Memukul dengan 1 gaya pukulan yang dilatih ratusan kali, itu lebih menakutkan dibandingkan memukul dengan puluhan gaya tapi tidak sering dilatih.
Konon itu merupakan pernyataan yang diucapkan seorang ahli bela diri terkenal.
1 pukulan kalau ditekuni dan dilatih terus-menerus akan menghasilkan pukulan yang dahsyat. Sebaliknya, berbagai pukulan kalau tidak ditekuni dan tidak dilatih, itu tidak akan menghasilkan pukulan yang dahsyat.
Apakah itu hanya berlaku bagi pukulan?
Tidak. Segala sesuatu kalau ditekuni dan dilatih terus-menerus akan membuahkan hasil yang dahsyat.
Bisnis pun Butuh Ketekunan
Kalau seseorang menjalankan satu bidang bisnis, dan ia benar-benar menekuninya, tentu berbeda hasilnya dengan orang yang menjalankan berbagai bidang bisnis tapi tidak menekuninya.
Orang yang menjalankan bisnis jual beli barang bekas -contohnya-, kalau sebulan dua bulan mungkin ia belum dikenal. Setahun-dua tahun mungkin ia belum dikenal.
Namun, kalau sudah bertahun-tahun lamanya dan ia pun tekun mempromosikannya, tentu ia akan dikenal oleh orang lain sebagai pebisnis jual beli barang bekas. Akhirnya? Kalau ada orang yang menjual dan membeli barang bekas, maka yang terlintas di pikirannya adalah orang itu. mengapa begitu? Karena ia sudah punya brand (merek).
Berbeda halnya dengan orang yang kadang jual ini dan kadang jual itu. berubah-rubah dan tidak konsisten, maka produk apa yang akan dikenal orang lain dari dirinya?
Meraup Ilmu pun Butuh Ketekunan
Kalau tadi adalah bisnis, maka begitu pula ilmu.
Kalau seorang menekuni satu ilmu dan mengulang-ulangnya itu. maka itu lebih bermanfaat daripada mempelajari berbagai ilmu tapi tidak menekuninya dan mengulang-ulangnya.
Mungkin itulah alasannya kenapa para ulama sampai mengulang-ulang satu buku atau pelajaran sampai puluhan bahkan ratusan kali.
Al-Muzani mengulang-ulang kitab Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi’i sampai 500 kali.
Abu Ishaq Asy-Syairazi mengulang setiap kiyas sampai 1000 kali.
Sebagian penuntut ilmu di majelis para ulama di Yaman ada yang mengulang satu ayat sampai 100 kali.
Kenapa harus berulang-ulang?
Karena ilmu itu bisa kokoh dengan pengulangan dan ketekunan.
Berdakwah pun Butuh Ketekunan
Kalau tadi dalam hal mencari ilmu, maka begitu pula dalam hal dakwah.
Tatkala seseorang menjalankan 1 program dakwah, dan menekuninya, tentu hasilnya berbeda dengan orang yang menjalakan berbagai program dakwah tapi tidak menekuninya.
Orang yang konsisten mengajar dan menekuninya, ia akan mahir, dan handal dalam mengajar.
Orang yang konsisten mengurus sekolah, dan menekuninya, ia akan mahir dan handal dalam mengurus sekolah.
Namun, kalau seseorang ingin mengajar, dan menulis buku, plus mengurus sekolah dan juga safari dakwah, dan sekaligus mengurus berbagai proyek dakwah, maka apa yang akan diharapkan?
‘Berantakan’lah hasilnya. Tak ada satu pun programnya yang akan memberikan hasil yang memuaskan. Ia tidak akan serius, dan tidak akan becus mengurus semua program itu.
Seorang yang tidak serius dan tidak becus menjalankan suatu bidang, tidak akan sukses dalam bidang itu.
Kalau seseorang mau konsisten, tekun, dan bersabar, tentu ia akan merasakan manisnya buah perjuangannya itu dengan izin Allah. Cuma sayangnya…
Nafsu yang terlalu besar pada seseorang membuatnya tergesa-gesa, tidak tekun dan tidak bersabar. Dan itu adalah tanda ketidakikhlasannya dalam berdakwah.
Ia tidak mau dianggap cuma mengajar itu itu saja. Ia tidak ingin dipandang hanya punya program dakwah itu itu saja.
Lisanul hal (keadaan) diri nya mengatakan:
“Lihatlah, saya sudah mengajar kitab ini dan itu!”
“Lihatlah, saya punya program dakwah ini dan itu!”
“Lihatlah, saya sudah membina sekolah ini dan itu!”
Maka konsistenlah, tekunlah dan bersabarlah, lalu bergembiralah. Engkau akan memetik buah jerih payahmu dengan izin Allah.
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah suka jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia menekuninya.” (HR. Al-Baihaqi)
Siberut, 23 Rabi’ul Awwal 1442
Abu Yahya Adiya






