Kadang seseorang menyaksikan orang yang sudah meninggal muncul di suatu malam sehingga ia tercengang dan berkata: “Kenapa ia bisa muncul lagi? Apa yang ia inginkan?”
Suatu malam Abu Hurairah menangkap pencuri harta zakat. Setelah ditangkap, ia mengemukakan berbagai alasan yang membuat Abu Hurairah iba sehingga akhirnya Abu Hurairah melepaskannya.
Lalu esok malamnya orang itu mencuri lagi harta zakat dan itu diketahui oleh Abu Hurairah. Maka Abu Hurairah menangkapnya kembali. Namun, setelah ditangkap, ia mengemukakan lagi berbagai alasan yang membuat Abu Hurairah iba sehingga akhirnya Abu Hurairah melepaskannya.
Dan esok malamnya orang itu mencuri lagi harta zakat dan itu diketahui oleh Abu Hurairah. Maka Abu Hurairah menangkapnya kembali. Namun, setelah ditangkap, ia berkata:
دَعْنِي أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا
“Lepaskanlah aku! Aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadamu.”
Abu Hurairah bertanya:
مَا هُوَ؟
“Apa itu?”
Orang itu berkata:
إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ} [البقرة: 255]، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ
“Bila engkau menuju tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi Allaahu laa ilaaha illaa huwal-hayyul-qayyuum, hingga akhir ayat. Sesungguhnya dengan membaca itu, engkau senantiasa dalam perlindungan Allah dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu Subuh.”
Lalu Abu Hurairah melepaskan kembali orang itu. Keesokan harinya, kejadian itu ia kabarkan kepada Nabi ﷺ. Maka beliau ﷺ bersabda:
أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ
“Sesungguhnya ia telah jujur kepadamu kali ini, padahal ia pendusta! Tahukah engkau siapa yang telah engkau ajak bicara semenjak tiga hari ini wahai Abu Hurairah?”
Abu Hurairah menjawab:
لاَ
“Tidak.”
Beliau ﷺ bersabda:
ذَاكَ شَيْطَانٌ
“Ia adalah setan!” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa setan dan jin bisa menjelma dalam bentuk manusia. Kita bisa melihat jin dan setan dalam bentuk penjelmaan.
Allah berfirman:
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ
“Sesungguhnya ia (setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari arah yang kalian tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raaf: 27)
Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan menjelaskan:
(من حيث لا ترونهم) أي إذا كانوا على صورهم الأصلية، أما إذا تصوروا في غيرها فترونهم كما وقع كثيراً،
“Dari arah yang kalian tidak bisa melihat mereka, yakni jika mereka dalam bentuk mereka yang asli. Adapun jika mereka menampakkan diri dalam selain bentuk asli mereka, maka kalian bisa melihat mereka, sebagaimana itu banyak terjadi.” (Fath Al-Bayan Fii Maqashid Al-Quran)
Ya, banyak terjadi.
Syekhul Islam berkata:
وَالشَّيْطَانُ كَمَا قَدْ يَتَمَثَّلُ فِي الْمَنَامِ بِصُورَةِ شَخْصٍ فَقَدْ يَتَمَثَّلُ أَيْضًا فِي الْيَقَظَةِ بِصُورَةِ شَخْصٍ يَرَاهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ
“Setan, sebagaimana dalam mimpi kadang bisa menyerupai bentuk seseorang, maka begitu pula dalam keadaan terjaga, ia bisa menyerupai bentuk seseorang yang bisa dilihat oleh banyak orang.
يُضِلُّ بِذَلِكَ مَنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ، كَمَا يَجْرِي لِكَثِيرٍ مِنْ مُشْرِكِي الْهِنْدِ وَغَيْرِهِمْ إِذَا مَاتَ مَيِّتُهُمْ يَرَوْنَهُ قَدْ جَاءَ بَعْدَ ذَلِكَ وَقَضَى دُيُونًا، وَرَدَّ وَدَائِعَ وَأَخْبَرَهُمْ بِأُمُورٍ عَنْ مَوْتَاهُم، وَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ تَصَوَّرَ فِي صُورَتِهِ
Dengan itu ia banyak menyesatkan orang-orang yang bukan termasuk orang berilmu dan beriman. Sebagaimana itu terjadi pada banyak orang-orang musyrik di India, dan selain mereka, jika salah seorang dari mereka meninggal dunia. Mereka bisa melihatnya datang setelah kematiannya dan menunaikan hutang, mengembalikan titipan, dan mengabarkan kepada mereka perkara tentang orang yang telah mati di antara mereka. Padahal itu adalah setan yang menampakkan diri dalam bentuk orang yang sudah meninggal tadi.
وَقَدْ يَأْتِيهِمْ فِي صُورَةِ مَنْ يُعَظِّمُونَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ، وَيَقُولُ: أَنَا فُلَانٌ، وَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ.
Dan kadang setan mendatangi mereka dalam bentuk sosok orang saleh yang mereka agungkan dan berkata, ‘Aku adalah fulan’. Padahal ia adalah setan.” (Al-Jawab Ash-Shahih Liman Baddala Diin Al-Masih)
Maka, tak ada yang namanya roh gentayangan. Yang ada adalah setan gentayangan!
Siberut, 3 Rabi’ul Awwal 1444
Abu Yahya Adiya






