Nabi ﷺ berdamai dengan musyrikin Quraisy dalam perjanjian Hudaibiyah.
Dan ketika itu, Nabi ﷺ menyuruh ‘Ali bin Thalib untuk menulis isi perjanjian itu. Beliau berkata kepadanya:
اكْتُبْ: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Tulislah dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Maka Suhail pun memegang tangan ‘Ali dan berkata:
ما نعرف الرحمن، اكتب في قضيتنا ما نعرف
“Kami tidak mengetahui Ar-Rahman. Tulislah dalam perkara kami apa yang kami ketahui.”
Maka Allah pun menurunkan firman-Nya (surat Ar-Ra’d ayat 30):
وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَاب
“Dan mereka kafir (ingkar) kepada Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih). Katakanlah: “Dialah Tuhanku, tidak ada yang berhak disembah selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.” (Jami’ Al-Bayaan Fii Ta’wiil Al-Quran)
Dalam ayat ini Allah mengingkari musyrikin Quraisy yang menolak salah satu nama Allah yaitu Ar-Rahman.
Allah menyuruh Rasul-Nya, Muhammad ﷺ untuk membantah penolakan mereka dan menegaskan keimanan beliau kepada Tuhannya, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya.
Faidah yang bisa kita petik dari ayat ini:
- Wajibnya beriman kepada nama Allah dan sifat-Nya, tanpa menyelewengkan maknanya dan tanpa menyerupakannya dengan makhluk-Nya.
Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuuraa: 11)
- Menolak nama dan sifat Allah adalah kekafiran.
Karena itu, tidaklah salah kalau para ulama memvonis kafir kelompok Jahmiyyah yang menolak nama dan sifat Allah.
Mereka berkata, “Allah tidak memiliki nama Ar-Rahman. Dan tidak memiliki sifat rahmat.”
Karena pendapat mereka itulah para ulama mengafirkan mereka.
Imam Ibnul Qayyim berkata:
ولقد تقلد كفرهم خمسون في … عشر من العلماء في البلدان
“Kekafiran mereka telah ditetapkan oleh lima ratus ulama…Yang tersebar di berbagai negeri.
واللالكائي الإمام حكاه عنـ … ـهم بل حكاه قبله الطبراني
Imam Al-Lalika’i menceritakan dari mereka…Bahkan sebelumnya telah diceritakan oleh Ath-Thabrani.” (Al-Kafiyah Asy-Syafiyah Fii Al-Intishar Lilfirqah An-Najiyah)
- Wajibnya tawakal kepada Allah.
“Bertawakkallah kalian hanya kepada Allah, kalau kalian benar-benar beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)
- Wajibnya bertobat kepada Allah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ
“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kalian menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim: 8)
Imam An-Nawawi berkata:
قَالَ العلماءُ: التَّوْبَةُ وَاجبَةٌ مِنْ كُلِّ ذَنْب
“Para ulama berkata bahwa taubat itu wajib dari segala dosa.” (Riyadhush Shalihin)
4.Wajibnya memurnikan ibadah hanya untuk Allah.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Siberut, 4 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- 1. Al-Kafiyah Asy-Syafiyah Fii Al-Intishar Lilfirqah An-Najiyah karya Imam Ibnul Qayyim.
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- 3. Jami‘ Al-Bayaan Fii Ta’wiil Al-Quran karya Imam Ath-Thabari.
- Riyadhush Shalihin karya Imam An-Nawawi.






