Bagaimana Menyikapi Ahlulbait?

Bagaimana Menyikapi Ahlulbait?

“Demi Allah wahai Abul Fadhl, sungguh, keislamanmu lebih menggembirakanku daripada keislaman Al-Khaththab seandainya ia masuk Islam!” (Ath-Thabaqat Al-Kubra)

Itulah perkataan ‘Umar bin Al-Khaththab kepada ‘Abbas, paman Nabi ﷺ.

Keislaman ‘Abbas ternyata lebih menggembirakannya daripada keislaman Al-Khaththab, ayahnya sendiri!

Demikianlah kedudukan paman Nabi ﷺ. Bukankah terhormat?

Itu menunjukkan kemuliaan ahlulbait.

 

Siapakah Ahlulbait?

Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata:

القولُ الصحيحُ في المرادِ بآل بيت النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم هم مَن تَحرُم عليهم الصَّدقةُ، وهم أزواجُه وذريَّتُه، وكلُّ مسلمٍ ومسلمةٍ من نَسْل عبد المطلب

“Pendapat yang benar tentang maksud ahli bait Nabi ﷺ yaitu orang-orang yang diharamkan menerima sedekah dan mereka adalah istri-istri beliau dan keturunannya dan setiap muslim dan muslimah dari keturunan ‘Abdulmuthalib.” (Fadhul Ahlil Bait wa ‘Uluw Makaanatihim ‘Inda Ahlissunnah wal Jama’ah)

Dalil yang menunjukkan demikian adalah….

Suatu hari sepupu Nabi ﷺ yaitu Al-Fadhl bin ‘Abbas, dan anak sepupu Nabi ﷺ yaitu ‘Abdulmuthalib bin Rabi’ah mendatangi Nabi ﷺ.

Mereka ingin meminta jabatan sebagai pemungut sedekah agar bisa mendapat bagian dari sedekah. Namun, Nabi ﷺ menolak permintaan keduanya dengan bersabda:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَا تَنْبَغِي لِآلِ مُحَمَّدٍ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ

“Sesungguhnya sedekah itu tidak pantas bagi keluarga Muhammad. Sedekah itu hanyalah kotoran manusia!” (HR. Muslim)

Ya, kotoran manusia. Kotoran dari harta manusia. Apakah itu pantas bagi mereka yang memiliki kemuliaan dan keutamaan?

 

Apa Keutamaan Ahlulbait?

Setelah kita mengetahui siapa yang termasuk ahlulbait, lantas apa saja keutamaan mereka?

  1. Setelah memberikan beberapa perintah dan arahan kepada para istri Nabi ﷺ, Allah berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlulbait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.”  (QS. Al-Ahzab: 33)

Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat ini:

إنما يريد الله ليذهب عنكم السوء والفحشاء يا أهل بيت محمد، ويطهركم من الدنس الذي يكون في أهل معاصي الله تطهيرا.

“Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keburukan dan kekejian dari kalian wahai ahli bait Muhammad dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya dari kotoran yang ada pada para pelaku maksiat kepada Allah.” (Jami’ Al-Bayan Fii Tawiil Al-Quran)

 

  1. Allah berfirman tentang istri-istri Nabi ﷺ:

وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

“Dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)

Kalau mereka adalah ibu kita, berarti itu menunjukkan bahwa mereka itu mulia dan mempunyai kedudukan yang mulia.

Lantas, apa sikap kita terhadap orang yang mulia dan memiliki kedudukan yang mulia?

