Kenapa Ahli Kalam Sampai Dibenci?

Kenapa Ahli Kalam Sampai Dibenci?

“Kesaksian ahli bidah dan pengikut hawa nafsu tidak diizinkan.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilm wa Fadhlih)

Itulah pernyataan tegas Imam Malik bin Anas.

Siapa pengikut hawa nafsu yang dimaksudkan oleh Imam Malik itu?

Imam Ibnu Khuwaiz Mandad (wafat tahun 390 H) menjelaskan:

أَهْلُ الْأَهْوَاءِ عِنْدَ مَالِكٍ وَسَائِرِ أَصْحَابِنَا هُمْ أَهْلُ الْكَلَامِ فَكُلُّ مُتَكَلِّمٍ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ وَالْبِدَعِ أَشْعَرِيًّا كَانَ أَوْ غَيْرَ أَشْعَرِيٍّ وَلَا تُقْبَلُ لَهُ شَهَادَةٌ فِي الْإِسْلَامِ وَيُهْجَرُ وَيُؤَدَّبُ عَلَى بِدْعَتِهِ، فَإِنْ تَمَادَى عَلَيْهَا اسْتُتِيبَ مِنْهَا

“Pengikut hawa nafsu menurut Malik dan para sahabat kami yang lain yaitu ahli kalam. Setiap ahli kalam termasuk pengikut hawa nafsu dan bidah, baik ia seorang penganut Asy’ariyyah maupun selain Asy’ariyyah. Tidak diterima kesaksiannya dalam Islam, ia diboikot dan diberikan pelajaran karena bidah yang ada padanya. Kalau ia terus seperti itu, maka dimintai tobat.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilm wa Fadhlih)

Kenapa ahli kalam sampai diperlakukan seperti itu?

Imam Ibnu ‘Abdil Barr berkata:

لَيْسَ فِي الِاعْتِقَادِ كُلِّهِ فِي صِفَاتِ اللَّهِ وَأَسْمَائِهِ إِلَّا مَا جَاءَ مَنْصُوصًا فِي كِتَابِ اللَّهِ أَوْ صَحَّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَوْ أَجْمَعَتْ عَلَيْهِ الْأُمَّةُ وَمَا جَاءَ مِنْ أَخْبَارِ الْآحَادِ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ أَوْ نَحْوِهِ يَسْلَمُ لَهُ وَلَا يُنَاظَرُ فِيهِ

“Tidak termasuk bagian akidah tentang sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya kecuali apa yang disebutkan dalam kitab Allah atau yang sahih dari Rasulullah ﷺ atau yang disepakati oleh umat. Dan kabar tentang semua itu atau semacamnya dari hadis-hadis ahad, itu diterima dan tidak diperdebatkan.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilm wa Fadhlih)

Ahli kalam menetapkan perkara akidah, seperti nama dan sifat Allah, bukan dengan Al-Quran atau As-Sunnah maupun ijmak, melainkan berdasarkan akal dan metode perdebatan.

Padahal, sehebat apa pun akal manusia tetap saja lemah. Karena itu, kalau keyakinan dibangun berdasarkan akal manusia dan hasil perdebatan sesama mereka, maka itu hanya akan membuahkan kesesatan demi kesesatan.

Makanya wajarlah kalau Imam Asy-Syafi’i sampai berkata:

وَمَا شَيْءٌ أَبْغَضُ إِلَيَّ مِنَ الكَلاَمِ وَأَهْلِهِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih kubenci daripada ilmu kalam dan orang yang menggelutinya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

 

Siberut, 25 Rabi’ul Awwal 1445

Abu Yahya Adiya