Lima hari sebelum wafat, Nabi ﷺ memberikan wasiat.
Nabi ﷺ bersabda:
أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
“Ingatlah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan nabi dan orang-orang saleh di antara mereka sebagai tempat ibadah. Ingatlah, jangan kalian jadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Sesungguhnya aku melarang kalian melakukan itu.” (HR. Muslim)
Inilah wasiat Nabi ﷺ. Namun sayangnya, wasiat ini banyak dilanggar sepeninggal beliau. Siapa yang pertama kali melanggarnya?
Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata:
وبسبب الرافضة حدث الشرك وعبادة القبور وهم أول من بنى عليها المساجد
“Dengan sebab Syiah Rafidhah terjadilah syirik dan penyembahan terhadap kubur. Dan merekalah yang pertama kali membangun masjid di atas kubur.” (Kitab At-Tauhid)
Ya, merekalah yang pertama kali membangun masjid di atas kubur. Merekalah yang pertama kali melanggar wasiat Nabi ﷺ tadi.
Syekh Muhammad Hamid Al-Faqi berkata:
فإن أول من فعل ذلك العبيديون الذين زعموا كذبا أنهم فاطميون.
“Sesungguhnya yang pertama kali melakukan demikian adalah Dinasti ‘Ubaidiyyah yang mengaku secara dusta bahwa mereka adalah keturunan Fathimah.
شيدوا للحسين رضي الله عنه وبرأه الله منهم ومن شيعتهم ومحبيهم- قبرا بالقاهرة، ورفعوا عليه قبة عظيمة وبنوا له المسجد المشهور الذي بالقاهرة, يقام فيه من الأعمال الشركية ما يغضب الله ورسوله وآل بيته وكل من في قلبه حب الله ورسوله والإيمان الصحيح.
Mereka membangun sebuah kubur untuk Al-Husain-semoga Allah meridainya dan membebaskannya dari mereka dan golongan mereka serta pecinta mereka-di Kairo. Mereka meletakkan di atasnya kubah besar dan membangun untuknya masjid yang terkenal di Kairo. Di sana dilakukan perbuatan-perbuatan syirik yang dimurkai Allah dan rasul-Nya, keluarganya, serta semua orang yang di dalam hatinya ada kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya dan keimanan yang benar.
وقد صنف كثير من العلماء السالفين في بيان كذب أولئك العبيديين وبيان نحلتهم الكافرة الفاجرة، وأنهم كانوا يظهرون الرفض ويبطنون الكفر.
Sungguh, banyak ulama terdahulu yang menulis tentang kedustaan Dinasti ‘Ubaidiyyah itu dan menjelaskan ajaran mereka yang kafir dan menyalahi syariat dan menerangkan bahwa mereka menampakkan akidah Syiah Rafidhah dan menyembunyikan kekafiran.
وممن كتب في ذلك الإمام أبو بكر الباقلاني في كتاب نفيس سماه كشف الأسرار وهتك الأستار; والإمام ابن الجوزي وغيرهم.
Di antara orang yang menulis tentang itu adalah Imam Abu Bakr Al-Baqilani dalam kitab berharga yang ia namakan “Kasyf Al-Asrar wa Hatk Al-Astar” dan juga Imam Ibnul Jauzi serta selain mereka.” (At-Ta’liq Ala Fathil Majid)
Setelah Syiah Rafidhah mencontohkan perbuatan buruk tersebut, kaum Sufi dan sekte-sekte bidah lainnya pun meniru mereka.
Al-Kurdi menceritakan tentang tokoh Sufi, Bahauddin Naqsyaband:
ولما مات الشيخ بهاء الدين نقشبند بنى أتباعه على قبره قبة عظيمة وجعلوه مسجدا فسيحا
“Tatkala Syekh Bahauddin Naqsyaban mati, para pengikutnya membangun kubah besar di atas kuburnya dan menjadikan itu sebagai masjid yang luas.” (Al-Mawahib As-Sarmadiyyah hal 142)
Ini baru kubur satu tokoh Sufi, maka bagaimana pula jika ditambah dengan kuburan tokoh-tokoh Sufi lainnya?!
Bayangkan, bagaimana perasaan Nabi ﷺ jika beliau masih hidup sampai sekarang ini dan menyaksikan semua itu?!
Siberut, 18 Rabi’ul Tsani 1444
Abu Yahya Adiya






