Mereka sangat panik. Badai menghantam kapal mereka. Lautan seolah-olah mengamuk akan melahap mereka. Dalam keadaan genting seperti itu, mereka pun berdoa, “Ya Allah tolonglah kami. Ya Allah selamatkan kami.”
Allah pun mengabulkan doa mereka. Badai pun berhenti. Laut pun kembali tenang. Akhirnya mereka bisa sampai ke darat.
Setelah merasakan nikmat yang begitu berharga, tiba-tiba mereka ‘amnesia’. Mereka mendatangi lagi berhala mereka lalu memberikan sesajen, berdoa, dan beribadah kepadanya. Ya, mereka melupakan lagi Allah!
Itulah kondisi kaum musyirikin di zaman dahulu.
Allah menceritakan demikian dalam kitab-Nya:
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; tapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka malah menyekutukan (Allah) kembali.” (QS. Al-‘Ankabuut: 65)
Artinya orang-orang musyrik zaman dahulu kalau dalam keadaan tenang mereka menyekutukan Allah. Tapi, kalau lagi genting, mereka hanya meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah semata. Mereka lupa dengan Al-Laata, Al-‘Uzza, dan Manat. Mereka lupa dengan berbagai sembahan yang selama ini mereka seru dan mereka agungkan.
Mereka sadar bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka dari marabahaya kecuali Allah.
Allah berfirman:
وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإِنْسَانُ كَفُورًا
“Dan apabila kalian ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kalian seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian berpaling. Dan manusia itu sering tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’: 67)
Kemusyrikan Sekarang Lebih Parah
Syekh Muhammad At-Tamimi berkata:
أنّ مشركي زماننا أغلظ شركًا من الأوّلين، لأنّ الأوّلين يُشركون في الرخاء ويُخلصون في الشدّة، ومشركوا زماننا شركهم دائم؛ في الرخاء والشدّة
“Sesungguhnya orang-orang yang melakukan syirik di zaman kita ini, kemusyrikan mereka lebih parah dibandingkan kemusyrikan orang-orang di zaman dahulu. Sebab, dulu orang-orang berbuat syirik ketika dalam keadaan lapang dan mereka memurnikan ibadah hanya untuk Allah ketika dalam keadaan sempit. Sedangkan orang-orang yang melakukan syirik di zaman kita, kemusyrikan mereka berlangsung terus menerus, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit.” (Al-Qawa’id Al-Arba’)
Kalau itu kemusyrikan di zaman beliau, yaitu sekitar 3 abad yang lalu, apalagi kemusyrikan orang-orang di zaman sekarang!
Dalam keadaan lapang mereka menyekutukan Allah. Dan dalam keadaan sempit yang seharusnya mengesakan Allah, mereka malah tetap menyekutukan Allah!
Sebagian orang di zaman ini, ketika marabahaya datang, bukannya berkata, “Ya Allah, Ya Rabbi”, mereka malah berkata, “Ya Husain”, “Ya Syekh Bahauddin”, “Ya Syekh Abdul Qadir Jailaini”, “Ya Syekh Rifa’i”!
Mereka memanggil orang-orang yang sudah mati dan meminta keselamatan kepada mereka!
Sebagian tokoh Sufi mengajari murid-murid mereka:
نحن ننقذكم من البحار، فإذا أصابكم شيء اهتفوا بأسمائنا ونحن ننقذكم
“Kami akan menyelamatkan kalian dari laut. Jika kalian mengalami sesuatu, maka panggillah nama-nama kami, niscaya kami akan menyelamatkan kalian!” (Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’)
Lihatlah, “panggillah nama-nama kami”! Bukan “panggillah Allah”!
Dan ajaibnya, kaum Sufi tidak mengatakan itu syirik, melainkan mereka namakan itu sebagai karomah para wali!
Karena itu, di antara dongeng yang mereka sebutkan…
Suatu hari Syekh Muhammad Shiddiq terjatuh ke laut. Dan ia tidak bisa berenang.
فكاد أن يغرق فناداه – أي عبد القادر – مستغيثا به فحضر وأخذ بيده وأنقذه من الغرق
“Hampir saja ia tenggelam. Ia pun memanggil Syekh ‘Abdul Qadir Jailani, meminta pertolongan kepadanya. Tiba-tiba Syekh Abdul Qadir muncul lalu memegang tangannya dan menyelamatkannya agar tidak tenggelam!” (Disebutkan dalam Al-Mausu‘ah Al-Firaq Al-Muntasibah Iii Al-Islam, dinukil dari kitab Al-Mawahib As-Sarmadiyyah fii Manaqib An-Naqsyabandiyyah)
Lihatlah, memanggil Syekh ‘Abdul Qadir Jailani, bukan memanggil Allah!
Nah, kalau orang-orang musyrik zaman jahiliah benar-benar mengesakan Allah dalam keadaan terdesak, sedangkan mereka justru menyekutukan Allah, walaupun dalam keadaan terdesak!
Maka, siapakah yang lebih parah?
Engkau Harus Lebih Baik dari Musyrik Jahiliah
Kalau orang-orang musyrik zaman jahiliah benar-benar mengesakan Allah dalam keadaan terdesak, lantas apakah kita yang mengaku muslim malah menyekutukan Allah dalam keadaan terdesak?!
Bagaimana mungkin dengan alasan terdesak seorang muslim meminta pertolongan dan perlindungan kepada dukun?
Dan bagaimana mungkin dengan alasan terdesak ia meminta pertolongan kepada jin dan orang mati?
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا وَإِنْ قُتِلْتَ وَحُرِّقْتَ
“Jangan engkau menyekutukan Allah sedikit pun walaupun engkau dibunuh dan dibakar.” (HR. Ahmad)
Siberut, 21 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya






