Sedekah Cicit Nabi di Malam Hari

Sedekah Cicit Nabi di Malam Hari

Dulu orang-orang miskin di Madinah selalu mendapatkan pasokan makanan di malam hari. Pasokan makanan itu disalurkan oleh orang yang tidak dikenal. Namun, suatu malam, pasokan makanan itu terhenti ketika ada orang Madinah yang meninggal.

Yang meninggal itu adalah ‘Ali bin Al-Hushain yaitu cicit Nabi ﷺ dan juga cucu ‘Ali bin Abi Thalib.

Ketika orang-orang memandikan jenazahnya, mereka mendapati warna hitam di punggungnya. Mereka pun bertanya:

ما هذا؟

“Apa ini?”

Ada yang menjawab:

كان يحمل جرب الدقيق ليلاً على ظهره يعطيه فقراء أهل المدينة.

“Dulu ia sering memikul karung gandum di punggungnya pada malam hari. Lalu ia berikan itu kepada orang-orang miskin di Madinah.”

Ibnu ‘Aisyah berkata:

قال أبي: سمعت أهل المدينة يقولون:

“Ayahku berkata, ‘Aku mendengar penduduk Madinah berkata:

ما فقدنا صدقة السر حتى مات علي بن الحسين.

“Kami selalu mendapatkan sedekah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi sampai meninggalnya ‘Ali bin Al-Husain.” (Sifatus Shafwah)

Allahu akbar!

Lihatlah apa yang dilakukan ‘Ali bin Al-Husain.

Ia begitu menjaga sedekahnya.  Ia ‘membungkus’ serapat mungkin amalnya. Dan itu bertahan hingga akhir hayatnya.

Apakah itu mudah baginya?

Bukankah tabiat manusia suka pujian?

Bukankah sifat asal manusia suka penghargaan?

Ya, tentu saja. Namun, ‘Ali bin Al-Husain mengabaikan demikian dan lebih menyukai pujian dan penghargaan dari-Nya. Semoga Allah merahmatinya…

 

Siberut, 25 Dzulqa’dah 1442

Abu Yahya Adiya