Apa Hukum Memerangi Muslim?

Apa Hukum Memerangi Muslim?

“Yang membunuh dan yang terbunuh semuanya masuk neraka!”

Itulah kabar dari Nabi ﷺ tentang dua orang muslim yang berkelahi untuk saling membunuh.

Abu Bakrah merasa heran dengan sabda beliau ﷺ itu. Ia pun bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا القَاتِلُ، فَمَا بَالُ المَقْتُولِ؟

“Wahai Rasulullah, yang membunuh ini (wajar masuk neraka), tetapi bagaimana dengan yang terbunuh?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Sesungguhnya yang terbunuh itu juga ingin sekali membunuh kawannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, karena sudah bertekad membunuh kawannya, ia pun dianggap membunuh kawannya, walaupun tekad itu tidak kesampaian karena ia lebih dahulu terbunuh oleh kawannya.

Hadis ini menunjukkan haramnya berperang sesama muslim dan besarnya dosa membunuh seorang muslim.

Syekh Nashir Al-‘Aql berkata:

يحرم القتال بين المسلمين على الدنيا أو الحمية الجاهلية, وهو من أكبر الكبائر

“Haram peperangan sesama muslimin karena urusan dunia atau semangat jahiliah. Dan itu termasuk dosa yang sangat besar.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah)

Maka tidak boleh kita menyerang seorang muslim, apalagi sampai membunuhnya kecuali kalau memiliki alasan yang dibenarkan dalam syariat-Nya.

Apa alasan yang membolehkan kita memerangi muslim yang lain?

 

  1. Jika muslim itu hendak membahayakan jiwa dan harta kita.

Datang seseorang kepada Rasulullah ﷺ lalu bertanya:

يَارَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika ada seseorang yang ingin mengambil hartaku?”

Beliau ﷺ menjawab:

فَلَا تُعْطِهِ مَالَكَ

“Jangan berikan hartamu kepadanya!”

Ia bertanya kembali:

أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي

“Bagaimana pendapatmu jika ia memerangiku?”

Beliau ﷺ menjawab:

قَاتِلْهُ

“Perangilah ia!”

Ia bertanya kembali:

أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي

“Bagaimana pendapatmu jika ia membunuhku?”

Beliau ﷺ menjawab:

فَأَنْتَ شَهِيدٌ

“Kalau begitu, engkau syahid!”

Orang itu bertanya kembali:

أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ

“Bagaimana pendapatmu jika aku membunuhnya?”

Beliau ﷺ menjawab:

هُوَ فِي النَّارِ

“Ia di neraka!” (HR. Muslim)

Kalau memang kezaliman orang yang akan menzalimi kita tidak bisa kita hentikan kecuali dengan menghilangkan nyawanya, maka kita diperbolehkan untuk membunuhnya, setelah berusaha semaksimal mungkin menghindarinya.

Imam Ahmad berkata:

وقتال اللُّصُوص والخوارج جَائِز إِذا عرضوا للرجل فِي نَفسه وَمَاله فَلهُ أَن يُقَاتل عَن نَفسه وَمَاله وَيدْفَع عَنْهَا بِكُل مَا يقدر

“Memerangi perampok dan Khawarij diperbolehkan jika mereka mengancam seseorang terkait dengan dirinya dan hartanya. Ia boleh berperang untuk menjaga dirinya dan hartanya serta membelanya dengan segala kemampuannya.

وَلَيْسَ لَهُ إِذا فارقوه أَو تَرَكُوهُ أَن يطلبهم وَلَا يتبع آثَارهم لَيْسَ لأحد إِلَّا الإِمَام أَو وُلَاة الْمُسلمين

Jika mereka sudah meninggalkannya, maka tidak boleh ia mencari mereka dan mengikuti jejak mereka. Itu tidak diperbolehkan bagi siapa pun kecuali bagi imam atau penguasa kaum muslimin.

إِنَّمَا لَهُ أَن يدْفع عَن نَفسه فِي مقَامه ذَلِك وَيَنْوِي بِجهْدِهِ أَن لَا يقتل أحدا

Ia hanya boleh membela dirinya dalam keadaan tadi dan berniat semampunya untuk tidak membunuh seorang pun.

فَإِن مَاتَ على يَدَيْهِ فِي دَفعه عَن نَفسه فِي المعركة فأبعد الله الْمَقْتُول

Jika seorang (dari mereka) mati lewat kedua tangannya ketika ia membela dirinya dalam perang, maka semoga Allah menyengsarakan si terbunuh.

وَإِن قتل هَذَا فِي تِلْكَ الْحَال وَهُوَ يدْفع عَن نَفسه وَمَاله رَجَوْت لَهُ الشَّهَادَة كَمَا جَاءَ فِي الْأَحَادِيث وَجَمِيع الْآثَار فِي هَذَا

Dan jika ia yang terbunuh dalam keadaan demikian sedangkan ia membela dirinya dan hartanya, maka aku berharap ia syahid, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis-hadis dan semua riwayat yang menyebutkan itu.

إِنَّمَا أَمر بقتاله وَلم يُؤمر بقتْله وَلَا اتِّبَاعه وَلَا يُجِيز  عَلَيْهِ إِن صرع أَو كَانَ جريحا وَإِن أَخذه أَسِيرًا فَلَيْسَ لَهُ أَن يقْتله وَلَا يُقيم عَلَيْهِ الْحَد وَلَكِن يرفع أمره إِلَى من ولاه الله فَحكم فِيهِ

Ia hanyalah diperintahkan memerangi orang tadi, bukan membunuhnya, dan bukan pula membuntutinya, dan tidak pula menghilangkan nyawanya jika ia terjatuh atau terluka. Dan jika ia menawannya, maka ia tidak boleh membunuhnya dan tidak pula menegakkan had terhadapnya. Namun, hendaknya ia mengangkat perkara itu kepada orang yang telah Allah beri kekuasaan lalu dialah yang memberikan hukuman terhadapnya.” (Ushul As-Sunnah)

 

  1. Jika penguasa memandang bahwa muslim itu sudah membahayakan banyak orang karena kesesatannya dan tindak-tanduknya.

Syekh Nashir Al-Aql berkata:

وأهل البدع والفساد والبغي وأشباههم يقاتلون إذا صار شرهم يتعدى ولم يكفوا بالطرق السلمية، ولم يمكن دفعهم بأقل من القتال فإنه يجوز لإمام المسلمين وأهل الحل والعقد أن يقاتلوهم بحسب الحال والمصلحة ما لم يكن هناك مفاسد كبرى.

“Ahli bidah, perusak, pemberontak, dan orang semacam mereka itu diperangi. Jika keburukan mereka menyebar dan tidak berhenti dengan cara damai, serta tidak mungkin menolak mereka dengan cara yang lebih ringan daripada perang, maka boleh bagi pemimpin kaum muslimin dan Ahlul Halli wal ‘Aqdi untuk memerangi mereka sesuai dengan keadaan dan maslahat, selama di sana tidak ada mafsadat yang besar.” (Mujmal Ushul Ahlisunnah)

 

Siberut, 18 Rabi’ul Awwal 1443

Abu Yahya Adiya