Setelah Nabi Adam ﷺ meninggal, umat manusia masih hidup sesuai dengan fitrah mereka yaitu mengesakan Allah. Ketika itu tidak ada yang namanya syirik. Tidak ada orang yang menyekutukan Allah. Tidak ada orang yang melakukan penyembahan terhadap berhala.
Sampai ketika memasuki masa Nabi Nuh ﷺ muncullah syirik. Itulah syirik yang pertama kali terjadi dalam sejarah umat manusia. Seperti apa syirik yang dilakukan umat Nabi Nuh?
Allah Ta’ala menceritakan itu:
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata, “Janganlah kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian, dan jangan pula kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr.” (QS. Nuh: 23)
Siapa itu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr?
Ibnu ‘Abbas menjelaskan:
أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ
“Ini adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nabi Nuh.
فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ، أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ
Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikan kepada kaum mereka agar membuat patung-patung mereka yang telah meninggal di tempat-tempat yang pernah diadakan pertemuan-pertemuan mereka, dan mereka disuruh memberikan nama-nama patung tersebut dengan nama-nama mereka.
فَفَعَلُوا، فَلَمْ تُعْبَدْ، حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ العِلْمُ عُبِدَتْ
Kemudian orang-orang tersebut melakukan apa yang dibisikan oleh setan, dan ketika itu patung-patung tersebut belum disembah. Hingga ketika orang-orang pembuat patung itu meninggal, dan ilmu agama dilupakan, barulah patung-patung tersebut disembah.” (HR. Bukhari)
Imam Ibnul Qayyim berkata:
وقال غير واحد من السلف: كان هؤلاء قوماً صالحين فى قوم نوح عليه السلام، فلما ماتوا عكفوا على قبورهم، ثم صوّروا تماثيلهم، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم.
“Banyak para ulama salaf menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal, orang-orang mendatangi kuburan mereka dan berdiam di situ, lalu mereka membuat patung-patung mereka. Kemudian setelah waktu berjalan beberapa lama, akhirnya mereka pun menyembah patung-patung tersebut.” (Ighatsah Al- Lahafan Min Mashayid Asy-Syaithan)
Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari kisah di atas:
1. Sikap berlebihan dalam beragama bisa mengantarkan pada kekafir
Sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh ﷺ. Karena berlebihan dalam menyikapi orang-orang saleh, akhirnya mereka jadi menyembah orang-orang saleh itu!
Dan sikap berlebihan dalam beragama pula yang menyebabkan kaum Nashrani terjatuh dalam kekafiran.
Mereka mengagungkan Nabi Isa ﷺ secara berlebihan, sampai menganggapnya sebagai anak Allah, bahkan sampai menganggapnya Allah itu sendiri!
Allah berfirman:
يا أهل الكتاب لا تغلوا في دينكم ولا تقولوا على الله إلا الحق
“Wahai Ahli Kitab! Janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. An Nisa’: 171).
2. Tercelanya bidah.
Bidah itu tercela, walaupun pelakunya bermaksud baik.
Lihatlah kaum Nabi Nuh ﷺ. Mereka membuat perkara baru yang tidak pernah dicontoh oleh nabi sebelumnya.
Mereka membuat patung di kuburan orang-orang saleh untuk mengenang jasa mereka. Ya, mengenang jasa mereka. Bukankah ini terlihat baik?
Tapi itulah bidah. Itulah perkara baru yang tidak pernah diajarkan rasul sebelumnya, lantas apa hasilnya?
Patung-patung itu disembah oleh generasi berikutnya setelah mereka.
Inilah bahaya bidah. Makanya wajarlah kalau Islam melarang dan mencela perbuatan bidah.
Nabi ﷺ bersabda:
من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد
“Siapa yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami yang tidak termasuk di dalamnya, maka itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi ﷺ menyatakan bahwa perbuatan bidah itu tertolak.
Ya, tertolak. Artinya, itu tidak diterima oleh Allah. Artinya, perbuatan tersebut tidak berpahala, bahkan berdosa!
Karena itu, apapun perkara baru dalam agama, kalau memang tidak ada contoh, perintah atau anjuran dari Nabi ﷺ, maka perkara tersebut adalah sesat, walaupun orang-orang menganggapnya baik dan bagus.
‘Abdullah bin ‘Umar berkata:
كل بدعة ضلالة، وإن رآها الناس حسنة
“Setiap bidah itu sesat walaupun orang-orang memandangnya baik.” (Al-Ibanah ‘An Ushulid Diyanah)
3. Diharamkan membuat patung.
Nabi ﷺ bersabda:
أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ
“Janganlah engkau meninggalkan patung-patung kecuali engkau hancurkan dan jangan pula engkau meninggalkan kubur yang meninggi kecuali engkau ratakan!” (HR. Muslim)
4. Kuburan bukanlah tempat untuk beribadah.
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ
“Jangan kalian melaksanakan salat dengan menghadap kubur!” (HR. Muslim)
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا، وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ
“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan, dan jangan jadikan kuburku sebagai tempat perayaan. Ucapkanlah salawat untukku, karena sesungguhnya ucapan salawat kalian akan sampai kepadaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud)
5. Pentingnya ilmu agama.
Imam Ibnul Jauzi berkata:
اعلم أن أول تلبيس إبليس عَلَى الناس صدهم عَنِ العلم لأن العلم نور فَإِذَا أطفا مصابيحهم خبطهم فِي الظلم كيف شاء
“Ketahuilah, perangkap iblis yang pertama kali diberikan kepada umat manusia yaitu menghalangi mereka dari ilmu. Sebab, ilmu itu cahaya. Kalau iblis sudah mematikan cahaya mereka, maka ia bisa memasukkan mereka ke dalam kegelapan dengan cara apa saja yang ia suka.” (Talbis Iblis)
Kalau seseorang sudah jauh dari ilmu, malas menuntuti ilmu, apalagi enggan menuntut ilmu, maka akan sangat mudah bagi iblis untuk menjerumuskannya ke lembah dosa.
Lihatlah kaum Nabi Nuh ﷺ tatkala mereka jauh dari ilmu dan melupakan ilmu. Iblis menyeret mereka ke dalam lubang dosa. Bukan dosa biasa. Bahkan itu adalah dosa paling besar di antara dosa-dosa besar yaitu syirik.
Siberut, 4 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Ighatsah Al- Lahafan Min Mashayid Asy–Syaithan karya Imam Ibnul Qayyim.
- Al-Ibanah Al-Kubra karya Imam Ibnu Baththah.
- Talbis Iblis karya Imam Ibnul Jauzi.






