- Apakah ada azan dan ikamah untuk salat Kusuf?
‘Aisyah berkata:
كُسِفَتِ الشَّمْسُ، فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رَجُلًا فَنَادَى: أَنِ
“Terjadi gerhana matahari maka Rasulullah ﷺ menyuruh seseorang untuk mengumandangkan:
الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ
“Marilah salat secara berjamaah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Ibnu Baththal berkata:
فيه: أن صلاة الكسوف لا أذان لها ولا إقامة، وإنما ينادى لها بالصلاة جامعة عند باب المسجد
“Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa salat kusuf itu tanpa azan dan ikamah, melainkan diserukan untuknya الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ (marilah salat secara berjamaah) di pintu masjid.” (Syarh Shahih Al-Bukhari)
- Bagaimana cara melaksanakan salat kusuf?
Imam Asy-Syaukani berkata:
وأصح ما ورد في صفتها ركعتان، في كل ركعة ركوعان، وورد ثلاثة، وأربعة، وخمسة، يقرأ بين كل ركوعين ما تيسر، وورد في كل ركعة ركوع
“Hadis paling sahih yang menyebutkan tentang tata caranya yaitu 2 rakaat dan di setiap rakaatnya ada 2 rukuk. Dan ada juga hadis yang menyebutkan 3 rukuk, 4 rukuk, dan 5 rukuk. Dan di antara 2 rukuk membaca ayat Al-Quran yang mudah. Dan ada juga hadis yang menyebutkan bahwa di setiap rakaat cuma 1 rukuk.” (Ad-Durar Al-Bahiyyah Fii Al-Masail Al-Fiqhiyyah)
Adapun salat kusuf dengan 2 rukuk pada setiap rakaat, maka itu berdasarkan hadis ‘Aisyah. Ia berkata:
جَهَرَ النَّبِيُّ ﷺ فِي صَلاَةِ الخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ، فَإِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَتِهِ كَبَّرَ، فَرَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ:
“Nabi ﷺ mengeraskan bacaan dalam salat gerhana. Jika selesai membaca, beliau bertakbir kemudian rukuk. Jika mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau mengucapkan:
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ
“Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian.”
ثُمَّ يُعَاوِدُ القِرَاءَةَ فِي صَلاَةِ الكُسُوفِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ
Kemudian beliau mengulang bacaannya dalam salat gerhana dengan empat kali rukuk dalam dua rakaat dan empat kali sujud.” (HR. Bukhari)
Adapun salat kusuf dengan 3 rukuk pada setiap rakaat, maka itu berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah. Ia berkata:
انْكَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ ابْنُ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ النَّاسُ: إِنَّمَا انْكَسَفَتْ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ، فَقَامَ النَّبِيُّ ﷺ فَصَلَّى بِالنَّاسِ سِتَّ رَكَعَاتٍ بِأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ
“Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah ﷺ pada hari kematian Ibrahim putra Rasulullah ﷺ. Lalu orang-orang pun berkata, ‘Gerhana ini terjadi karena kematian Ibrahim.’ Maka Nabi ﷺ pun berdiri lalu mengimami salat orang-orang dengan enam rukuk dan empat sujud.” (HR. Muslim)
Adapun salat kusuf dengan 4 rukuk pada setiap rakaat, maka itu berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbas. Ia berkata:
صَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ كَسَفَتِ الشَّمْسُ، ثَمَانَ رَكَعَاتٍ فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ
“Rasulullah ﷺ melaksanakan salat ketika gerhana matahari dengan delapan kali rukuk dan empat kali sujud.” (HR. Muslim)
Adapun salat kusuf dengan 5 rukuk pada setiap rakaat, maka itu berdasarkan hadis Ubay bin Ka’b. Namun, hadis ini lemah. Sebab, di dalamnya ada perawi yang bernama Abu Ja’far Ar-Razi. Dan ia lemah.
