“Untuk apa membuang-buang waktu membahas syirik kuno?! Syirik yang kita hadapi di zaman now adalah syirik para penguasa yang memutuskan hukum dengan selain hukum Allah!”
Mungkin itulah reaksi sebagian orang tatkala kita sibuk menjelaskan haramnya perdukunan, istigasah kepada penghuni kubur, jimat, dan berbagai bentuk syirik lainnya.
Bagi mereka, seakan-akan tidak ada lagi orang yang percaya kepada perdukunan di masa ini. Seolah-olah tidak ada lagi orang yang istigasah kepada orang mati di zaman ini. Sepertinya tidak ada lagi orang yang mengagungkan benda-benda keramat di hari ini. Padahal….
Fenomena kemusyrikan tersebut begitu banyak dan bisa kita saksikan dengan mata kita, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Maka, bagaimana bisa membahas itu dan memperingatkan umat untuk tidak melakukan itu dianggap sebagai perbuatan membuang-buang waktu?!
Ada sebuah pertanyaan diajukan kepada Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz:
هناك من الناس من يقول : أنتم تضيعون أوقاتكم في بيان الشرك القديم وهو التوسل بالقبور والاستغاثة فيهم ، وتنسون الشرك الحديث شرك الحاكمية أو شرك الحكام ، والأولى عنده الاشتغال بتكفير الحكام ، والعمل على الخروج على عليهم أولى من العمل على الدعوة في هذه الأيام ، فهل هذا صحيح؟
“Ada orang yang berkata, ‘Kalian menyia-nyiakan waktu kalian untuk menjelaskan syirik zaman dahulu yaitu tawasul dan istigasah kepada penghuni kubur, dan melupakan syirik zaman modern yaitu syirik dalam masalah hukum atau syiriknya para penguasa!’ Yang lebih utama-menurutnya-adalah menyibukkan diri untuk mengafirkan para penguasa. Dan memberontak kepada mereka adalah lebih utama daripada melakukan aktivitas dakwah di hari-hari ini. Apakah itu benar?”
Syekh pun menjawab:
هذا غلط ، هؤلاء مساكين ، الأولى تصحيح عقائد الناس وتبصيرهم ، ويبين لهم حقيقة الشرك وعقيدة الكفر من جهة الوثنية ومن جهة الشيوعية ومن جهة الإباحية
“Itu keliru. Mereka itu orang-orang miskin (perlu dikasihani). Yang paling utama adalah memperbaiki akidah umat dan memberikan pencerahan kepada mereka serta menjelaskan kepada mereka hakekat kemusyrikan dan keyakinan kafir, baik itu paganisme, komunisme, dan permisivisme (paham yang membolehkan segala sesuatu).
أما منازعة السلاطين فلا ننازع ، هذا من شأن الخوارج ومن شأن المعتزلة ، هذا شأنهم ، هؤلاء فيهم شبه بأولئك الخوارج ، ما لهم هَمٌ إلا الخروج على السلاطين
Adapun memusuhi para penguasa, maka jangan kita memusuhi mereka. Itu merupakan kebiasaan kaum Khawarij dan Muktazilah. Itu kebiasaan mereka. Orang-orang tadi memiliki keserupaan dengan kaum Khawarij. Tidak ada keinginan mereka kecuali memberontak kepada para penguasa.
الواجب تصحيح أحوال الناس من الحاكم وغير الحاكم ، تصحيح أحوالهم ودعوتهم إلى الله ونصيحتهم ونصيحة العامة وبيان عقيدة الإسلام لهم .
Yang wajib adalah memperbaiki keadaan orang-orang, baik penguasa maupun selain penguasa. Memperbaiki keadaan mereka, mengajak mereka kepada Allah, menasihati mereka, dan menasihati masyarakat secara umum, serta menjelaskan akidah Islam kepada mereka.
الخروج وش ينفع ؟! ما فيه إلا القتل والفساد ، يخرجون وهم ضعفاء ، يَقتلون ويُقتلون ، هذا ما هو بالطريق السوي
Apa manfaat memberontak?! Tidak ada padanya kecuali pembunuhan dan kerusakan. Mereka memberontak dalam keadaan mereka lemah. Mereka membunuh dan terbunuh. Ini bukan cara yang lurus.
الطريق السوي تبصير الناس وتوجيه الناس إلى الخير ، ما هو بالخروج على الحكام بغير بصيرة فيقتل من هب ودب
Cara yang lurus yaitu memberikan pencerahan kepada orang-orang dan membimbing mereka menuju kebaikan. Bukan dengan memberontak kepada penguasa tanpa basirah, sehingga terbunuhlah orang-orang di sana-sini.” (http://www.saltaweel.com/articles/428)
Kita harus mengingkari syirik dalam segala bentuknya. Siapa pun yang terjatuh pada syirik, baik itu penguasa maupun rakyat biasa, maka kita harus mengingkarinya dan menasihatinya. Namun, tentu saja itu harus dengan kelembutan, dan bukan dengan kekasaran!
Siberut, 14 Dzulqa’dah 1445
Abu Yahya Adiya






