Sejarah Berdarah Asy’ariyyah di Maroko

Sejarah Berdarah Asy’ariyyah di Maroko

Bidah itu bisa mengantarkan pada pertumpahan darah. Itulah yang dinyatakan oleh para ulama terdahulu, di antaranya Imam Al-Barbahari dalam kitabnya Syarh As-Sunnah.

Bukti jelas pernyataan tersebut adalah apa yang terjadi di Maroko tatkala sekte Asy’ariyyah masuk ke sana.

Syekh Muhammad Al-Maghrawi berkata:

لقد ظل أهل المغرب على اعتقاد السلف منذ دخولهم في الإسلام إلى أن حُرِّف اعتقادهم تحت وطأة التهديد والقتل من ابن تومرت الذي فرض الأشعرية بلبوس الرفض في ادعاء المهدوية، وقد نص على هذا غير واحد من المؤرخين وعلماء المغرب المعتبرين

“Sebenarnya penduduk Maroko senantiasa berada dalam akidah salaf sejak mereka masuk Islam hingga akidah mereka diubah di bawah tekanan ancaman dan pembunuhan dari Ibnu Tumart yang mewajibkan keyakinan Asy’ariyyah dengan baju Syiah Rafidhah dalam masalah klaim Al-Mahdi. Yang demikian telah dinyatakan oleh lebih dari satu ahli sejarah dan ulama Maroko yang diakui.” (Mausu’ah Mawaqif As-Salaf Fii Al-‘Aqiidah wa Al-Manhaj wa At-Tarbiyah)

Siapa itu Ibnu Tumart? Apa sejarah hitam yang ia buat di Maroko?

Syekh ‘Abdul Hafizh Al-Fasi berkata:

ذكر أهل التاريخ أن أهل المغرب كانوا في الأصول والمعتقدات بعد أن طهرهم الله تعالى من نزغة الخارجية أولاً والرافضية ثانياً على مذهب أهل السنة، مقلدين للصحابة ومن اقتفى أثرهم من السلف الصالح وأهل القرون الثلاثة الفاضلة، في الإيمان بالمتشابه وعدم التعرض له بالتأويل، مع اعتقاد التنزيه، كما جرى عليه الإمام ابن أبي زيد القيرواني في عقيدته

“Ahli sejarah menyebutkan bahwa dulu penduduk Maroko dalam masalah pokok keyakinan setelah Allah bersihkan mereka dari pemikiran Khawarij pertamanya lalu Syiah Rafidhah berikutnya, mereka berdasarkan mazhab Ahlussunnah dan mengikuti para sahabat serta yang mengikuti jejak mereka dari kalangan salaf saleh dan tiga generasi yang mulia dalam masalah iman kepada ayat-ayat yang mutasyabih dan tidak melakukan takwil atas itu, sambil meyakini bahwa Allah suci dari keserupaan dengan makhluk, sebagaimana yang berlaku pada Imam Ibn Abi Zaid Al-Qairuwani dalam akidahnya.” (Al-Aayaat Al-Bayyinaat)

Artinya, akidah penduduk Maroko awalnya masih sesuai dengan fitrah mereka, yaitu akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, dan belum tercampuri oleh bidah kalam. Dan itu terus bertahan hingga akhirnya….

Syekh ‘Abdul Hafizh Al-Fasi berkata:

واستمر الحال على ذلك إلى أن ظهر محمد بن تومرت الملقب نفسه بالإمام المعصوم أو مهدي الموحدين، وذلك في صدر المائة السادسة، فرحل إلى المشرق، وأخذ عن علمائه مذهب المتأخرين من أصحاب الإمام أبي الحسن الأشعري….

“Keadaan itu berlangsung demikian sampai munculnya Muhammad bin Tumart yang menggelari dirinya dengan imam maksum atau Mahdinya Al-Muwahhidiin. Dan itu terjadi di awal tahun 600 an. Ia pergi ke timur dan mengambil dari para ulama di sana keyakinan para sahabat Imam Abul Hasan Al-Asyari yang belakangan.” (Al-Aayaat Al-Bayyinaat)

Setelah Ibnu Tumart mempelajari akidah tersebut, apa yang ia lakukan?

Syekh ‘Abdul Hafizh Al-Fasi berkata:

ثم عاد ابن تومرت إلى المغرب بهذه العقيدة المختلطة المدلسة الفاسدة، وألف فيها التآليف العديدة هو وأتباعه، ودعا الناس إلى سلوكها، وجزم بتضليل من خالفها، بل وتكفيره. وسمى أصحابه بالموحدين تعريضاً بأن من خالف عقيدته ليس بموحد؛ بل مجسم مشرك

“Lalu Ibnu Tumart kembali ke Maroko dengan membawa akidah yang sudah tercampur, terkaburkan, dan rusak itu. Ia dan para pengikutnya menulis berbagai karya tulis dan mengajak orang-orang untuk mengikutinya, serta memastikan kesesatan orang yang menyalahinya, bahkan mengafirkannya. Ia menamai orang-orang yang mengikutinya dengan sebutan al-muwahhidun (orang-orang yang mengesakan Allah) sebagai bentuk sindiran terhadap orang yang menyalahi akidahnya bahwa ia bukan orang yang mengesakan Allah, bahkan menyerupakan Allah dengan makhluk dan telah musyrik.” (Al-Aayaat Al-Bayyinaat)

Kalau seseorang sudah menganggap orang lain telah musyrik, maka apa konsekuensinya?

Syekh ‘Abdul Hafizh Al-Fasi berkata:

وجعل ذلك ذريعة إلى الانتزاء على مُلك المغرب حسبما هو معلوم، فقاتل على عقيدته، واستباح هو وخلفاؤه لأجلها دماء مئات الآلاف من الناس وأموالهم حتى تمكنت من عقول الناس بالسيف، ونبذوا ما كان عليه سلفهم الأول

“Ibnu Tumart menggunakan itu sebagai pintu untuk merebut kekuasaan di Maroko sebagaimana sudah diketahui. Lalu ia pun memerangi orang-orang berdasarkan akidahnya. Dan karena itu, ia dan para pemimpin penggantinya menghalalkan darah ratusan ribu orang dan harta mereka hingga akidah tersebut menguasai pikiran orang-orang dengan pedang dan mereka meninggalkan keyakinan pendahulu mereka.” (Al-Aayaat Al-Bayyinaat)

Maka, jelaslah bahwa bidah itu bisa mengantarkan pada pertumpahan darah.

 

Siberut, 5 Dzulhijjah 1445
Abu Yahya Adiya