 

Sikap Yang Benar terhadap Ahlulbait

Nabi ﷺ bersabda:

وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي

“Ahli baitku. Aku ingatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan ahli baitku. Aku ingatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan ahli baitku. Aku ingatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan ahli baitku.”  (HR. Muslim)

Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata:

أنَّ أهلَ السُّنَّة والجماعة هم أسعَدُ الناس بتنفيذ وصيَّة النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم في أهل بيتِه التي جاءت في هذا الحديث؛ لأنَّهم يُحبُّونَهم جميعاً ويتوَلَّونَهم، ويُنزلونَهم منازلَهم التي يستحقُّونَها بالعدلِ والإنصافِ، وأمَّا غيرُهم فقد قال ابن تيمية في مجموع فتاواه (4/419) :

“Sesungguhnya Ahlussunnah wal Jama’ah mereka itulah orang yang paling bahagia karena telah melaksanakan wasiat Nabi ﷺ tentang ahli bait beliau yang disebutkan dalam hadis ini. Sebab, mereka memuliakan dan mencintai semua ahlulbait dan menempatkan mereka dengan adil dan bijak pada posisi yang pantas untuk mereka tempati. Adapun selain mereka, maka sungguh, Ibnu Taimiyah dalam kumpulan fatwanya (4/419) berkata:

وأبعدُ الناسِ عن هذه الوصيَّة الرافضةُ؛ فإنَّهم يُعادُون العبَّاس وذُريَّتَه، بل يُعادون جمهور أهل البيت ويُعينون الكفَّارَ عليهم

“Dan orang yang paling jauh dari pelaksanaan wasiat ini adalah Syiah Rafidhah. Karena sesungguhnya mereka memusuhi ‘Abbas dan keturunannya. Bahkan, mereka memusuhi mayoritas ahlulbait dan menolong orang-orang kafir dalam menyerang mereka.” (Fadhul Ahlil Bait wa ‘Uluw Makaanatihim ‘Inda Ahlissunnah wal Jama’ah)

Ahlussunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan dalam segala sesuatu, termasuk dalam hal menyikapi ahlulbait.

Ahlussunnah wal Jama’ah tidak merendahkan ahlulbait, tapi tidak pula mengagungkan mereka melebihi kedudukan mereka yang sebenarnya.

Ahlussunnah wal Jama’ah-sebagaimana pernyataan Syekhul Islam-memuliakan semua ahlulbait dan menempatkan mereka dengan adil dan bijak pada posisi yang pantas untuk mereka tempati.

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata:

ارْقُبُوا مُحَمَّدًا ﷺ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ

“Peliharalah hubungan dengan Muhammad ﷺ dengan cara menjaga hubungan dengan ahli baitnya.” (HR. Bukhari)

Karena itu, siapa pun keturunan Abdulmuthalib yang beriman dan bertakwa, maka hendaknya kita memuliakannya karena keimanan dan ketakwaan yang ada pada dirinya dan juga hubungan kekerabatannya dengan nabi-Nya.

Syekh Nashir Al-‘Aql berkata:

فكل ما ثبت عندنا أنه من آل البيت، ولا يزال على طريق السنة لم يغير ولم يبدل؛ فله حق علينا، ويجب أن نوقره ونظهر له الاحترام.

“Setiap orang yang jelas bagi kita bahwa ia termasuk ahlulbait dan tetap berada di jalan sunnah, ia tidak mengubah itu dan tidak pula menukarnya, maka ia punya hak yang wajib kita tunaikan. Dan kita wajib memuliakannya dan menampakkan penghormatan kepadanya.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah)

Ya, kita wajib memuliakannya dan menampakkan penghormatan kepadanya. Itu kalau ia tetap berpegang teguh pada sunnah.

Adapun jika ia sudah melakukan bidah dan tidak mengikuti sunnah nabi-Nya, apalagi sampai menyekutukan-Nya dengan selain-Nya, maka hubungan kekerabatannya dengan nabi-Nya tidak bermanfaat baginya dan tidak akan menjadikannya mulia dan selamat dari siksa-Nya.

Nabi ﷺ bersabda kepada putrinya:

وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai Fathimah, putri Muhammad, mintalah kepadaku harta apa pun yang kau mau, tapi aku tidak bisa menyelamatkanmu sedikit pun dari siksa Allah!” (HR. Bukhari)

 

Siberut, 22 Rabi’ul Awwal 1443

Abu Yahya Adiya