“Apa tanda kemunafikan?”
Itulah pertanyaan yang diajukan kepada seorang ulama. Maka ulama tersebut menjawab:
الذي إذا مدح بما ليس فيه ارتاح لذلك قلبه
“Yaitu jika seseorang dipuji dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, lalu hatinya merasa tenang karena demikian.” (Quut Al-Quluub)
Jawabannya itu sesuai dengan firman Allah:
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari siksa. Mereka akan mendapat siksa yang pedih.” (QS. Ali-‘Imran: 188)
Abu Sa’id Al-Khudri bercerita bahwa jika Nabi ﷺ pergi untuk berperang, beberapa orang munafik tidak ikut serta. Mereka pun merasa senang karena tidak turut berperang bersama Nabi ﷺ.
Ketika Nabi ﷺ datang dari medan perang, mereka pun menyampaikan berbagai alasan dengan bersumpah. Selain itu, mereka juga sangat senang dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan. Maka Allah pun menurunkan firman-Nya (QS. Ali-‘Imran: 188):
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari siksa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apa faidah yang bisa kita petik dari demikian?
Syekh Hamzah Muhammad Qasim berkata:
الوعيد الشديد لكل من يريد أن يمدحه الناس بما ليس فيه، وأنها صفة ذميمة من صفات المنافقين والمرائين في كل عصر ومصر
“Ancaman keras bagi setiap orang yang ingin dipuji orang lain dengan apa yang tidak ada pada dirinya dan bahwasanya itu sifat tercela serta termasuk sifat orang-orang munafik dan orang yang berbuat ria di setiap masa dan tempat.” (Manar Al-Qari Syarh Mukhtashar Shahih Al-Bukhari)
Karena itu….
Kalau ada yang menyatakan bahwa engkau rajin ibadah, padahal sebenarnya engkau tidak rajin ibadah, maka jangan sampai engkau merasa gembira dengan pujian tersebut.
Kalau ada yang menyatakan bahwa engkau dermawan, padahal sebenarnya engkau tidak dermawan, maka jangan sampai engkau merasa senang dengan pujian tersebut.
Kalau ada yang menyatakan bahwa engkau saleh, padahal sebenarnya engkau tidak saleh, maka jangan sampai engkau merasa tenang dengan pujian tersebut.
Itu tanda kemunafikan. Selain demikian….
Bisyr bin Al-Harits berkata:
سُكُونُ النَّفْسِ إِلَى الْمَدْحِ , وَقَبُولُ الْمَدْحِ لَهَا أَشَدُّ عَلَيْهَا مِنَ الْمَعَاصِي
“Merasa senang dengan pujian dan menerimanya itu lebih berbahaya bagi jiwa daripada maksiat.” (Hilyah Al-Aulia wa Thabaqah Al-Ashfiya)
Siberut, 16 Sya’ban 1445
Abu Yahya Adiya






