Serba-Serbi Salat Kusuf (Gerhana)

Serba-Serbi Salat Kusuf (Gerhana)

 

  1. Apa hukum salat gerhana?

Abu Musa Al-Asy’ari berkata:

خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ فَقَامَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ، فَقَامَ يُصَلِّي بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ، مَا رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِي صَلَاةٍ قَطُّ

“Pernah terjadi gerhana matahari di zaman Nabi ﷺ. Lalu beliau bangun dalam keadaan terkejut khawatir terjadi kiamat. Kemudian beliau mendatangi masjid lalu melaksanakan salat dengan berdiri, rukuk, dan sujud yang sangat lama. Aku belum pernah menyaksikan beliau melaksanakan salat seperti itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan di antara isi khutbah beliau ﷺ setelah salat gerhana:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ، يُخَوِّفُ اللهُ بِهِمَا عِبَادَهُ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا، وَادْعُوا اللهَ حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan Allah yang Allah gunakan untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dan keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang. Karena itu, jika kalian melihat tanda-tanda itu, maka salatlah dan berdoalah kepada Allah hingga disingkap apa yang menutupi kalian.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, setelah Nabi ﷺ menyelesaikan khutbahnya beliau ditanya para sahabatnya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلْتَ شَيْئًا فِي مَقَامِكَ هَذَا، ثُمَّ رَأَيْنَاكَ تَكَعْكَعْتَ؟

“Wahai Rasulullah, kami melihatmu mengambil sesuatu di tempat berdirimu, kemudian kami melihatmu mundur ke belakang.”

Beliau ﷺ bersabda.

إِنِّي رَأَيْتُ الجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ عُنْقُودًا، وَلَوْ أَصَبْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَأُرِيتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَاليَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ

“Sesungguhnya aku melihat surga, maka aku berusaha mengambil setandan (buah-buahan). Seandainya aku berhasil meraihnya, niscaya kalian akan dapat memakannya selama dunia ini masih ada. Dan diperlihatkan juga kepadaku neraka, maka aku belum pernah melihat pemandangan yang lebih menyeramkan dari pemandangan hari ini. “(HR. Bukhari dan Muslim)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

فالقول بالوجوب أقوى من القول بالاستحباب.

“Pendapat yang menyatakan wajibnya salat gerhana lebih kuat daripada pendapat yang menyatakan sunnah itu.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)

Mengapa itu lebih kuat?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

لأن النبي ﷺ أمر بها وخرج فزعاً، وقال: إنها تخويف، وخطب خطبة عظيمة، وعُرضت عليه الجنة والنار، وكل هذه القرائن العظيمة تشعر بوجوبها؛

“Sebab, Nabi ﷺ memerintahkannya, beliau juga keluar dalam keadaan terkejut, dan berkata bahwa gerhana itu Allah gunakan untuk menakut-nakuti. Beliau pun berkhutbah dengan khutbah yang agung, dan ditampakkan kepada beliau surga dan neraka. Semua tanda besar ini menunjukkan wajibnya salat gerhana.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)

Ya, wajibnya salat gerhana. Namun, apakah maksud wajib di sini adalah fardu ain atau fardu kifayah?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

وإذا قلنا بالوجوب؛ الظاهر أنه على الكفاية.

“Dan jika kita katakan wajib, maka yang tampak maksudnya yaitu fardu kifayah.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)

 

  1. Apakah disyaratkan harus berjamaah?

Sabda Nabi ﷺ dalam hadis yang disebutkan tadi: “Jika kalian melihat tanda-tanda itu, maka salatlah….” (HR. Muslim)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

فهذا عام، ولم يقل النبي ﷺ: فصلوا في مساجدكم، مثلاً، فدل ذلك على أنه يؤمر بها حتى الفرد، ولكن لا شك أن اجتماع الناس أول.

“Sabda beliau ini umum dan Nabi ﷺ tidak mengatakan, ‘Salatlah di masjid-masjid kalian!’ contohnya. Ini menunjukkan bahwa diperintahkan untuk melaksanakan salat gerhana walaupun satu orang. Akan tetapi, tidak diragukan bahwa dengan berkumpulnya orang-orang itu lebih utama….” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)

Berarti, boleh seseorang melaksanakan salat gerhana sendiri-sendiri atau berjamaah.

 

  1. Kapan waktu salat gerhana?

Sabda Nabi ﷺ dalam hadis yang disebutkan tadi: “maka salatlah dan berdoalah kepada Allah hingga disingkap apa yang menutupi kalian.”

Ini menunjukkan bahwa waktu salat gerhana itu adalah sampai gerhana tersebut hilang dan nampaklah cahaya matahari atau bulan.

Syekh Abu Malik Kamal berkata:

فجعل الانجلاء غاية للصلاة, لأنها شرعت رغبة إلى الله في رد نعمة الضوء, فإذا حصل ذلك حصل المقصود من الصلاة

“Nabi ﷺ menjadikan tampaknya cahaya sebagai akhir salat. Karena, salat tersebut disyariatkan sebagai bentuk pengharapan kepada Allah agar mengembalikan nikmat cahaya. Jika itu sudah terjadi, maka sudah terwujudlah maksud dari salat tadi.” (Shahih Fiqh As-Sunnah)

 

(bersambung)

 

Siberut, 14 Dzulhijjah 1442

Abu Yahya Adiya