Antara Kursi, Arsy, dan Bumi

Antara Kursi, Arsy, dan Bumi

Berapakah luas bumi yang kita pijak ini? Bisakah kita membayangkannya?

Berapakah luas langit yang menaungi kita ini? Bisakah kita membayangkannya?

Kalau bumi dan langit saja demikian luasnya, apalagi Kursi-Nya!

Allah berfirman:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz berkata:

ففيها الدلالة على عظمة الكرسي وسعته، كما يدل ذلك على عظمة خالقه سبحانه وكمال قدرته

“Dalam ayat ini terdapat dalil  yang menunjukkan keagungan Kursi dan keluasannya. Sebagaimana itu juga menunjukkan besarnya Penciptanya dan sempurnanya kemampuan-Nya.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Nabi ﷺ bersabda:

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ

“Tidaklah tujuh langit dibandingkan Kursi, kecuali bagaikan gelang yang diletakkan di suatu padang.” (Kitab Al-‘Arsy)

Gelang dan padang, apakah sebanding dan seimbang?

Kursi-Nya amat besar dan amat luas. Namun, apa yang dimaksud dengan Kursi?

 

Pengertian Kursi

Ibnu ‘Abbas berkata:

الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ

“Kursi adalah tempat kedua kaki-Nya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

أما الكرسي الذي أضافه الله إلى نفسه فهو موضع قدميه تعالى قال ابن عباس رضي الله عنهما:

“Adapun Kursi yang Allah sandarkan pada diri-Nya, maka itu adalah tempat kedua kaki-Nya. Ibnu ‘Abbas berkata:

الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ، وَالْعَرْشُ لا يُقَدِّرُ أحد قدره

“Kursi adalah tempat kedua kaki-Nya, sedangkan Arsy, tidak ada seorang pun yang bisa menentukan kadarnya.”

رواه الحاكم في المستدرك، وقال:

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan ia berkata:

إنه على شرط الشيخين وقد روي مرفوعا.

“Hadis ini sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim. Dan hadis ini diriwayatkan secara marfuk (sampai kepada Nabi). ”

والصواب أنه موقوف.

Yang benar, hadis ini maukuf (sampai kepada sahabat Nabi).

وهذا المعنى الذي ذكره ابن عباس رضي الله عنهما في الكرسي هو المشهور بين أهل السنة، وهو المحفوظ عنه

Makna Kursi yang disebutkan Ibnu ‘Abbas ini adalah makna yang terkenal di kalangan Ahlussunnah dan itulah yang benar dari Ibnu ‘Abbas. “(Majmu’ Al-Fatawa)

Setelah menyebutkan hadis tentang perbandingan antara tujuh langit dan Kursi, Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata:

ففيه رد على من يتأوله بمعنى الملك وسعة السلطان، كما جاء في بعض التفاسير

“Dalam hadis ini terdapat bantahan terhadap orang yang menyelewengkan makna Kursi menjadi “kerajaan dan kekuasaan yang luas”, sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian tafsir.

وما روي عن ابن عباس أنه العلم، فلا يصح إسناده إليه

Adapun yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Kursi adalah ilmu, maka sanad itu tidak sahih darinya. “(Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah wa Syaiun Min Fiqhiha wa Fawaidiha)

Kursi adalah tempat kedua kaki-Nya. Itulah pengertian Kursi yang sebenarnya.

Lantas, apa pengertian Arsy? Apakah Kursi berbeda dengan Arsy?

 

Kursi dan Arsy Tidaklah Sama

Nabi ﷺ bersabda:

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ

“Tidaklah tujuh langit dibandingkan Kursi, kecuali bagaikan gelang yang diletakkan di suatu padang. Dan keutamaan Arsy dibandingkan Kursi seperti keutamaan padang tadi dibandingkan gelang tadi.” (Kitab Al-‘Arsy)

Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata:

وهو صريح في كون الكرسي أعظم المخلوقات بعد العرش، وأنه جرم قائم بنفسه وليس شيئا معنويا

“Hadis ini jelas menunjukkan bahwa Kursi adalah ciptaan Allah yang paling besar setelah Arsy dan bahwasanya Kursi adalah sesuatu yang berwujud dan berdiri sendiri, bukanlah sesuatu yang abstrak. “(Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah wa Syaiun Min Fiqhiha wa Fawaidiha)

Kalau begitu, Arsy itu lebih besar dan jauh lebih besar daripada Kursi. Makanya, apakah keduanya sama?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

أن العرش غير الكرسي والماء: ولم أر من قال: إن العرش هو الماء، لكن هناك من قال: إن العرش هو الكرسي; لحديث:

“Sesungguhnya Arsy bukanlah Kursi. Dan saya belum melihat orang yang berpendapat bahwa Arsy adalah air. Namun, ada orang yang berpendapat bahwa Arsy adalah Kursi. Berdasarkan hadis:

إن الله يضع كرسيه يوم القيامة

“Sesungguhnya Allah meletakkan Kursi-Nya di hari kiamat.”

وظنوا أن هذا الكرسي هو العرش.

Mereka menyangka bahwa Kursi adalah Arsy.

