Mengkritik Karena Sakit Hati

Mengkritik Karena Sakit Hati

Kritikan yang muncul karena sakit hati berbeda dengan kritikan yang muncul karena ingin memperbaiki.

Orang yang cerdas bisa membedakan mana orang yang tulus memberi nasehat dengan orang yang mengungkapkan kemarahan dan dendam dengan bungkus “nasehat”!

Kalau seseorang itu cerdas, tentu ia bisa memilah dan memilih mana kritikan yang berkualitas dan mana yang tidak.

Kritikan yang muncul karena dorongan sakit hati tidak akan hidup lama.

Dengan sering mengkritik, pelakunya mengira ia akan ‘laku’. Padahal, makin sering ia “menasehati”, makin banyak yang antipati dan ia makin tidak ‘laku’ lagi.

Sebaliknya, kalau suatu kritikan disampaikan karena mengharap wajah Allah, tulus dari lubuk hati yang paling dalam, dan karena dorongan rasa sayang, maka itu akan menembus dan menyentuh hati orang yang mendengarnya, walaupun lisannya menolaknya, dan badannya menampiknya!

Jika nasehat keluar dari hati, maka akan sampai pula ke hati!

Kalau itu terucap dengan ikhlas, maka itu mesti membekas!

Ada seseorang bertanya kepada Hamduun Al-Qashaar:

ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا

“Kenapa ucapan ulama terdahulu lebih membekas daripada ucapan kita?”

Beliau pun menjawab:

لأنهم تكلموا لعز الإسلام ونجاة النفوس ورضا الرحمن، ونحن نتكلم لعز النفوس وطلب الدنيا ورضا الخلق

“Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, agar selamatnya jiwa manusia, dan untuk mendapatkan keridaan Allah, sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri kita, mencari dunia, dan untuk mendapatkan keridaan manusia.” (Sifah Ash-Shafwah)

 

Siberut, 19 Ramadhan 1444

Abu Yahya Adiya