Sebab Kesesatan Jahm bin Shafwan

Sebab Kesesatan Jahm bin Shafwan

Karena bingung, Jahm bin Shafwan tidak melakukan salat selama 40 hari.

Itu buah dari perdebatannya dengan Summaniyyah. Summaniyyah adalah kelompok filosof India yang hanya mempercayai sesuatu yang bisa dijangkau pancaindera.

Suatu hari Jahm bin Shafwan bertemu dengan kelompok tersebut. Lalu mereka berkata kepadanya:

نكلمك، فإن ظهرت حجتنا عليك دخلت في ديننا، وإن ظهرت حجتك علينا دخلنا في دينك

“Kami mengajakmu dialog. Jika argumen kami mengunggulimu, maka engkau harus masuk ke ajaran kami. Dan jika argumenmu mengungguli kami, maka kami harus masuk ke ajaranmu.”

Jahm pun menyetujui tawaran mereka.

Lalu mereka bertanya kepadanya:

ألست تزعم أن لك إلَهًا؟

“Bukankah engkau mengklaim bahwa engkau memiliki Tuhan?”

Jahm menjawab:

نعم

“Ya.”

Mereka pun bertanya kepadanya:

فهل رأيت إلهك!

“Apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?”

Jahm menjawab:

لا

“Tidak.”

Mereka bertanya lagi kepadanya:

فهل سمعت كلامه؟

“Apakah engkau pernah mendengar perkataan-Nya?”

Jahm menjawab:

لا

“Tidak.”

Mereka bertanya lagi kepadanya:

فشممت له رائحة؟

“Lantas, pernahkah engkau mencium aroma-Nya?”

Jahm menjawab:

لا

“Tidak.”

Mereka bertanya lagi kepadanya:

فوجدت له حسًّا؟

“Lantas, pernahkah engkau merasai-Nya?”

Jahm menjawab:

لا

“Tidak.”

Dan mereka bertanya lagi:

فوجدت له مجسًّا؟

“Lantas, pernahkah engkau meraba-Nya?”

Jahm menjawab:

لا

“Tidak.”

Mereka pun berkata kepadanya:

فما يدريك أنه إله؟

“Kalau begitu, tahu darimana engkau bahwa itu adalah Tuhan?”

Bingunglah Jahm memikirkan perkataan mereka sehingga ia ragu akan Tuhannya. Saking bingungnya, ia sampai tidak melakukan salat selama 40 hari!

Setelah mengalami kebingungan, Jahm seakan-akan sadar lagi. Ia menemukan jawaban untuk membantah mereka.

Ia pun mendatangi salah seorang dari mereka, lalu ia berkata kepadanya:

ألست تزعم أن فيك روحًا؟

“Bukankah engkau mengklaim bahwa ada roh pada dirimu?”

Orang itu menjawab:

نعم

“Ya.”

Jahm pun bertanya kepadanya:

هل رأيت روحك؟

“Apakah engkau pernah melihat rohmu?”

Orang itu menjawab:

لا

“Tidak.”

Jahm bertanya lagi kepadanya:

فسمعت كلامه؟

“Lantas, pernahkah engkau mendengar perkataannya?”

Orang itu menjawab:

لا

“Tidak.”

Jahm bertanya lagi kepadanya:

فوجدت له حسًّا؟

“Lantas, pernahkah engkau merasainya?”

Orang itu menjawab:

لا

“Tidak.”

Maka Jahm pun berkata:

فكذلك الله لا يرى له وجه، ولا يسمع له صوت، ولا يشم له رائحة، وهو غائب عن الأبصار، ولا يكون في مكان دون مكان

“Maka demikian pula Allah. Tidak terlihat wajah-Nya, tidak terdengar suara-Nya, tidak tercium aroma-Nya, dan Dia tersembunyi dari pandangan serta tidak berada di suatu tempat tanpa tempat yang lain.” (Ar-Radd ‘Alaa Al-Jahmiyyah wa Az-Zanaadiqah)

Dengan perkataannya itu, Jahm seolah-olah telah membantah perkataan mereka, tapi sebenarnya setan telah menggelincirkannya pada kesesatan yang sangat parah.

Akibat debat tersebut ia masih meyakini keberadaan Allah, tapi tanpa nama dan sifat.

Artinya, ia meyakini bahwa Allah itu ada, tapi Dia tidak memiliki nama dan sifat!

Selain itu, ia juga meyakini bahwa Allah ada di mana-mana dan Dia tidak bisa dilihat di akhirat!

Bukankah itu keyakinan yang kufur dan benar-benar sesat?

 

Siberut, 27 Rabi’ul Awwal 1444

Abu Yahya Adiya