Mereka Tidak Mengagungkan-Nya

Mereka Tidak Mengagungkan-Nya

Siapakah yang orang yang tidak mengagungkan Allah? Dan kapan seseorang dianggap tidak mengagungkan Allah?

Suatu hari, seorang pemuka agama Yahud mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata:

يَا مُحَمَّدُ إِنَّا نَجِدُ: أَنَّ اللَّهَ يَجْعَلُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ وَالأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ، وَسَائِرَ الخَلاَئِقِ عَلَى إِصْبَعٍ، فَيَقُولُ:

“Ya Muhammad, kami mendapati bahwa Allah Ta’ala meletakkan langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air dan tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari seraya berkata:

أَنَا المَلِكُ

“Akulah Raja yang sesungguhnya!”

Ibnu Mas’ud berkata:

فَضَحِكَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيقًا لِقَوْلِ الحَبْرِ، ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

“Maka Nabi ﷺ pun tertawa hingga nampak gigi geraham beliau sebagai pembenaran terhadap perkataan pemuka agama Yahud tadi. Kemudian beliau ﷺ membaca (QS. Az-Zumar: 67):

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ، وَالأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ، ثُمَّ يَقُولُ:

Kemudian Dia menggoncangkan semua itu lalu berfirman:

أَنَا المَلِكُ أَنَا المَلِكُ

Akulah Raja yang sesungguhnya, Akulah Raja yang sesungguhnya!

Ya, Allah lah Raja yang sesungguhnya. Dialah penguasa yang sebenarnya.

Penguasa yang sebenarnya adalah Allah.

Sebab, kekuasaan-Nya tidak terbatas. Sedangkan kekuasaan manusia?

Amat terbatas. Karena, apa yang ia kuasai pada hakikatnya itu adalah titipan Allah. Bukan murni miliknya.

Amat terbatas. Karena, ia hanya menguasai apa yang ia miliki. Tidak menguasai apa yang dimiliki orang lain.

Amat terbatas. Karena, ia hanya menguasai apa yang ia miliki sejak ia memilikinya sampai ia menjualnya, atau menghibahkannya atau maut menjemputnya.

Amat terbatas. Karena, ia tidak bisa seenaknya memperlakukan apa yang ia miliki. Ia hanya boleh memperlakukan apa yang ia miliki sesuai dengan tuntunan-Nya. Karena itu, kalau ia ingin membakar miliknya, maka itu tidak boleh baginya.

Yang memiliki kekuasaan yang tak terbatas hanyalah Allah, Tuhan Yang Maha Agung, Yang di tangan-Nya lah segala keagungan.

 

Keagungan-Nya Menuntut Pengagungan terhadap-Nya

Allah berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ، وَالأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az-Zumar: 67)

Lihatlah keagungan-Nya ini. Lihatlah kebesaran-Nya ini.

Bumi yang demikian besarnya, dan langit yang demikian luasnya, akan berada dalam genggaman-Nya di hari kiamat nanti.

Bukankah itu tanda yang menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya?

Ya, tidak diragukan lagi. Dia itu Maha Agung dan Maha Besar. Makanya….

Sebesar apa pun diri kita apakah bisa menyaingi kebesaran-Nya?

Setinggi apa pun kedudukan kita apakah bisa menyaingi ketinggian-Nya?

Karenanya, kecilkanlah dirimu dan agungkanlah Tuhanmu!

Nabi ﷺ bersabda:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ:

“Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا، قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Kesombongan adalah selendang-Ku, keagungan adalah kain-Ku. Siapa yang mencabut salah satunya dari-Ku, maka akan Kulemparkan ia ke dalam neraka!” (HR. Ahmad, Abu Daud dan lain-lain)

Segala keagungan dan kebesaran ada di tangan-Nya, karena itu agungkanlah Dia, tunduklah kepada-Nya, mengabdilah kepada-Nya, dan beribadahlah hanya kepada-Nya.

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku pun tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)

 

Orang Yang Tidak Mengagungkan-Nya

Mereka yang menyekutukan Allah dengan selain-Nya adalah orang-orang yang tidak mengagungkan-Nya. Sebab, bagaimana mereka mengagungkan-Nya?

Allah menciptakan mereka agar beribadah kepada-Nya, tapi kenapa mereka malah beribadah kepada selain-Nya?

Yang berhak disembah hanyalah Allah. Karena, di tangan-Nya lah segala kekuasaan. Lantas,  kenapa mereka justru menyembah selain-Nya yang tidak memiliki sedikit pun kekuasaan, baik di langit maupun di bumi?

Dengan melakukan itu:

فسوَّوا المخلوق مع عجزه بالخالق العظيم، الذي من عظيم قدرته أن جميع الأرض في قبضته يوم القيامة، والسموات مطويات بيمينه

“Mereka telah menyamakan makhluk yang lemah dengan Pencipta Yang Maha Agung yang di antara keagungan kekuasaan-Nya yaitu semua bumi berada dalam genggaman-Nya di hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (At-Tafsir Al-Muyassar)

Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan..

 

Siberut, 9 Jumada Al-Ulaa 1442

Abu Yahya Adiya