Allah berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
“Di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir’, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.
يخادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَما يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَما يَشْعُرُون
Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari.
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu; dan mereka mendapat siksa yang pedih, karena mereka berdusta.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi!’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’
أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ
Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 8-12)
Di antara manusia ada yang berkata mereka adalah orang-orang munafik.
Dalam hati mereka ada penyakit yaitu penyakit syak, keraguan dan kemunafikan.
Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi artinya:
لا تعْصُوا في الأرض… لأن من عَصى الله في الأرض أو أمر بمعصيته، فقد أفسدَ في الأرض، لأن إصلاحَ الأرض والسماء بالطاعة
“Jangan kalian berbuat maksiat di muka bumi…sebab, siapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi atau memerintahkan untuk bermaksiat kepada-Nya, maka ia telah membuat kerusakan di muka bumi. Karena, memperbaiki bumi dan langit itu dengan ketaatan.” (Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wiil Al-Quran)
Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan artinya kami tidak berbuat kerusakan justru melakukan perbaikan.
Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari ayat-ayat tadi:
- Dusta dan bermuka dua adalah ciri khas orang munafik.
- Iman adalah keyakinan, ucapan dan perbuatan.
Karena itu, siapa yang mengakui dengan lisannya bahwa Allah adalah Tuhannya dan Muhammad adalah nabinya, tapi tidak mengakui itu dengan hatinya, maka ia bukan orang yang beriman. Dan itulah keadaan orang-orang munafik.
Dan ini merupakan bantahan terhadap sekte Karramiyyah yang berpendapat bahwa iman itu cukup dengan pengakuan lisan.
- Orang-orang munafik merasakan buah dari perbuatan mereka.
Imam As-Suyuthi berkata:
لِأَنَّ وَبَال خِدَاعهمْ رَاجِع إلَيْهِمْ فَيُفْتَضَحُونَ فِي الدُّنْيَا بِإِطْلَاعِ اللَّه نَبِيّه عَلَى مَا أَبْطَنُوهُ وَيُعَاقَبُونَ فِي الْآخِرَة
“Sesungguhnya akibat buruk dari penipuan yang mereka lakukan akan kembali kepada mereka. Mereka akan dipermalukan di dunia dengan Allah tunjukkan kepada nabi-Nya apa yang mereka sembunyikan dan di akhirat mereka akan mendapat hukuman.” (Tafsir Jalalain)
- Satu maksiat akan mengantarkan pada maksiat lainnya, kalau tidak segera bertaubat.
Seperti yang terjadi pada orang-orang munafik. Tatkala mereka melakukan kemunafikan, dan tidak bertobat, maka Allah menambah penyakit mereka. Karena itu…
Bertambahlah kemunafikan mereka. Bertambahlah kedustaan mereka. Bertambahlah dosa mereka.
- Dusta itu mengantarkan pada siksa yang pedih.
- Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Dan itulah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.
- Seseorang dianggap membuat kerusakan di muka bumi tatkala bermaksiat kepada Allah dan berpaling dari syariat-Nya.
Sebagaimana orang-orang munafik dikatakan oleh Allah sebagai orang-orang yang membuat kerusakan karena mereka bermaksiat kepada Allah dengan perbuatan dan tindak-tanduk mereka.
Ibnu Mas’ud berkata:
إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ أَذِنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَلَاكِهَا
“Jika zina dan riba tersebar di suatu kampung, maka Allah mengizinkan agar daerah itu dibinasakan.” (Ad-Da’u Wa Ad-Dawa’)
Allah berfirman:
وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا
“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik.” (QS. Al-A’raaf: 56)
Dan termasuk membuat kerusakan di muka bumi adalah berhukum kepada selain syariat Allah. Sebab, itu adalah maksiat. Bukan maksiat biasa, melainkan maksiat yang luar biasa!
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 45)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah: 47)
- Seseorang dianggap memperbaiki kehidupan di muka bumi tatkala menaati Allah dan Rasul-Nya, dan menjalankan syariat-Nya.
Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-A’raaf: 96)
Nabi ﷺ bersabda:
إقامة حد من حدود الله خير من مطر أربعين ليلة في بلاد الله
“Menegakkan satu hukum Allah lebih baik daripada mendapatkan hujan selama 40 hari di negeri-negeri Allah.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah)
- Orang-orang munafik menggabungkan rusaknya perbuatan mereka dengan rusaknya pengakuan mereka.
Mereka berbuat kerusakan di muka bumi, namun mereka mengaku sedang memperbaiki.
Itu adalah kerusakan yang sangat parah.
- Orang yang memiliki hati yang sakit atau mati akan melihat kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.
Siberut, 1 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Aisar At-Tafasir Likalam Al-‘Aliyy Al-Kabir karya Syekh Abu Bakr Al-Jazairi.
- Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wiil Al-Quran karya Imam Ath-Thabari.
- Tafsir Jalalain karya Imam Al-Mahalli dan As-Suyuthi.
- Ad-Da’u Wa Ad-Dawa’ karya Imam Ibnul Qayyim.






