Bila kaum Yahudi ditanya, “Siapa orang-orang terbaik setelah Musa ﷺ?”, niscaya mereka menjawab, “Sahabat-sahabat Musa ﷺ.”
Jika kaum Nashrani ditanya, “Siapa orang-orang terbaik setelah ‘Isa ﷺ?”, niscaya mereka menjawab, “Sahabat-sahabat ‘Isa ﷺ.”
Dan kalau kaum muslimin ditanya, “Siapa orang-orang terbaik setelah Muhammad ﷺ?”, maka apa yang akan mereka jawab?
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, kalian menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali-‘Imran: 110)
Siapa yang dimaksud dengan “kalian” dalam ayat ini?
Bukankah mereka adalah orang-orang yang ada di zaman Nabi ﷺ?
Bukankah itu maksudnya adalah sahabat-sahabat Nabi ﷺ?
Bukankah itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang terbaik di umat ini?
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Allah rida kepada mereka. Mereka rida kepada Allah. Allah menyediakan surga bagi mereka. Mereka kekal di dalamnya. Adakah keadaan yang lebih baik daripada keadaan orang-orang seperti ini?
Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik orang adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, lalu orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari Muslim)
Setelah sabda beliau ﷺ yang gamblang ini, adakah orang yang masih meragukan kemuliaan sahabat-sahabat Nabi ﷺ?
Adakah orang yang menyangsikan bahwa mereka adalah orang-orang terbaik pada umat ini?
Siapa Itu Sahabat Nabi ﷺ?
Kalau memang kedudukan sahabat Nabi ﷺ demikian mulia, lantas siapa yang dimaksud dengan sahabat Nabi ﷺ?
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan definisi sahabat Nabi ﷺ:
من لقي النبيّ ﷺ مؤمنا به، ومات على الإسلام
“Siapa yang bertemu dengan Nabi ﷺ dalam keadaan beriman kepada beliau dan ia mati di atas Islam.” (Al-Ishobah Fi Tamyiz Ash-Shohabah)
Berdasarkan pernyataan beliau, ada 3 syarat seseorang dikatakan sahabat Nabi ﷺ:
- Siapa yang bertemu dengan Nabi ﷺ.
Karena itu, siapa yang tidak bertemu dengan Nabi ﷺ di masa hidup beliau, maka ia bukanlah sahabat Nabi ﷺ, walaupun ia beriman kepada Nabi ﷺ dan mati dalam keadaan sebagai muslim.
Siapa contohnya?
Al-Hasan Al-Bashri, ‘Atha bin Abi Rabaah dan para tabiin lainnya. Mereka bukan sahabat Nabi ﷺ, karena tidak pernah bertemu dengan Nabi ﷺ.
- Dalam keadaan beriman kepada beliau.
Karena itu, siapa yang tidak beriman kepada Nabi ﷺ di masa hidup beliau, maka ia bukanlah sahabat Nabi ﷺ, walaupun ia pernah bertemu dengan Nabi ﷺ tapi dalam keadaan belum beriman kepada beliau.
Siapa contohnya?
Orang yang diutus oleh Kaisar untuk menemui Nabi ﷺ. Ia bukan sahabat Nabi ﷺ, karena ia bertemu dengan Nabi ﷺ dalam keadaan kafir, walaupun ia masuk Islam sepeninggal Nabi ﷺ.
- Dan ia mati di atas Islam.
Karena itu, siapa yang mati dalam keadaan murtad, maka ia bukanlah sahabat Nabi ﷺ, walaupun ia pernah bertemu dengan Nabi ﷺ dan beriman kepadanya.
Siapa contohnya?
‘Ubaidullah bin Jahsy. Ia masuk Islam dan pernah bertemu dengan Nabi ﷺ, tapi ia masuk agama Kristen di Ethiopia, lalu mati dalam keadaan murtad. Karena itu, ia bukan sahabat Nabi ﷺ.
Siapakah Yang Terbaik di Antara Mereka?
Ibnu ‘Umar berkata:
كُنَّا نَقُولُ وَرَسُولُ اللَّهِ حَيٌّ:
“Dulu kami berkata sedangkan Rasulullah ﷺ masih hidup:
أَفْضَلُ أُمَّةِ النَّبِيِّ بَعْدَهُ أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ
“Sebaik-baik orang setelah Nabi ﷺ adalah Abu Bakar, lalu ‘Umar, lalu ‘Utsman. Semoga Allah meridai mereka semua.” (HR. Abu Daud)
Imam Ahmad berkata:
وَخبر هَذِه الْأمة بعد نبيها أَبُو بكر الصّديق ثمَّ عمر بن الْخطاب ثمَّ عُثْمَان بن عَفَّان
“Sebaik-baik orang pada umat ini setelah nabi mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu ‘Umar bin Al-Khaththab, lalu ‘Utsman bin ‘Affan.
