Mulia karena Bencana

Mulia karena Bencana

Banyak yang mengira bahwa seseorang bisa mulia di akhirat hanya dengan banyak beramal. Padahal, ada orang yang bisa mulia di akhirat tanpa memiliki banyak amalan.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لِتَكُونَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ الْمَنْزِلَةُ فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ فَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا

“Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Ia tidak mencapai kedudukan tersebut dengan amalannya, melainkan Allah terus memberinya cobaan dengan apa yang tidak ia sukai hingga Dia mengantarkannya pada kedudukan tersebut.” (HR. Ibnu Hibban)

Allah memberikan kebaikan kepada hamba-Nya lewat musibah yang Dia berikan kepadanya. Namun sayangnya, banyak orang yang tidak menyadarinya.

Nabi ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

“Tidaklah seorang mukmin mendapatkan musibah berupa tertusuk duri atau lebih parah dari itu kecuali dengan sebab itu Allah mengangkat derajatnya atau menghapus dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lewat musibah, Dia angkat derajat kita atau Dia hapuskan dosa-dosa kita.

Bukankah itu tanda sayang-Nya kepada kita?

Bukankah itu merupakan kebaikan bagi kita?

Maka, sambutlah musibah yang Dia berikan dengan lapang dada.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya bencana. Dan sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan ujian kepada mereka. Siapa yang rida terhadap ujian tersebut, baginya keridaan Allah. Sebaliknya, siapa yang murka, baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi)

 

Siberut, 8 Sya’ban 1444

Abu Yahya Adiya