وكذلك زعم بعض الناس أن الكرسي هو العلم، فقالوا في قوله تعالى:

Demikian pula sebagian orang mengklaim bahwa Kursi adalah ilmu. Mereka berkata tentang firman-Nya:

{وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ}

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.”

أي: علمه.

Maksudnya yaitu ilmu-Nya.

والصواب: أن الكرسي موضع القدمين، والعرش هو الذي استوى عليه الرحمن -سبحانه-

Yang benar bahwa Kursi adalah tempat kedua kaki-Nya, sedangkan Arsy adalah tempat yang di atasnya ada Tuhan Yang Maha Pengasih. ” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Berarti, Kursi dan Arsy itu berbeda. Namun kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang amat agung dan mulia. Karena itu, kita wajib meyakini itu dan tidak boleh mengingkarinya.

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

فيجب الإيمان بالعرش وبالكرسي، هذا حق على حقيقته، وليس العرش كما يقوله الأشاعرة -ومن نحا نحوهم- إن العرش هو الملك…وهذا ضلال، فالعرش مخلوق: (وكان عرشه على الماء) [هود: 7] ، فالعرش تحته الكرسي، والكرسي تحته السماوات، والأرض تحت السموات.

“Mak wajib beriman kepada Arsy dan Kursi. Itu benar sesuai dengan hakekatnya. Arsy bukanlah seperti yang dikatakan oleh sekte Asy’ariyyah dan yang sejalan dengan mereka yakni bahwa Arsy adalah kekuasaan…itu adalah kesesatan. Arsy itu makhluk: “Arsy-Nya di atas air. “(QS. Hud: 7) Di bawah Arsy ada Kursi. Sedangkan di bawah Kursi ada lapisan langit. Sementara di bawah langit ada bumi. “(At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘Alaa Matn Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)

Ya, di atas bumi ada langit. Dan di atas langit ada Kursi. Sedangkan di atas Kursi ada Arsy. Dan di atas Arsy ada Allah Yang Maha Tinggi.

Kalau memang Allah ada di atas Kursi-Nya dan Arsy-Nya, apakah Dia membutuhkan keduanya?

 

Allah Tidak Membutuhkan Arsy dan Kursi

Ketika manusia berada di atas tangga, berarti ia membutuhkan tangga. Karena, kalau tangga itu hilang, tentu ia akan jatuh.

Dan kalau kita katakan bahwa Allah ada di atas Arsy, apakah Allah membutuhkan Arsy?

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

لا تتصور أن معنى قوله تعالى: (ثم استوى على العرش) [الأعراف: 54] أنه محتاج إلى العرش كاستواء المخلوق على المخلوق

“Jangan engkau bayangkan bahwa makna firman-Nya, ‘Lalu Dia istawa (tinggi di atas) Arsy’ adalah bahwa Dia membutuhkan Arsy seperti halnya makhluk di atas makhluk yang lain.

بل الله عز وجل مستوٍ على العرش، وهو غني عن العرش وما دون العرش. جميع المخلوقات محتاجة إلى الله…

Bahkan, Allah tinggi di atas Arsy dalam keadaan Dia tidak membutuhkan Arsy dan juga makhluk lain di bawah Arsy. Semua makhluk membutuhkan Allah…

ولا يلزم من كون الشيء فوق الشيء أن يكون الأعلى محتاجاً إلى ما تحته، فالسماوات فوق الأرض وليست محتاجة إلى الأرض.

Tidak mesti berada di atas sesuatu, berarti yang di atas membutuhkan yang di bawahnya. Langit ada di atas bumi, tapi ia tidak membutuhkan bumi.” (At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘Alaa Matn Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)

Ya, Dia di atas Kursi dan Arsy-Nya, tapi Dia tidak membutuhkan kedua-Nya.

Dan Dia di atas Kursi dan Arsy, jauh dari bumi, tapi apakah Dia tidak mengetahui apa yang terjadi di bumi?

 

Walaupun di Atas, Pengetahuan-Nya Tanpa Batas

Ya, walaupun Dia jauh dari bumi-Nya, yakni berada di atas Kursi dan Arsy-Nya, Dia Maha Mengetahui gerak-gerik hamba-Nya.

Allah berfirman:

لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Agar kalian tahu bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. ” (QS. Ath-Thalaq: 12)

Ya, meliputi segala sesuatu. Tanpa dibatasi ruang tertentu.

Ada yang bertanya  kepada Imam Ahmad bin Hanbal:

اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ , فَوْقَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ وَقُدْرَتِهِ وَعِلْمِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ؟

“Allah ada di atas langit yang ketujuh yakni di atas Arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan pengetahuan-Nya di mana-mana? ”

Imam Ahmad menjawab

نَعَمْ , عَلَى الْعَرْشِ وَعِلْمُهُ لَا يَخْلُو مِنْهُ مَكَانٌ

“Ya. Dia di atas Arsy, sedangkan pengetahuan-Nya di mana-mana. “(Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunah wa Al-Jama’ah)

 

Siberut, 9 Rajab 1442

Abu Yahya Adiya