Pengikut Jahm bin Shafwan VS Pengikut Abul Hasan

Pengikut Jahm bin Shafwan VS Pengikut Abul Hasan

“Bagaimana kita mengenal Tuhan kita?”

Itulah pertanyaan yang diajukan kepada Imam ‘Abdullah bin Al-Mubarak (wafat tahun 181 H):

Maka beliau pun menjawab:

عَلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ، وَلَا نَقُولُ كَمَا تَقُولُ الْجَهْمِيَّةُ

“Dia di atas langit ketujuh, yakni di atas Arsy-Nya. Dan  kita tidak berpendapat seperti pendapat Jahmiyyyah.” (As-Sunnah)

Kenapa beliau tidak sependapat dengan Jahmiyyah?

Karena, Jahmiyyah telah menolak ketinggian Allah di atas Arsy-Nya. Padahal, Allah telah berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى

“Tuhan Yang Maha Pengasih, yang istawa Arsy.” (QS. Thahaa: 5)

Dan makna istawa yaitu:

الْعُلُوّ والارتفاع

“Tinggi di atas.” (Al-‘Aqidah Riwayah Abi Bakr Al-Khollal)

Artinya, makna ayat tadi yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih tinggi di atas Arsy. Jelas dan gamblang menunjukkan bahwa Allah Maha Tinggi di atas Arsy. Namun, apa sikap Jahmiyyah menghadapi ayat tersebut?

Imam Ibnu Khuzaimah (wafat tahun 311 H) berkata:

فَنَحْنُ نُؤْمِنُ بِخَبَرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ خَالِقَنَا مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ، لَا نُبَدِّلُ كَلَامَ اللَّهِ، وَلَا نَقُولُ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَنَا، كَمَا قَالَتِ الْمُعَطِّلَةُ الْجَهْمِيَّةُ:

“Kita mengimani kabar dari Allah bahwa Pencipta kita di atas Arsy-Nya. Kita tidak akan mengganti perkataan Allah dan tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak dikatakan kepada kita. Sebagaimana para penolak sifat yaitu Jahmiyyah berkata:

إِنَّهُ اسْتَوْلَى عَلَى عَرْشِهِ، لَا اسْتَوَى

“Sesungguhnya Allah menguasai Arsy, bukan di atas Arsy!” (At-Tauhid)

Kaum Jahmiyyah menolak ketinggian Allah di atas Arsy, karena itu mereka membelokkan makna istawa (tinggi di atas) dalam ayat tadi menjadi istawla (menguasai). Mereka tambahkan huruf lam sehingga makna ayat tadi berubah menjadi: “Tuhan Yang Maha Pengasih, yang menguasai Arsy.”

Seperti perbuatan siapakah perbuatan mereka itu?

Imam Ibnu Khuzaimah berkata:

فَبَدَّلُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ، كَفِعْلِ الْيَهُودِ كَمَا أُمِرُوا أَنْ يَقُولُوا: حِطَّةٌ، فَقَالُوا: حِنْطَةٌ، مُخَالِفِينَ لِأَمْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا كَذَلِكَ الْجَهْمِيَّةُ

“Mereka telah mengganti firman-Nya dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka. Itu serupa dengan perbuatan kaum Yahudi. Mereka diperintahkan untuk mengucapkan hiththah (berilah kami ampun), tetapi mereka malah mengucapkan hinthah (berilah kami gandum), untuk menyalahi perintah Allah. Maka begitu pula dengan kaum Jahmiyyah!” (At-Tauhid)

Tatkala Bani Israel disuruh masuk ke Baitul Maqdis, Allah menyuruh mereka memasukinya sambil mengucapkan hiththah (berilah kami ampun), tetapi mereka malah menambahkan huruf nun sehingga yang terucap adalah  hinthah (berilah kami gandum).

Sikap yang tidak beradab. Maka begitu pula kaum Jahmiyyah. Bahkan, mereka lebih buruk dari Yahudi dalam hal ini.

Imam Sa’id bin ‘Amir (wafat tahun 208 H) berkata:

الْجَهْمِيَّةُ أَشَرُّ قَوْلًا مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، قَدِ اجْتَمَعَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، وَأَهْلُ الْأَدْيَانِ أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى الْعَرْشِ، وَقَالُوا هُمْ: لَيْسَ عَلَى الْعَرْشِ شَيْءٌ

“Pendapat Jahmiyyah lebih buruk daripada pendapat kaum Yahudi dan Nashrani. Kaum Yahudi dan Nashrani serta pemeluk agama lainnya telah sepakat bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala di atas Arsy, sedangkan Jahmiyyah berpendapat bahwa tidak ada di atas Arsy sesuatu pun.” (Khalqu Af’aal Al-‘Ibaad)

Itulah pendapat Jahmiyyah. Itulah pendapat pengikut Jahm bin Shafwan. Bukan pendapat Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (wafat tahun 324 H). Sebab, Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri berkata:

جملة ما عليه أهل الحديث والسنة الإقرار بالله وملائكته وكتبه ورسله وما جاء من عند الله…وأن الله سبحانه على عرشه كما قال:

“Kesimpulan dari keyakinan Ahli Hadis dan Sunnah yaitu membenarkan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan segala yang datang dari sisi Allah…dan bahwasanya Allah di atas Arsy-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

الرحمن على العرش استوى

“Yang Maha Pengasih, yang tinggi di atas Arsy.” (Maqalaat Al-Islaamiyyin wa Ikhtilaf Al-Mushalliin)

Karena itu, orang-orang yang meyakini bahwa Allah di atas Arsy adalah pengikut Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Sedangkan orang-orang yang tidak meyakini bahwa Allah di atas Arsy adalah pengikut Jahm bin Shafwan, walaupun mereka mengaku mengikuti Imam Abul Hasan Al-Asy’ari!

Abul ‘Abbas Ahmad bin Tsabit At-Tharqi Al-Hafizh (wafat tahun 521 H) penulis kitab Al-Lawami’ Fii Al-Jam’i Baina Ash-Shihah wa Al-Jawami’ berkata tentang masalah istiwa (ketinggian Allah di atas Arsy):

ورأيت هؤلاء الجهمية ينتمون في نفي العرش وتعطيل الاستواء إلى أبي الحسن الأشعري، وما هذا بأول باطل ادعوه، وكذب تعاطوه

“Aku melihat orang-orang Jahmiyyah itu dalam meniadakan Arsy dan menolak ketinggian Allah di atas Arsy, mereka menyandarkan itu kepada Abul Hasan Al-Asy’ari. Ini bukan kebatilan pertama yang mereka klaim dan bukan pula dusta pertama yang mereka lakukan.” (Bayan Talbiis Al-Jahmiyyah)

Ya, klaim mereka itu batil dan dusta atas nama Imam Abul Hasan Al-Asy’ari!

Karena, Imam Abul Hasan Al-Asy’ari tidak sependapat dengan mereka!

 

Siberut, 19 Sya’ban 1444

Abu Yahya Adiya