“Engkau adalah sayid kami.”
Itulah pujian ‘Abdullah bin Asy-Syikhkhir dan delegasi Bani Amir kepada Nabi ﷺ.
Sayid artinya:
ذو السؤدد والشرف
“Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Lantas, apa reaksi Nabi ﷺ mendengar pujian itu?
Beliau ﷺ pun bersabda:
السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
“Sayid yang sebenarnya adalah Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi.”
Maksud beliau:
السؤدد التام لله عز وجل، والخلق كلهم عبيد الله.
“Keagungan yang sempurna adalah milik Allah, sedangkan seluruh makhluk adalah hamba Allah.” (Al-Mulakhkhash Fi Syarh Kitab At-Tauhid)
Kemudian mereka melanjutkan pujian mereka:
وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا
“Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling banyak kebaikannya bagi kami.”
Maka Nabi ﷺ pun bersabda:
قُولُوا بِقَوْلِكُمْ، أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ، وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ
“Ucapkanlah semua perkataan kalian atau sebagian perkataan kalian. Jangan sampai kalian terseret oleh setan!” (HR. Abu Daud).
Berarti, sukakah Nabi ﷺ dengan pujian seperti itu?
Dan serupa dengan itu, ada seseorang yang suatu hari berkata kepada Nabi ﷺ:
يَا سَيِّدَنَا وَابْنَ سَيِّدِنَا، وَخَيْرَنَا وَابْنَ خَيْرِنَا
“Wahai sayid kami dan putra sayid kami, orang yang terbaik di antara kami, dan putra dari orang yang terbaik diantara kami.”
Maka Nabi ﷺ bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا بِقَوْلِكُمْ، وَلَا تَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيَاطِينُ، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، أَنَا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، وَمَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُونِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيهَا اللهُ
“Hai sekalian manusia, ucapkanlah perkataan kalian, tapi jangan sampai kalian digelincirkan oleh setan! Aku adalah Muhammad putra ‘Abdullah, hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengagungkanku melebihi kedudukanku yang telah diberikan Allah kepadaku. ” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra)
Berarti, sukakah Nabi ﷺ dengan pujian seperti itu?
Berlebihan dalam Memuji Tidak Disukai Nabi
Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:
كره -صلى الله عليه وسلم- مدحه بهذه الألفاظ ونحوها؛ لئلا يكون ذلك وسيلة إلى الغلو فيه والإطراء؛
“Nabi ﷺ tidak menyukai pujian terhadap beliau dengan perkataan tadi dan semacamnya, agar itu tidak menjadi sarana yang mengantarkan pada sikap ekstrem dan berlebihan terhadap beliau.” (Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid)
Beliau ﷺ melarang para sahabat mengucapkan perkataan tadi, padahal tidak ada kata-kata yang salah padanya. Namun, tatkala ucapan mereka dikhawatirkan menyeret mereka pada sikap berlebihan, maka beliau pun melarangnya.
Nah, kalau pujian seperti itu saja tidak disukai oleh Nabi ﷺ, padahal tidak ada kata-kata yang salah padanya, lantas bagaimana pula kalau memuji beliau sampai menyatakan bahwa beliau adalah tempat bergantung manusia di dunia dan akhirat?
Bagaimana pula kalau memuji beliau ﷺ sampai menyatakan bahwa tidak ada yang menggantikan kesulitan menjadi mudah kecuali beliau?
Bagaimana pula kalau memuji beliau ﷺ sampai menyatakan bahwa dunia dan segenap kekayaannya adalah pemberian dari beliau?
Bagaimana pula kalau memuji beliau ﷺ sampai menyatakan bahwa beliau mengetahui catatan takdir dan perkara gaib lainnya?
Nabi ﷺ bersabda:
إياكم والغلو، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو
“Hati-hatilah kalian dari sikap berlebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Memuji Nabi ﷺ adalah perkara yang baik. Namun, kalau berlebihan dalam memuji beliau itu bukanlah perkara yang baik. Itu justru terlarang.
Nah, kalau memuji Nabi ﷺ secara berlebihan saja terlarang, apalagi memuji selain Nabi secara berlebihan!
Demi Keesaan-Nya
Nabi ﷺ tidak menyukai pujian yang diucapkan oleh para sahabatnya tadi.
Nabi ﷺ tidak ingin ucapan mereka menjadi sarana yang mengantarkan pada sikap berlebihan terhadap beliau.
Apakah itu demi kemaslahatan beliau pribadi? Apakah itu untuk kepentingan beliau sendiri?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
; فأرشدهم صلى الله عليه وسلم إلى ما ينبغي أن يفعل، ونهاهم عن الأمر الذي لا ينبغي أن يفعل; حماية للتوحيد من النقص أو النقض
“Beliau ﷺ membimbing mereka kepada perkara yang sepantasnya dilakukan dan melarang mereka dari perkara yang tidak pantas dilakukan, sebagai bentuk penjagaan terhadap tauhid dari kekurangan atau pelanggaran.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Ya, beliau ﷺ melarang semua pujian yang berlebihan, demi menjaga tauhid dari segala sesuatu yang akan merusaknya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Itulah bentuk pengabdian beliau kepada Tuhannya. Itulah bentuk pengagungan beliau terhadap Tuhannya.
Apakah kita mau meniru jejaknya?
Siberut, 7 Jumada Al-Ulaa 1442
Abu Yahya Adiya






