Sangkaan Jahiliah

Kaum muslimin akan kalah dan Islam akan lenyap dari tanah Arab. Itulah prasangka orang-orang munafik setelah kaum muslimin mengalami kekalahan dalam perang Uhud.

Allah menceritakan demikian dalam Al-Quran:

يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ

“Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, ‘Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini?’

قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ

Katakanlah, ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah’. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu.

يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا

Mereka berkata, ‘Seandainya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan terbunuh di sini.” (QS. Ali-‘Imran: 154)

Sangkaan jahiliah yaitu sangkaan bahwa Allah tidak menolong rasul-Nya.

Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini? ini pertanyaan bermakna peniadaan. Yaitu tidak ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini.

Urusan itu seluruhnya di tangan Allah bukan di tangan kalian atau selain kalian.

Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu artinya mereka menyembunyikan kekafiran dan pendustaan namun menampakkan keimanan dan pembenaran.

Seandainya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan terbunuh di sini artinya seandainya kami mau berpikir, tentu kami tidak akan berperang bersama Muhammad dan para sahabatnya, sehingga akhirnya terbunuhlah pemimpin-pemimpin kami.

 

Faidah yang bisa kita petik dari ayat di atas:

 

  1. Siapa yang menyangka bahwa Allah akan memenangkan kebatilan di atas kebenaran secara terus-menerus sehingga hilanglah kebenaran secara total, maka sungguh ia telah berprasangka tidak benar kepada Allah, prasangka jahiliyah.

 

  1. Haramnya berprasangka buruk kepada Allah.

Ibnu Qoyyim dalam menafsirkan ayat yang pertama mengatakan:

فُسِّر هذا الظن بأنه سبحانه لا ينصر رسوله، وأن أمره سيضمحِلّ

“Prasangka buruk ini maksudnya bahwa Allah Subhanahu tidak akan menolong Rasul-Nya, dan bahwa agama-Nya akan lenyap.

وفسر بأن ما أصابه لم يكن بقدر الله وحكمته

Dan ditafsirkan pula bahwa apa yang menimpa beliau bukan karena takdir Allah dan hikmah-Nya.

ففُسِّر

Maka, prasangka di sini ditafsirkan dengan:

بإنكار الحكمة

Mengingkari adanya hikmah dari Allah.

وإنكار القدر

Mengingkari takdir-Nya.

وإنكار أن يتم أمر رسوله وأن يظهره الله على الدين كله

Mengingkari bahwa agama yang dibawa Rasul-Nya akan sempurna dan dimenangkan Allah atas semua agama.

وهذا هو ظن السوء الذي ظنه المنافقون والمشركون في سورة الفتح

Itulah prasangka buruk yang disangka oleh orang-orang munafik dan orang-orang musyrik yang disebutkan dalam surat Al Fath.

وإنما كان هذا ظن السوء؛ لأنه ظن غير ما يليق به سبحانه وما يليق بحكمته وحمده ووعده الصادق

Itu merupakan prasangka buruk, karena itu prasangka yang tidak layak bagi Allah, tidak tidak sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, sifat terpuji-Nya, dan janji-Nya yang benar.

فمن ظن أنه يُديل الباطل على الحق إدالة مستقرّة يضمحلّ معها الحق، أو أنكر أن يكون ما جرى بقضائه وقدره، أو أنكر أن يكون قدَّرَه بحكمة بالغة يستحق عليها الحمد، بل زعم أن ذلك لمشيئة مجردة، فـ {ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ} [سورة ص: 27]

Karena itu, siapa yang berprasangka bahwa Allah akan memenangkan kebatilan atas kebenaran, sehingga selalu unggullah kebatilan lalu lenyaplah kebenaran, atau mengingkari bahwa apa yang terjadi adalah karena keputusan dan takdir-Nya, atau mengingkari bahwa apa yang Dia takdirkan adalah berdasarkan hikmah yang agung sehingga karenanya Dia berhak untuk dipuji, bahkan ia beranggapan bahwa yang terjadi adalah murni karena kehendak-Nya saja tanpa ada hikmahnya, maka itulah prasangka orang-orang kafir. Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.

وأكثر الناس يظنون بالله ظن السوء فيما يختص بهم، وفيما يفعله بغيرهم

Dan kebanyakan orang berprasangka buruk terhadap Allah, baik dalam perkara yang berkaitan dengan diri mereka sendiri, atau dalam hal yang berkaitan dengan apa yang Dia lakukan terhadap orang lain.

ولا يسلم من ذلك إلا من عرف الله وأسماءه وصفاته ومُوجب حكمته وحمده .

Tidak ada yang selamat dari itu kecuali orang yang mengenal Allah, nama-nama dan sifat-Nya, tuntutan hikmah-Nya dan pujian-Nya.

فليعتن اللبيب الناصح لنفسه بهذا، وليتب إلى الله ويستغفره من ظنه بربه ظن السوء.

Maka hendaknya orang yang berakal dan menginginkan kebaikan untuk dirinya memerhatikan hal ini. Hendaknya ia bertobat dan beristigfar kepada Allah dari prasangka buruk terhadap Tuhannya.

ولو فتَّشت من فتشت لرأيت عنده تعنتاً على القدر وملامة له، وأنه كان ينبغي أن يكون كذا وكذا،

Kalau engkau selidiki siapa pun orangnya, niscaya engkau akan mendapati pada dirinya penentangan terhadap takdir dan celaan kepadanya, dengan mengatakan semestinya begini dan begitu.

فمستقلٌّ ومستكثر،

Ada yang sedikit penentangannya dan ada juga yang banyak.

 وفتِّش نفسك هل أنت سالم؟

Periksalah dirimu sendiri, apakah engkau telah selamat dari sikap tersebut?

فإن تنج منها تنج من ذي عظيمة

Jika engkau selamat darinya, berarti engkau selamat dari malapetaka yang besar.

وإلا فإني لا إخالك ناجيا

Jika tidak, sungguh, aku mengira engkau tidak akan selamat.” (Zaad Al-Ma’ad Fii Hadyi Khair Al-‘Ibaad)

 

  1. Wajib berprasangka baik terhadap Allah.

Sebesar apapun masalah yang menghadangmu, tetaplah berprasangka baik kepada Tuhanmu.

Separah apapun musibah yang menimpa dirimu, tetaplah berprasangka baik kepada Tuhanmu. Sebab…

Tuhanmu itu sesuai dengan prasangka dirimu.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقُولُ:

“Sesungguhnya Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku. Dan Aku selalu bersamanya selama ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Muslim)

 

  1. Sifat khas orang munafik adalah dusta dan bermuka dua.

 

  1. Larangan mengucapkan “seandainya” dan “kalau saja” ketika terjadi musibah dan perkara menyakitkan. Sebab, kata itu menunjukkan sikap tidak rida terhadap takdir Allah dan membangkitkan kesedihan dalam hati.

Siberut, 5 Shafar 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber: Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.