah. Namun, kenapa dalam masalah ketinggian Allah, mereka tidak sependapat?
Bukankah itu aneh dan mengherankan?
Syekh Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-Khumais berkata:
فكيف بمتأخري الأشاعرة الذين يؤولون ذلك كله, ويوافقون المعتزلة والجهمية في كثير من أقوالهم, مخالفين بذلك أئمة السلف من أهل السنة بل مخالفين سلفهم ابن كلاب وأصحابه
“Maka, bagaimana bisa orang-orang belakangan dari sekte Asy’ariyyah yang menakwilkan semua sifat itu dan menyamai Muktazilah dan Jahmiyyah dalam banyak pendapat mereka, bagaimana bisa mereka bertentangan dengan para ulama salaf Ahlussunnah, bahkan mereka bertentangan dengan pendahulu mereka yaitu Ibnu Kullab dan teman-temannya?!” (Hiwar Ma Asy’ari)
Siberut, 30 Muharram 1444
Abu Yahya Adiya