نقدم هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَة كَمَا قدمهم أَصْحَاب رَسُول الله ﷺ لم يَخْتَلِفُوا فِي ذَلِك
Kita mendahulukan tiga orang itu sebagaimana para sahabat Rasulullah ﷺ mendahulukan mereka. Dan mereka tidak berselisih dalam hal itu.
ثمَّ بعد هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَة أَصْحَاب الشورى الْخَمْسَة عَليّ بن أبي طَالب وَالزُّبَيْر وعبد الرحمن بن عَوْف وَسعد وَطَلْحَة كلهم للخلافة وَكلهمْ إِمَام…
Kemudian yang terbaik setelah tiga orang tadi adalah orang-orang yang ditunjuk ‘Umar untuk bermusyawarah menentukan khalifah sepeninggalnya yang berjumlah lima orang, yaitu: ‘Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’d, dan Thalhah. Mereka semuanya pantas memegang kepemimpinan dan menjadi pemimpin…
ثمَّ من بعد أَصْحَاب الشورى أهل بدر من الْمُهَاجِرين ثمَّ أهل بدر من الْأَنْصَار من أَصْحَاب رَسُول الله ﷺعلى قدر الْهِجْرَة والسابقة أَولا فأولا
Lalu setelah lima orang tadi, yang terbaik adalah para sahabat Rasulullah ﷺ yang mengikuti perang Badr dari kalangan Muhajirin lalu dari kalangan Anshar, berdasarkan siapa yang lebih dahulu berhijrah dan masuk Islam.
ثمَّ أفضل النَّاس بعد هَؤُلَاءِ أَصْحَاب رَسُول الله ﷺ الْقرن الَّذِي بعث فيهم
Lalu orang-orang terbaik setelah mereka adalah sahabat-sahabat Rasullah ﷺ lainnya yang hidup semasa dengan beliau.” (Ushul As-Sunnah)
Apa Akibat Mencela Mereka?
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ
“Jangan kalian cela sahabat-sahabatku. Jangan kalian cela sahabat-sahabatku. Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar bukit Uhud, niscaya itu tidak akan menyamai satu cakupan infak yang dikeluarkan salah seorang dari mereka, dan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi ﷺ juga bersabda tentang kaum Anshar:
لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ، مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللهُ
“Tidak ada yang mencintai mereka kecuali seorang mukmin dan tidak ada yang membenci mereka kecuali seorang munafik. Siapa yang mencintai mereka, niscaya Allah mencintainya. Dan siapa yang membenci mereka, niscaya Allah membencinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para Ulama Angkat Bicara Tentang Mereka
Imam Abu Zur’ah berkata:
إذا رأيت الرجل ينتقص أحدا من أصحاب رسول الله ﷺ فاعلم أنه زنديق
“Jika engkau menyaksikan seseorang mencela seorang sahabat Rasulullah ﷺ, maka ketahuilah, sesungguhnya ia adalah seorang zindik!” (Al-Kifayah Fii ‘Ilmi Ar-Riwayah)
Imam Ahmad berkata:
وَمن انْتقصَ أحدا من أَصْحَاب رَسُول الله ﷺ أَو بغضه بِحَدَث مِنْهُ أَو ذكر مساويه كَانَ مبتدعا حَتَّى يترحم عَلَيْهِم جَمِيعًا وَيكون قلبه لَهُم سليما
“Siapa yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ atau membencinya karena suatu kejadian yang muncul darinya atau ia menjelek-jelekkannya, maka ia adalah ahli bidah sampai ia mau memohonkan rahmat bagi mereka semua dan hatinya selamat dari kebencian terhadap mereka.” (Ushul As-Sunnah)
Imam An-Nawawi berkata:
وَاعْلَمْ أَنَّ سَبَّ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ حَرَامٌ مِنْ فَوَاحِشِ الْمُحَرَّمَاتِ
“Ketahuilah, mencela para sahabat Nabi-semoga Allah meridai mereka-adalah haram termasuk dosa-dosa keji.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab beliau Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah menukilkan kesepakatan para ulama bahwa seluruh sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang adil dan terpercaya dalam masalah agama. Tidak ada yang menyalahi mereka dalam hal ini kecuali orang-orang yang sangat sesat.
Maka, jelaslah jawaban terhadap pertanyaan: “Siapa orang-orang terbaik setelah Nabi ﷺ?”
Bukankah jawabannya adalah para sahabat Nabi ﷺ?
Bukankah merekalah orang-orang terbaik sepeninggal Nabi ﷺ?
Kalau memang itu jawaban yang benar, maka mungkinkah seorang muslim yang waras malah berkata, “Orang-orang terjahat di umat ini adalah sahabat-sahabat Nabi”?
Siberut, 20 Rabi’ul Awwal 1443
Abu Yahya Adiya






