Apa ada hubungan antara Sufi dan kemalasan?
Imam Asy-Syafi’i berkata:
أسس التصوف على الكسل
“Tasawuf itu dibangun di atas dasar kemalasan.” (Hilyah Al-Auliya wa Thabaqaat Al-Ashfiya)
Tasawuf adalah ilmu yang digeluti oleh kaum Sufi. Lantas, kemalasan apa yang dimaksud oleh Imam Asy-Syafi’i?
Apakah kemalasan dalam beramal?
Kalau maksudnya adalah kemalasan dalam beramal, sepertinya-Allahu a’lam-kurang tepat. Karena, kaum Sufi itu tidak malas beramal.
Mereka justru rajin beramal. Saking rajinnya, sampai-sampai amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi ﷺ pun mereka kerjakan.
Bukankah mereka berzikir sampai ratusan kali sambil bergoyang dan menari?
Bukankah itu perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi ﷺ?
Tidak hanya itu. Saking rajinnya mereka dalam beramal, sampai-sampai amalan yang dilarang oleh Nabi ﷺ pun mereka kerjakan.
Bukankah mereka tawaf, rukuk, dan sujud di kuburan guru mereka?
Bukankah itu perbuatan yang sudah dilarang nabi kita?
Lantas, kemalasan apa yang dimaksud oleh Imam Asy-Syafi’i?
Bisa jadi, maksud kemalasan di sini-Allahu a’lam-yaitu kemalasan dalam berpikir.
Karena, bagi mereka, dengan berpikir dan menggunakan akal sehat, itu tidak akan menyebabkan mereka sampai pada kemuliaan yang sebenarnya.
Ahmad Al-Faruqi As-Sarhand An-Naqsyabandi menukil ucapan sebagian kaum Sufi:
ما لم يصل أحدكم إلى حد الجنون لا يصل إلى الإسلام
“Selama salah seorang dari kalian belum sampai pada batas gila, maka ia belum sampai kepada Islam!” (Maktubaat Al-Imam Ar-Rabbani hal. 144)
Bagi mereka, tidak mungkin sampai pada posisi yang tinggi dan mulia kecuali dengan ‘meniadakan’ akal sehat.
Makanya, tidaklah aneh kalau mereka mendengar dan menerima apa pun perkataan yang muncul dari guru mereka, walaupun perkataan tersebut janggal dan bertentangan dengan akal sehat.
Di antara doktrin yang mereka ajarkan:
كن بين يدي الشيخ كالميت بين يدي المغسل.
“Jadilah engkau di hadapan syekh (guru), seperti mayit di hadapan orang yang memandikannya!”
Apakah mayit bisa memprotes orang yang memandikannya kalau ia memperlakukannya sesukanya?
Tentu saja tidak! Mau tidak mau ia harus menerima apa pun perlakuan yang terjadi pada dirinya.
Dan di antara doktrin yang mereka ajarkan:
من قال لشيخه لِمَ؟ لا يفلح.
“Siapa yang berkata kepada syekhnya, ‘Kenapa?’, maka ia tidak akan beruntung!”
Kalau seseorang sudah tidak bisa “kenapa?”, maka hilanglah sikap kritisnya.
Dan kalau sudah hilang sikap kritisnya, maka jadi malaslah ia untuk berpikir.
Dan kalau sudah malas untuk berpikir, maka tumpullah otaknya.
Dan kalau sudah tumpul otaknya, maka jadi dungulah hasilnya.
Itulah yang diisyaratkan oleh Imam Asy-Syafi’i lewat perkataan beliau:
لو أن رجلا تصوف أول النهار لا يأتي الظهر حتى يصير أحمقا
“Seandainya seseorang menjadi Sufi di awal siang, maka tidaklah datang waktu zuhur kecuali ia telah menjadi dungu.” (Talbis Iblis)
Siberut, 15 Jumada Al-Ulaa 1445
Abu Yahya Adiya






