Ia duduk dengan khidmat di hadapan kubur itu. Sudah ratusan kali tahlil ia ucapkan. Ia angkat tangannya, lalu berkata dengan suara yang memelas, “Ya Syekh Fulan! Ya Habib Fulan! Hutang sudah menjeratku. Penyakit sudah melumpuhkanku . Tolonglah aku. Selamatkanlah aku.”
Apakah ia seorang musyrik?
Bagaimana kalau ia melakukan itu dalam keadaan masih meyakini bahwa Allah lah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta?
Beranikah kita mencapnya sebagai musyrik?
Allah berfirman:
﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ
“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (menghidupkan dan mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.” (QS. Yunus: 31).
Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Nabi ﷺ meyakini bahwa Allah lah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta.
Abu Lahab, Abu Jahl, dan musyrik Quraisy lainnya tidak meyakini bahwa Laata, Uzza, Manat dan berhala mereka lainnya bisa menciptakan, menguasai dan mengatur alam semesta. Yang bisa melakukan semua itu hanyalah Allah.
Itulah keyakinan mereka. Tapi…
Keyakinan yang demikian tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam.
Mengapa begitu?
Sebab, mereka belum mengesakan Allah dalam hal peribadatan. Mereka masih beribadah kepada Allah dan juga kepada berhala-berhala mereka.
Karena itu, Allah berfirman dalam kelanjutan ayat:
فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Maka katakanlah, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?!”
Artinya, mengapa kalian tidak mengesakan-Nya?! Mengapa kalian menyekutukan-Nya dengan selain-Nya?! Mengapa kalian beribadah kepada-Nya dan juga kepada selain-Nya?!
Alasan Kaum Musyrikin Menyembah Berhala
Orang-orang musyrik zaman dahulu tidak meyakini bahwa sembahan mereka bisa menciptakan dan mengatur alam semesta. Mereka juga tidak meyakini bahwa sembahan mereka bisa memberikan rezeki atau menolaknya.
Lantas, kenapa mereka tetap beribadah kepada berhala-berhala mereka?
Karena 2 alasan:
- Mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain-Nya (berkata): ‘Kami tidak beribadah kepada mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)
Maka, kalau ada orang yang rukuk dan sujud ke makam yang dikeramatkan, lalu ia berkata, “Saya rukuk dan sujud ke makam keramat ini, supaya si penghuni makam ini mendekatkan diri saya kepada Allah”, berarti ia sudah sama dengan orang-orang musyrik di zaman Nabi!
- Mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu bisa memberikan syafaat di hadapan Allah. Bisa menjadi perantara antara diri mereka dengan Allah. Perantara yang menyampaikan permohonan mereka kepada Allah.
Allah berfirman:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
“Dan mereka beribadah kepada selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak pula memberi manfa’at, dan mereka (musyrikin) berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di hadapan Allah.” (QS. Yunus: 18)
Maka, kalau ada orang yang rukuk dan sujud ke makam yang dikeramatkan, lalu ia berkata, “Saya rukuk dan sujud ke makam keramat ini, supaya si penghuni makam ini memberikan kepada saya syafaat. Supaya ia menjadi perantara antara diri saya dengan Allah. Supaya ia menyampaikan permohonan saya kepada Allah”, berarti ia sudah sama dengan orang-orang musyrik di zaman Nabi!
Karena itu, selama seseorang masih menyekutukan Allah dalam hal peribadatan, ia adalah musyrik, walaupun ia bergelar “syekh”, “habib”, “ustaz”, “kiai”, “tuan guru”, “buya”, dan gelar lainnya yang “harum” di tengah masyarakat.
Siberut, 16 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya






