Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah tidak mampu memberi rezeki kepada kalian, maka mintalah rezeki pada Allah dan beribadahlah kepada-Nya serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Ankabut: 17)
Faidah yang bisa kita petik dari ayat ini:
- Rezeki itu di tangan Allah.
Maka, sia-sialah orang yang meminta rezeki kepada para nabi, para malaikat, para jin, apalagi kuburan, pepohonan, dan batu-batuan yang dikeramatkan!
Allah berfirman:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
“Bukankah Dia yang mengabulkan do’a orang yang dalam kesulitan jika ia berdo’a kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan serta menjadikan kalian sebagai pemimpin di bumi? Apakah ada sembahan yang lain selain Allah? Alangkah sedikitnya nikmat Allah yang kalian ingat.” (QS. An Naml: 62).
- Meminta rezeki adalah ibadah.
Sebab, itu telah Allah perintahkan. Sedangkan apa yang Allah perintahkan pasti Dia cintai. Sementara segala perbuatan yang Dia cintai itu adalah ibadah.
Syekhul Islam berkata:
الْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة
“Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang Allah cintai dan Allah ridai baik berupa perkataan maupun perbuatan yang tersembunyi maupun yang nampak.” (Al-‘Ubudiyyah)
Kalau memang meminta rezeki adalah ibadah, berarti…
- Wajib meminta rezeki kepada-Nya semata.
Artinya, meminta rezeki kepada selain-Nya adalah…
- Diharamkan meminta rezeki kepada selain-Nya.
Sebab, itu adalah syirik. Perbuatan paling sesat dan paling jahat!
Allah berfirman:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat mengabulkan doa sampai hari kiamat sedangkan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan yang mereka lakukan.” (QS. Al-Ahqaf: 5-6)
Sudah jelas tidak bisa mendengar orang yang berdoa kepadanya, tapi masih juga berdoa kepadanya.
Sudah jelas tidak bisa memberi rezeki kepada orang yang memohonnya, tapi masih juga memohon rezeki kepadanya.
Bukankan perbuatan seperti itu adalah perbuatan yang sangat sesat?
Dan bukankah orang yang melakukannya adalah orang yang paling sesat?
- Wajibnya mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah.
Allah berfirman:
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ
“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman! Sesungguhnya bumi-Ku luas, maka beribadahlah hanya kepada-Ku.” (QS. Al-‘Ankabuut: 56)
- Wajibnya bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Dia berikan.
- Salah satu kunci mendapat rezeki adalah ibadah. Dan salah satu kunci langgengnya rezeki adalah syukur.
Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan berkata:
ذكرهما بعد طلب الرزق لأن الأول أي العبادة سبب لحدوث الرزق والثاني أي الشكر موجب لبقائه وسبب لمزيد عليه
“Allah menyebutkan keduanya (ibadah dan syukur) setelah meminta rezeki. Karena, yang pertama yaitu ibadah adalah sebab terjadinya rezeki. Sedangkan yang kedua, yaitu syukur itu menyebabkan langgengnya rezeki dan juga sebab bertambahnya rezeki.” (Fath Al-Bayan Fii Maqashid Al-Quran)
- Semua orang akan kembali kepada Allah mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama di dunia. Maka, persiapkanlah!
Siberut, 22 Syawwal 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Fath Al-Bayan Fii Maqashid Al-Quran karya Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan






