Mahalnya Aset Kita

Mahalnya Aset Kita

Galau dan risau. Terasa sempit rezekinya. Dan terasa susah hidupnya. Ia pun mendatangi Imam Yunus bin ‘Ubaid. Ulama besar di masanya. Ia tumpahkan segala keluh kesahnya di hadapannya.

Maka Imam Yunus bin ‘Ubaid berkata kepadanya:

أيسرك ببصرك مئة ألف؟

“Apakah engkau mau kalau penglihatanmu diganti dengan uang 100 ribu?”

Ia menjawab:

لا

“Tidak mau.”

100 ribu apa yang dimaksud Imam Yunus?

Apakah 100 ribu dirham  (mata uang perak) atau 100 ribu dinar (mata uang emas)?

Kalau maksudnya 100 ribu dirham…

1 dirham sama dengan 2,975 gram perak atau dibulatkan menjadi 3 gram perak.

Berarti, 100 ribu dirham sama dengan 300 ribu gram perak.

Kalau 1 gram perak sama dengan 10.000 rupiah, berarti 100 ribu dirham seharga dengan 3 milyar rupiah!

Tapi kalau maksud Imam Yunus dengan 100 ribu adalah 100 ribu dinar…

1 dinar sama dengan 4,25 gram emas. Berarti, 100 ribu dinar sama dengan 425 ribu gram emas.

Kalau 1 gram emas sama dengan 20.000 rupiah, berarti 100 ribu dinar seharga dengan 8 milyar 500 juta rupiah!

Lihatlah, kalau matanya ditawar seharga 3 milyar rupiah atau 8 milyar 500 juta rupiah, ia tetap tidak mau menjual matanya!

Imam Yunus bertanya lagi:

فبسمعك؟

“Bagaimana kalau pendengaranmu?”

Artinya, apakah engkau mau kalau pendengaranmu diganti dengan uang 100 ribu dinar atau dirham? Mau diganti dengan 3 milyar rupiah atau 8 milyar 500 juta rupiah?

Ia menjawab:

لا

“Tidak mau.”

Lalu Imam Yunus bertanya lagi:

فبلسانك؟

“Bagaimana kalau lisanmu?”

Ia menjawab lagi:

لا

“Tidak mau.”

Kemudian Imam Yunus kembali bertanya:

فبعقلك؟

“Bagaimana kalau akalmu?”

Ia kembali menjawab:

لا

“Tidak mau.”

Imam Yunus terus menyebutkan berbagai nikmat dari Allah yang telah ia rasakan lalu beliau berkata:

أرى لك مئين ألوفا وأنت تشكو الحاجة؟!

“Aku melihat engkau memiliki kekayaan ratusan ribu, tapi engkau masih saja mengeluhkan keadaanmu?!” (Siyar a’lam An-Nubala)

Itulah nasehat berharga dari ulama rabani kepada orang yang terhimpit beban duniawi.

Kita masih memiliki akal, mulut, mata, telinga, dan berbagai aset lainnya yang begitu berharga. Ya, begitu berharga.

Bukankah itu cukup untuk membuat kita bersyukur kepada Allah?

Bukankah itu cukup mengingatkan kita akan kebaikan dan kasih sayang Allah?

Ya, sebenarnya cukup. Tapi sayangnya…

Yang sering terjadi, kita justru mengeluhkan kesulitan hidup kita. Kita seringnya mengeluhkan banyaknya masalah kita.

“Duh, bagaimana ini, uang kita sedikit sedangkan kebutuhan kita banyak.”

“Duh, seandainya saja kaya dan tidak miskin seperti ini.”

“Duh, seandainya saja saya begini dan begitu, dan tidak begini dan begitu.”

Alangkah banyaknya nikmat dari Allah yang telah kita dapatkan.

Alangkah melimpahnya rezeki dari Allah yang kita rasakan.

Kenapa kita tidak mensyukurinya?

Kenapa kita selalu resah?

Kenapa kita selalu berkeluh kesah?

Coba kalau Allah butakan mata kita sekarang juga, lalu bagaimana kita akan melihat?

Coba kalau Allah tulikan telinga kita sekarang juga, lalu bagaimana kita akan mendengar?

Coba kalau Allah bisukan mulut kita sekarang juga, lalu bagaimana kita akan berbicara?

 

3 Tanda Menjadi Raja di Dunia

Nabi ﷺ bersabda:

“منْ أَصبح مِنكُمْ آمِناً في سِرْبِهِ، مُعَافَىً في جَسدِه، عِندهُ قُوتُ يَومِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحذافِيرِها”

“Siapa di antara kalian yang bangun di pagi hari dalam keadaan aman dan tenteram  hatinya, dan sehat tubuhnya, serta memiliki makanan pada hari itu, maka dunia dari segala penjuru telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmidzi)

Ya, siapa yang memiliki 3 unsur ini: keamanan, kesehatan, dan pangan, maka dunia sudah dalam genggamannya. Ia telah menjadi orang yang kaya. Ia sudah menjadi orang yang berada.

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata:

إذا ما كنت ذا قلب قنوع                                فأنت ومالك الدنيا سواء

“Kalau engkau memiliki hati qanaah, berarti engkau dengan raja di dunia adalah sama.”

Qanaah artinya rela dan merasa cukup terhadap rezeki yang telah Allah berikan.

Kalau sifat ini ada pada hatimu, maka kedudukanmu dengan para raja di dunia adalah sama. Ya, sama. Sama-sama kaya. Bahkan, bisa jadi engkau lebih kaya daripada mereka!

Ibrahim bin Adham berkata:

لَوْ عَلِمَ الْمُلُوكُ وَأَبْنَاءُ الْمُلُوكِ مَا نَحْنُ فِيهِ لَجَالَدُونَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ

“Seandainya para raja dan anak-anak mereka mengetahui kebahagiaan yang sedang kita rasakan, niscaya mereka berusaha merebut itu dari diri kita dengan pedang-pedang mereka!” (Hilyatul Auliya)

Maka, syukurilah aset yang ada pada dirimu, niscaya akan datang aset lain yang lebih banyak dan lebih berharga dari sisi Tuhanmu.

“Jika kalian bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepada kalian. Akan tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Siberut, 13 Dzulhijjah 1441

Abu Yahya Adiya