Mukjizat Al-Quran dan Tantangan Untuk Orang Kafir

Mukjizat Al-Quran dan Tantangan Untuk Orang Kafir

Seorang Yahudi mendatangi majlis Khalifah Al-Ma’mun, lalu ia mengucapkan perkataan dengan fasih dan memukau.

Tatkala majlis itu sudah bubar, Khalifah Al-Ma’mun memanggilnya:

إِسْرَائِيلِيٌّ؟

“Engkau termasuk Bani Israel?”

Yahudi itu menjawab:

نَعَمْ

“Ya.”

Khalifah Al-Ma’mun berkata kepadanya:

أَسْلِمْ حَتَّى أَفْعَلَ بِكَ وَأَصْنَعَ

“Masuk Islamlah engkau, supaya aku bisa berbuat dan melakukan sesuatu untukmu.”

Khalifah Al-Ma’mun menawarkan Islam kepadanya dan menjanjikan bantuan untuknya.

Namun, Yahudi itu berkata:

دِينِي وَدِينُ آبَائِي!

“Aku tetap pada agamaku dan agama leluhurku!”

Lalu ia pergi.

Setelah setahun berlalu, ia datang lagi ke majlis Khalifah Al-Ma’mun, lalu ia berbicara tentang fikih dengan baik.

Khalifah Al-Ma’mun terkejut. Ternyata Yahudi itu sudah masuk Islam.

Setelah majlis itu bubar, Khalifah Al-Ma’mun memanggilnya lalu berkata:

أَلَسْتَ صَاحِبَنَا بِالْأَمْسِ؟

“Bukankah engkau orang yang pernah mendatangi kami dulu?”

Yahudi itu menjawab:

بَلَى

“Tentu.”

Khalifah Al-Ma’mun bertanya:

فَمَا كَانَ سَبَبُ إِسْلَامِكَ؟

“Apa sebabnya engkau masuk Islam?”

Yahudi itu berkata:

انْصَرَفْتُ مِنْ حَضْرَتِكَ فأحببت أن أمتحن هذه الأديان، وأنت (مع ما) تراني حسن الْخَطِّ،

“Aku pergi dari hadapan Anda, lalu aku ingin menguji agama-agama yang ada. Dan Anda sudah lihat kalau aku bisa menulis dengan bagus.

فَعَمَدْتُ إِلَى التَّوْرَاةِ فَكَتَبْتُ ثَلَاثَ نُسَخٍ فَزِدْتُ فِيهَا وَنَقَصْتُ، وَأَدْخَلْتُهَا الْكَنِيسَةَ فَاشْتُرِيَتْ مِنِّي،

Kutuju Taurat kemudian kutulis itu menjadi 3 naskah. Lalu kutambah dan kukurangi bagian darinya, dan kumasukkan itu ke sinagoge, maka 3 naskah itu terjual.

وعمدت إلى الإنجيل فكتب ثَلَاثَ نُسَخٍ فَزِدْتُ فِيهَا وَنَقَصْتُ، وَأَدْخَلْتُهَا الْبِيعَةَ فَاشْتُرِيَتْ مِنِّي،

Dan kutuju Injil kemudian kutulis menjadi 3 naskah. Lalu kutambah dan kukurangi bagian darinya, dan kumasukkan itu ke gereja, maka 3 naskah itu terjual.

وَعَمَدْتُ إِلَى الْقُرْآنِ فَعَمِلْتُ ثَلَاثَ نُسَخٍ وَزِدْتُ فِيهَا وَنَقَصْتُ، وَأَدْخَلْتُهَا الْوَرَّاقِينَ فَتَصَفَّحُوهَا،

Dan kutuju Al-Quran kemudian kutulis menjadi 3 naskah. Kutambah dan kukurangi bagian darinya, dan kumasukkan itu ke para penjual buku lalu mereka mengeceknya.

فَلَمَّا أَنْ وَجَدُوا فِيهَا الزِّيَادَةَ وَالنُّقْصَانَ رَمَوْا بِهَا فَلَمْ يَشْتَرُوهَا،

Tatkala mereka mendapati di dalamnya ada penambahan dan pengurangan, maka mereka pun melemparkan itu lalu tidak membelinya.

فَعَلِمْتُ أَنَّ هَذَا كِتَابٌ مَحْفُوظٌ، فَكَانَ هَذَا سَبَبُ إِسْلَامِي.

