Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa Allah akan dilihat di surga nanti. Dan sekte Asy’ariyyah pun meyakni bahwa Allah akan dilihat di surga nanti.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ
“Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian, sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ahlussunnah wal Jama’ah dan sekte Asy’ariyyah sepakat dalam hal itu. Namun, dalam masalah di mana Allah, mereka berbeda pendapat.
Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa Allah ada di atas langit, yaitu di atas Arsy-Nya.
Imam Ash-Shabuni berkata:
وعلماء الأمة وأعيان الأئمة من السلف رحمهم الله لم يختلفوا في أن الله تعالى على عرشه، وعرشه فوق سماواته
“Para ulama umat dan para imam terdahulu tidak berbeda pendapat bahwa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya di atas langit-Nya.” (‘Aqidah As-Salaf wa Ashhaab Al-Hadits)
Sedangkan sekte Asy’ariyyah berpendapat bahwa Allah tidak di atas, dan tidak di bawah. Dia tidak di luar alam, dan tidak pula di dalam alam!
Mereka berkata, “Kalau Allah ada di atas, berarti Allah ada di arah tertentu. Dan Allah tidak mungkin ada pada arah tertentu. Itu mustahil terjadi pada Allah!”
Namun anehnya, mereka berpendapat bahwa Allah bisa dilihat di surga nanti!
Yang menjadi pertanyaan yakni apakah bisa melihat sesuatu tanpa ada arah?
Kalau memang Allah bisa dilihat di surga nanti, bukankah itu menunjukkan bahwa Allah ada pada arah tertentu?
Kalau kita mau memerhatikan pendapat mereka itu dengan lebih jeli, tentu kita akan menemukan keganjilan dan kontradiksi.
Makanya dikatakan kepada mereka:
من أنكر الْجِهَة وَأثبت الرُّؤْيَة فقد أضْحك النَّاس على عقله!
“Siapa yang mengingkari arah bagi Allah, tapi menetapkan ru’yah (bisa dilihat), maka ia telah membuat orang-orang menertawakan akalnya!” (Manhaj Al-Asya’irah fi Al-Aqidah)
Catatan
Pendapat tadi (Allah tidak di atas dan tidak di bawah. Tidak di luar alam dan tidak di dalam alam) adalah pendapat yang muncul dari sekte Asy’ariyyah belakangan. Adapun orang-orang terdahulu di antara mereka, maka mereka tidak berpendapat demikian.
Dan memang, penyelisihan sekte Asy’ariyyah belakangan terhadap sekte Asy’ariyyah terdahulu sudah terkenal.
Sebagai contoh, tokoh Asy’ariyyah terdahulu yaitu Al-Qadhi Al-Baqilani (wafat 403 H) berkata dalam masalah tadi:
إن قال قائل:
“Jika ada yang berkata:
فهل تقولون: إن الله في كل مكان؟
“Apakah kalian berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana?”
قيل:
Maka dijawab:
معاذ الله، بل هو مستوٍ على العرش، كما أخبر في كتابه
“Kita berlindung kepada Allah. Bahkan, Dia tinggi di atas Arsy. Sebagaimana yang Dia kabarkan dalam kitab-Nya.
فقال عزّ وجل:
Dia berfirman:
الرحمن على العرش استوى
“Yang Maha Pengasih, yang tinggi di atas Arsy.”
وقال تعالى:
Dan Dia berfirman:
إليه يصعد الكلم الطيب:
“Kepada-Nya lah akan naik perkataan-perkataan yang baik.”
وقال
Dan Dia berfirman:
أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض
“Sudah merasa amankah kalian, bahwa Dia yang di atas langit tidak akan membuat kalian ditelan bumi?” (At-Tamhid)
Ternyata Al-Qadhi Al-Baqilani menetapkan keberadaan Allah di atas langit, yaitu di atas Arsy-Nya. Berbeda dengan keyakinan sekte Asy’ariyyah belakangan yang berpendapat bahwa Allah tidak di atas, dan tidak di bawah. Dia tidak di luar alam, dan tidak pula di dalam alam!
Kalau mereka mengklaim keyakinan itu dari diri mereka sendiri, maka itu masih ‘ringan’. Namun yang jadi masalah, mereka mengklaim keyakinan mereka itu bersumber dari orang yang mereka puja yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari. Padahal….
Abul ‘Abbas Ahmad bin Tsabit At-Tharqi Al-Hafizh penulis kitab Al-Lawami’ Fii Al-Jam’i Baina Ash-Shihah wa Al-Jawami’ (wafat tahun 521) berkata tentang masalah istiwa (ketinggian Allah di atas Arsy):
ورأيت هؤلاء الجهمية ينتمون في نفي العرش وتعطيل الاستواء إلى أبي الحسن الأشعري، وما هذا بأول باطل ادعوه، وكذب تعاطوه
“Aku melihat orang-orang Jahmiyyah itu dalam meniadakan Arsy dan menolak ketinggian Allah di atas Arsy, mereka menyandarkan itu kepada Abul Hasan Al-Asy’ari. Ini bukan kebatilan pertama yang mereka klaim dan bukan pula dusta pertama yang mereka lakukan.” (Bayan Talbiis Al-Jahmiyyah)
Ya, klaim mereka itu batil dan dusta atas nama Imam Abul Hasan Al-Asy’ari!
Mengapa demikian?
Karena, Imam Abul Hasan Al-Asy’ari tidak sependapat dengan mereka dan menentang mereka. Beliau berkata:
جملة ما عليه أهل الحديث والسنة الإقرار بالله وملائكته وكتبه ورسله وما جاء من عند الله…وأن الله سبحانه على عرشه كما قال:
“Kesimpulan dari keyakinan Ahli Hadis dan Sunnah yaitu membenarkan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan segala yang datang dari sisi Allah…dan bahwasanya Allah di atas Arsy-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
الرحمن على العرش استوى
“Yang Maha Pengasih, yang tinggi di atas Arsy.” (Maqalaat Al-Islaamiyyin wa Ikhtilaf Al-Mushalliin)
Siberut, 23 Muharram 1444
Abu Yahya Adiya






