“Kamu mengganggap saya musyrik?!” Mungkin itulah reaksi yang muncul kalau kita menegur orang yang meminta tolong kepada penghuni kubur. Ia tidak rela kalau perbuatannya dianggap syirik.
“Saya tidak menyekutukan Allah”, katanya juga.
“Bahkan, saya bersaksi bahwa hanya Allah lah yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta. Hanya Dialah yang memberikan manfaat dan menolak bahaya. Adapun nabi, apalagi para wali, mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Namun”, tambahnya lagi, “Saya ini orang kotor, penuh dosa, sedangkan mereka adalah sosok yang saleh dan mulia. Karena itu, aku meminta kepada Allah lewat mereka.”
Ia tidak sadar bahwa musyrikin Quraisy pun meyakini bahwa hanya Allah yang mampu melakukan semua itu dan mereka pun tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka mampu melakukan itu.
Lihatlah firman-Nya:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ
“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (menghidupkan dan mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.” (QS. Yunus: 31).
Lihatlah, orang-orang kafir yang diperangi oleh Nabi ﷺ pun meyakini bahwa satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta adalah Allah. Mereka meyakini bahwa hanya Allah lah yang memberikan manfaat dan menolak bahaya. Bukan berhala-berhala mereka!
Namun, keyakinan itu tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka masih menyekutukan Tuhan mereka. Mereka masih beribadah kepada Allah dan juga kepada berhala-berhala mereka.
Patung dan Bukan Patung Adalah Sama
“Kamu mau menyamakan saya dengan para penyembah patung?!” Mungkin itulah reaksi yang akan muncul lagi darinya. Ia akan memprotes kita, dan menganggap kita keterlaluan, karena sudah menyamakan dirinya dengan Abu Jahl, Abu Lahab, dan gembong musyrik Quraisy lainnya.
Menurutnya, tidak pantas menyamakan musyirikin Quraisy yang notabene para penyembah patung, dengan dirinya yang mengagungkan dan menghormati “wali Allah”! Padahal….
Orang-orang musyrik di zaman dulu ada yang menyembah para malaikat dan nabi (lihat QS. Saba’: 40-41 dan Al-Maidah: 116).
Dan ada juga yang menyembah orang-orang saleh (lihat QS. Al-Isra’: 56-57).
Dan ada juga yang menyembah matahari dan bulan. (lihat QS. Fushshilat : 37)
Berbeda-beda Tapi Musyrik Jua
Sembahan orang-orang musyrik zaman dahulu berbeda-beda. Walaupun begitu, Nabi ﷺ tidak membeda-bedakan mereka. Nabi menganggap mereka semua sama. Sama-sama musyrik. Karena itu, Nabi ﷺ memerangi mereka semua, tanpa terkecuali!
Allah Ta’ala berfirman:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ
“Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata.” (QS. Al-Baqarah : 193)
Apa maksud sehingga tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata?
Imam Ath-Thabari berkata:
حتى لا يكون شركٌ بالله، وحتى لا يُعبد دونه أحد
“Yaitu sehingga tidak ada lagi penyekutuan terhadap Allah dan hingga tidak ada seorang pun yang diibadahi selain-Nya.” (Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Quran)
Artinya, selama mereka masih menyekutukan Allah, perangi mereka!
Selama mereka beribadah kepada selain-Nya, entah itu nabi, malaikat, orang saleh, kuburan, dan pepohonan, perangilah mereka!
Tujuan Peribadatan Kaum Yang Diperangi Nabi
“Bagaimana bisa kamu mau memerangiku?” mungkin itulah protes yang muncul berikutnya.
“Orang-orang musyrik itu mengharapkan rezeki, dan keselamatan dari berhala-berhala itu. Sedangkan saya hanya mengharapkan itu dari-Nya. Sebab, hanya Allah lah yang memberi rezeki dan menolak bahaya. Sedangkan para wali itu tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk melakukan itu. Hanya saja, saya menghadap kepada mereka, supaya saya dekat dengan-Nya dan agar Dia memberikan kepada saya syafaat mereka.”
Padahal, itulah hakekat peribadatan musyrikin jahiliah kepada berhala-berhala mereka.
Bacalah firman-Nya:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
“Dan mereka beribadah kepada selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak pula memberi manfaat, dan mereka (musyrikin) berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di hadapan Allah.” (QS. Yunus: 18)
Dan baca juga firman-Nya:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain-Nya (berkata): ‘Kami tidak beribadah kepada mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)
Karena itu….
Tidak ada bedanya, apakah engkau berlindung kepada batu, atau berlindung kepada nabimu.
Tidak ada bedanya, apakah engkau bergantung kepada malaikat, atau bergantung kepada makam keramat.
Tidak ada bedanya, apakah engkau rukuk dan sujud kepada pepohonan, atau rukuk dan sujud kepada kuburan!
Tidak ada bedanya, apakah engkau menyembelih hewan untuk setan, atau menyembelih hewan untuk seorang yang saleh dan beriman!
Tidak ada bedanya semua itu. Itu semua syirik, dan dengan melakukan itu, engkau pantas divonis sebagai musyrik!
Siberut, 10 Rabi’ul Awwal 1442
Abu Yahya Adiya






