“Aku beribadah hanya kepada Allah. Adapun menyeru wali ini dan memohon pertolongan kepadanya ketika mengalami kesulitan, itu bukanlah beribadah kepadanya!”
Itulah mungkin reaksi yang muncul dari penyembah makam seorang “wali” tatkala kita mengingatkannya agar tidak beribadah kepada selain-Nya. Ia menyangka bahwa yang ia lakukan terhadap makam “wali” itu bukanlah ibadah kepadanya.
Padahal, Allah telah berfirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً
“Memohonlah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raaf: 55)
Memohonlah kepada Tuhanmu. Bukankah ini perintah untuk beribadah kepada Tuhanmu?
Mau tidak mau ia akan berkata, “Ya. Itu adalah perintah untuk beribadah. Menyeru dan memohon memang adalah ibadah.”
Kalau memang engkau mengakui bahwa itu adalah ibadah, lalu ternyata engkau menyeru seorang wali, dan memohon pertolongan dan perlindungan kepadanya, bukankah itu artinya engkau telah beribadah kepadanya dan telah menyekutukan Tuhanmu dengannya?
Mau tidak mau ia akan berkata, “Ya.”
Kalau begitu, untuk apa engkau menyeru “wali”,dan memohon pertolongan dan perlindungan kepadanya?
Sampai Mereka Berkurban Hanya Karena-Nya
Begitu pula mengenai penyembelihan dan kurban, Allah telah berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al Kautsar : 2)
Bukankah ini perintah untuk beribadah kepada Tuhanmu?
Mau tidak mau ia akan berkata, “Ya. Itu adalah perintah untuk beribadah. Salat dan berkurban memang adalah ibadah.”
Kalau memang engkau mengakui bahwa itu adalah ibadah, lalu ternyata engkau berkurban atau menyembelih hewan untuk jin, nabi dan wali, bukankah itu artinya engkau telah beribadah kepada mereka dan menyekutukan Tuhanmu dengan mereka?
Mau tidak mau ia akan berkata, “Ya.”
Kalau begitu, untuk apa engkau mempersembahkan kurban atau sembelihan kepada “wali”?
Bukankah engkau tahu bahwa orang-orang musyrik dahulu beribadah kepada para malaikat, orang-orang saleh, Laata, dan selain itu?
Mau tidak mau ia akan berkata, “Ya.”
Kalau memang engkau mengakui itu, maka pertanyaannya yaitu bukankah peribadatan mereka kepada semua itu adalah dalam hal doa, penyembelihan, memohon pertolongan dan perlindungan dan semacamnya?
Mau tidak mau ia akan berkata, “Ya.”
Kalau begitu, untuk apa engkau menyeru “wali”, memohon pertolongan kepadanya dan mempersembahan sembelihan kepadanya?
Jangan menyekutukan Tuhanmu dengan siapa pun selain-Nya. Kalau tidak, engkau kelak akan menyesal di hadapan-Nya.
Siberut, 12 Rabi’ul Awwal 1442
Abu Yahya Adiya






