Menghiasi Kesesatan

Menghiasi Kesesatan

Demi melariskan kesesatan, para penyebar kesesatan ‘harus’ menghiasi kesesatan mereka dengan kata-kata yang indah dan memburukkan kebenaran dengan kata-kata yang buruk.

Lihatlah apa yang dilakukan oleh musyrikin Quraisy terhadap nabi kita ﷺ.

Untuk menolak dakwah beliau, mereka menggelari beliau ﷺ dengan sebutan “penyair”, “tukang sihir”, “dukun”, “gila” dan gelar buruk lainnya!

Lihatlah apa yang dilakukan oleh penjajah-penjajah kafir terhadap negara-negara Islam yang mereka jajah.

Untuk melegalkan tujuan rusak mereka, mereka menyebut tindakan mereka dengan nama استعمار “memakmurkan”, “memakmurkan bangsa yang tertinggal”, “menyelamatkan peradaban” dan ucapan-ucapan ‘indah’ lainnya.

Lihatlah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin mengeluarkan kaum wanita dari rumah mereka dan mengeksploitasi mereka.

Untuk mengesahkan aksi mereka, mereka menggelari diri mereka dengan gelar ‘indah’: “pejuang feminisme”, “pembela hak asasi wanita”, dan gelar ‘harum’ lainnya.

Lihatlah apa yang dilakukan oleh para pecinta seks bebas.

Untuk meresmikan nafsu mereka, mereka mendengungkan slogan “kebebasan”, “hak asasi manusia”, dan slogan ‘cantik’ lainnya.

Mereka mengganti kata “pelacuran” menjadi “prostitusi”, dan “pelacur” menjadi “kupu-kupu malam”, sehingga ‘enak’ didengar.

Itulah trik-trik orang-orang sesat untuk melariskan kesesatan mereka.

Maka jangan sampai engkau meniru mereka wahai Sufi!

Jangan sampai rukukmu dan sujudmu di hadapan gurumu engkau namakan dengan “penghormatan terhadap guru”!

Jangan sampai keanehan gurumu yang menyimpang, engkau katakan itu “karomah”!

Kalau ada yang mengingatkanmu dari sikap berlebihan terhadap gurumu, maka jangan engkau cap ia dengan “tidak memuliakan orang yang berilmu”!

Kalau ada yang menegur kesalahanmu dan memperingatkanmu dari sikap mengada-ada dalam agama, maka jangan engkau cap ia dengan “suka menyalah-nyalahkan dan merasa diri paling suci”!

‘Abdullah bin Mas’ud berkata:

ومن جاءك بالحق فاقبل منه وإن كان بعيدا بغيضا, ومن جاءك بالباطل فاردده عليه وإن كان حبيبا قريبا.

“Siapa yang datang kepadamu membawa kebenaran maka terimalah, walaupun itu datang dari orang yang jauh dan dibenci. Sedangkan siapa yang datang kepadamu membawa kebatilan, maka tolaklah, walaupun itu datang dari orang yang dekat lagi dicintai.” (Sifat Ash-Shofwah)

 

Siberut, 4 Shafar 1444

Abu Yahya Adiya