Maka, aku pun sadar bahwa ini (Al-Quran) adalah kitab yang terjaga. Itulah yang menyebabkan aku masuk Islam.” (Al-Jami’ Liahkam Al-Quran)

Maha benar Allah tatkala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami pula yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Apa maksud sesungguhnya Kami pula yang memeliharanya?

‘Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan berkata:

(وإنا له لحافظون) عن كل ما لا يليق به من تصحيف وتحريف وزيادة ونقصان ونحو ذلك

Sesungguhnya Kami pula yang memeliharanya yaitu dari segala sesuatu yang tidak layak baginya yakni berupa kekeliruan, penyelewengan, penambahan, pengurangan dan semacamnya.

فالقرآن العظيم محفوظ من هذه الأشياء كلها لا يقدر واحد من جميع الخلق من الإنس والجن أن يزيد فيه أو ينقص منه حرفاً واحداً أو كلمة واحدة.

Al-Quran yang mulia ini terjaga dari semua itu. Tidak satu pun makhluk, baik manusia maupun jin yang sanggup menambahnya, atau menguranginya, walaupun satu huruf atau satu kata.

وهذا مختص بالكتاب العزيز بخلاف سائر الكتب المنزلة فإنه قد دخل على بعضها تلك الأشياء

Itu khusus bagi Al-Quran yang mulia. Berbeda halnya dengan kitab-kitab yang diturunkan lainnya. Karena sesungguhnya beberapa perkara tadi masuk pada sebagian kitab tersebut.” (Fath Al-Bayan Fii Maqashid Al-Quran)

Maka, jelaslah bahwa Al-Quran itu dari sisi Allah dan Allah lah yang akan menjaganya dari segala penambahan, pengurangan, pengubahan, dan berbagai penyimpangan. Dan itu hingga akhir zaman!

Siapa yang tidak meyakini itu, maka ia telah terjatuh dalam kekafiran!

Syekh Dr. Nashir Al-‘Aql berkata:

من أنكر شيئاً من القرآن أو ادعى فيه النقص أو الزيادة أو التحريف، فهو كافر

“Siapa yang mengingkari sedikit saja Al-Quran atau menganggap adanya pengurangan, penambahan, atau penyelewengan padanya, maka ia telah kafir.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah)

 

Tantangan Untuk Orang-Orang Kafir

Allah berfirman:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan jika kalian meragukan Al-Quran yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surat saja yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 23)

Ayat ini merupakan ayat tantangan.

Tantangan untuk siapa?

Untuk orang-orang kafir.

Allah menantang mereka:

Buatlah satu surat saja semisal Al-Quran. Kalau perlu, panggillah siapa pun yang bisa menolong kalian-entah para ahli bahasa, sastrawan, dan semisalnya-untuk melaksanakan proyek kalian.

Silahkan kalian lakukan itu. Buktikan bahwa Al-Quran itu karangan Muhammad, kalau memang benar klaim kalian itu!

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Jika kalian tidak mampu membuatnya, dan pasti kalian tidak akan mampu membuatnya, maka takutlah kalian akan neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 24)

Allah memberikan tantangan, tetapi setelah itu Allah memastikan bahwa mereka tidak bisa menjawab tantangan itu dan tidak mampu mengambil tantangan itu.

Dari sejak 14 abad dahulu sampai sekarang, adakah orang yang bisa menjawab tantangan itu?

Tidak ada seorang pun yang bisa menjawab tantangan itu.

Sebab, bagaimana mungkin makhluk yang penuh dengan kekurangan dan kelemahan bisa mengucapkan perkataan yang sama dengan perkataan Tuhan Yang Maha Sempurna, Yang tidak memiliki sama sekali kekurangan dan kelemahan?

Itu mustahil. Itu di luar kemampuan manusia.

Orang yang ahli bahasa sekalipun, kalau ia membandingkan Al-Quran dengan karya para pakar bahasa dan sastra, niscaya ia akan mendapati perbedaan yang sangat lebar antara keduanya.

Sehebat dan seindah apa pun karya manusia, tetap saja itu tidak bisa menandingi kehebatan dan keindahan Al-Quran.

Itu menunjukkan bahwa Al-Quran adalah firman Allah, mukjizat terbesar yang Dia berikan kepada Nabi-Nya, dan benar-benar wahyu dari-Nya.

 

Siberut, 7 Shafar 1443

Abu Yahya Adiya