Imam Asy-Syaukani berkata:
وَفِي إسْنَادِهِ أَبُو جَعْفَرٍ عِيسَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَاهَانِ الرَّازِيّ.
“Dalam sanad hadis ini ada Abu Ja’far ‘Isa bin ‘Abdullah bin Mahan Ar-Razi.
قَالَ الْفَلَّاسُ:
Al-Fallas berkata:
سَيِّئُ الْحِفْظِ.
“Hafalannya buruk.”
وَقَالَ ابْنُ الْمَدِينِيِّ:
Ibnul Madini berkata:
يُخَلِّطُ عَنْ الْمُغِيرَةِ
“Ia mencampur hadisnya dengan Al-Mughirah.” (Nail Al-Authar)
Adapun salat kusuf dengan 1 rukuk pada setiap rakaat, maka itu berdasarkan hadis ‘Abdurrahman bin Samurah. Ia menggambarkan salat kusuf yang Nabi ﷺ lakukan:
فَقَرَأَ سُورَتَيْنِ، وَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ
“Lalu beliau membaca dua surat dan melakukan dua rukuk.” (HR. Muslim)
- Apakah mengeraskan bacaan Al-Quran ketika salat gerhana?
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari perkataan ‘Aisyah tadi (lihat no. 5) “Nabi ﷺ mengeraskan bacaan dalam salat gerhana.”:
اسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى الْجَهْرِ فِيهَا بِالنَّهَارِ وَحَمَلَهُ جَمَاعَةٌ مِمَّنْ لَمْ يَرَ بِذَلِكَ عَلَى كُسُوفِ الْقَمَرِ وَلَيْسَ بِجَيِّدٍ لِأَنَّ الْإِسْمَاعِيلِيَّ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنِ الْوَلِيدِ بِلَفْظِ
“Hadis ini dijadikan dalil tentang mengeraskan bacaan dalam salat gerhana di siang hari. Beberapa ulama yang tidak berpendapat demikian mengarahkan hadis ini pada salat gerhana bulan. Dan itu tidak bagus. Sebab, Al-Isma’ili meriwayatkan hadis ini dari sisi lain dari Al-Walid dengan kalimat:
كَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
“Matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah ﷺ.”
فَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَكَذَا رِوَايَةُ الْأَوْزَاعِيِّ الَّتِي بَعْدَهُ صَرِيحَةٌ فِي الشَّمْسِ
Lalu ia menyebutkan hadis tadi. Dan demikian pula riwayat Al-Auza’i yang setelahnya jelas menyebutkan tentang gerhana matahari.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Maka, disunahkan mengeraskan bacaan Al-Quran ketika salat gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari.
Dan itulah pendapat ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Yusuf, Muhammad bin Al-Hasan, Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih.
7. Apa yang dianjurkan ketika terjadi gerhana selain salat gerhana?
Nabi ﷺ bersabda:
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
“Jika kalian melihat gerhana, maka hendaklah kalian berdoa kepada Allah, bertakbir, salat, dan bersedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Ibnu Baththal berkata:
فيه: أن الإمام يلزمه عند الآيات موعظته للناس ويأمرهم بأعمال البر وينهاهم عن المعاصى، ويذكرهم نقمات الله.
“Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa tatkala tampak tanda-tanda kekuasaan Allah itu imam wajib memberikan nasehat kepada orang-orang dan menyuruh mereka melakukan kebajikan dan melarang mereka dari kemaksiatan serta mengingatkan mereka akan bencana dari Allah.
وفيه: أن الصدقة والصلاة والاستغفار تكشف النقم، وترفع العذاب
Dan dalam hadis ini juga terdapat pelajaran bahwa sedekah, salat, dan istigfar akan menyingkap bencana dan menghilangkan siksa.” (Syarh Shahih Al-Bukhari)
Siberut, 21 Dzulhijjah 1442
Abu Yahya Adiya






