Dua Kelompok dalam Sekte Asy’ariyyah

Dua Kelompok dalam Sekte Asy’ariyyah

Banyak yang mengira bahwa tidak ada perselisihan pada sekte Asy’ariyyah dalam masalah akidah.

Padahal, kalau kita mau menyimak lebih banyak lagi perkataan tokoh-tokoh mereka, niscaya kita akan mendapati adanya perselisihan sesama mereka.

Dr ‘Abdurrahman Dimasyqiyyah berkata:

فالأشاعرة فرقتان: أشاعرة مؤولة وأشاعرة مفوضة.

“Asy’ariyyah terdiri dari dua kelompok: Asy’ariyyah yang menakwilkan sifat-sifat Allah dan Asy’ariyyah yang menyerahkan pengetahuan tentang makna sifat-sifat Allah kepada-Nya.

والماتريدية فرقتان: ماتريدية مؤولة وماتريدية مفوضة.

Maturidiyyah juga terdiri dari dua kelompok: Maturidiyyah yang menakwilkan sifat-sifat Allah dan Maturidiyyah yang menyerahkan pengetahuan tentang makna sifat-sifat Allah kepada-Nya.

فهم في الحقيقة أربع فرق لا فرقتان.

Mereka sebenarnya ada 4 kelompok, bukan cuma dua kelompok.” (Mauqif Ibn Hazm Min Al-Madzhab Al-Asy’ari)

Kalau begitu, sekte Asy’ariyyah sebenarnya terpecah menjadi dua, yakni:

-Kelompok Asy’ariyyah muawwilah (yang menakwilkan sifat-sifat Allah).

-Kelompok Asy’ariyyah mufawwidhah (yang menyerahkan pengetahuan tentang makna sifat-sifat Allah kepada-Nya).

Al-Juwaini, seorang tokoh Asy’ariyyah yang terkenal berkata:

والذي نرتضيه رأياً، وندين الله به عقلاً….ترك التعرض لمعانيها ودرك ما فيها

“Pendapat yang kami ridai dan kami beribadah kepada Allah dengannya secara akal….yaitu tidak menyinggung makna sifat-sifat Allah dan tidak berusaha mengetahui apa yang ada di dalamnya.” (An-Nizhamiyyah)

Apa arti tidak menyinggung makna sifat-sifat Allah dan tidak berusaha mengetahui apa yang ada di dalamnya?

Maksudnya makna sifat-sifat Allah itu tidak diketahui. Karena itu, pengetahuan tentang maknanya diserahkan kepada Allah.

Kalau demikian, Al-Juwaini termasuk Asy’ariyyah mufawwidhah (yang menyerahkan pengetahuan tentang makna sifat-sifat Allah kepada-Nya).

Sedangkan Ibnu Faurak, seorang tokoh  Asy’ariyyah yang terkenal lainnya berkata:

فَعلم أَنه مِمَّا لَا يمْتَنع الْوُقُوف على مَعْنَاهُ ومغزاه وَأَن لَا معنى لقَوْل من قَالَ إِن ذَلِك مِمَّا لَا يفهم مَعْنَاهُ أذ لَو كَانَ كَذَلِك لَكَانَ خطابه خلوا من الْفَائِدَة وَكَلَامه معنى عَن مُرَاد صَحِيح وَذَلِكَ مِمَّا لَا يَلِيق بِهِ ﷺ

“Maka diketahui bahwa tidak mustahil mengetahui makna dan maksud sifat Allah, dan bahwasanya tidak ada manfaatnya pendapat orang yang mengatakan bahwa itu termasuk perkara yang tidak dipahami maknanya. Sebab, kalau memang demikian, maka perkataan Nabi ﷺ kosong dari faidah dan kosong dari maksud yang benar. Dan itu termasuk perkara yang tidak pantas bagi Nabi ﷺ.” (Musykil Al-Hadits wa Bayaanuh)

Apa maksud perkataan ini?

Ibnu Faurak termasuk Asy’ariyyah muawwilah (yang menakwilkan sifat-sifat Allah). Dan ia menyebutkan perkataan tadi dalam rangka membantah orang-orang yang mengklaim bahwa makna sifat-sifat Allah yang ada dalam hadis itu tidak bisa dipahami.

Kalau demikian….

Dr ‘Abdurrahman Dimasyqiyyah berkata:

الأشاعرة المؤولة يردون على الأشاعرة المفوضة

“Asy’ariyyah muawwilah (yang menakwilkan sifat-sifat Allah) membantah Asy’ariyyah mufawwidhah (yang menyerahkan pengetahuan tentang makna sifat-sifat Allah kepada-Nya).” (Mauqif Ibn Hazm Min Al-Madzhab Al-Asy’ari)

Walaupun sekte Asy’ariyyah terlihat seia sekata, sebenarnya terjadi perselisihan pada mereka.

Dr ‘Abdurrahman Dimasyqiyyah berkata:

وكل فريق منهم ينكر على الآخر ويتهمه بتجاهل معاني كلام الله، بل ونسبة الجهل وما لا يليق إلى النبي صلى الله عليه وسلم.

“Masing-masing kelompok itu mengingkari kelompok yang lain, dan menuduh mereka seakan-akan tidak tahu tentang makna perkataan Allah, bahkan menuduh mereka telah menyandarkan kebodohan dan apa yang tidak layak kepada Nabi ﷺ.” (Mauqif Ibn Hazm Min Al-Madzhab Al-Asy’ari)

Itu sekte Asy’ariyyah. Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah, maka tidak ada perselisihan di antara mereka dalam masalah sifat-sifat Allah.

Mereka menerima dan mengimani semua sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadis sahih, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Mereka tidak menolak sifat-sifat-Nya, tidak menyelewengkan maknanya, tidak menentukan hakekatnya, dan tidak menyerupakannya dengan sifat makhluk-Nya.

Mereka menerima sifat-sifat-Nya beserta maknanya. Adapun hakekat dari sifat-Nya, maka mereka menyerahkan pengetahuan tentang itu kepada-Nya.

Ya, yang mereka serahkan kepada Allah adalah hakekat dari sifat-Nya, bukan makna dari sifat-Nya!

 

Siberut, 8 Rabi’ul Awwal 1444

Abu Yahya Adiya