Penentang dan Penerima Takdir

Penentang dan Penerima Takdir

“Orang yang iri dan dengki akan mendapatkan lima hukuman sebelum kedengkiannya sampai kepada orang yang ia benci.” (Al-Mustathrof fi kuli fanin Mustazhraf)

Itulah perkataan Abul Laits As-Samarqandy. Kenapa orang yang iri bisa mendapatkan lima hukuman? Apa sajakah lima hukuman itu?

Dan Nabi ﷺ pernah mengancam orang yang suka meratapi orang mati. Nabi ﷺ bersabda:

النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا…

“Wanita yang meratapi orang mati, bila ia mati sebelum bertaubat, maka….”

 

Segala Sesuatu Telah Dia Ketahui

Saudaraku, yakinilah bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik di masa lalu, sekarang maupun yang akan datang. Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk yang terjadi pada dirimu.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.” (QS. Ali-‘Imran: 5)

Segala Sesuatu Telah Dia Tetapkan

Dan yakinilah, bahwa Allah telah menetapkan dalam Lauhul Mahfuzh segala sesuatu sampai terjadinya hari kiamat. Allah telah menetapkan segala sesuatu, termasuk yang terjadi pada dirimu.

Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) yang menimpa dirimu sendiri melainkan semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Nabi ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menentukan takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)

 

Segala Sesuatu Terjadi Karena Kehendak-Nya

Yakinilah pula bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah, termasuk yang terjadi pada dirimu.

Kalau Allah menghendaki sesuatu, pasti ia akan terjadi, dan tidak ada yang bisa menghalangi-Nya, termasuk yang terjadi pada dirimu.

Allah berfirman:

{وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ}

“Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27)

Dan Dia berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

 

Jika Musibah Menerpa

Kalau memang segala sesuatu yang menimpa diri kita, keluarga kita, atau kerabat kita sudah Allah ketahui, Allah tetapkan, dan Allah kehendaki, maka sudah sepantasnya kita menerima takdir-Nya. Jangan sampai kita mengeluh apalagi memprotes ketetapan-Nya.

Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَه

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa seorang pun kecuali dengan izin Allah, dan siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At Taghabun: 11)

Siapa yang dimaksud dengan yang beriman kepada Allah dalam ayat ini?

‘Alqamah menjelaskan:

هو الرجل تصيبه المصيبة، فيعلم أنها من عند الله، فيسلم ذلك ويرضى

“Yaitu orang yang mendapatkan musibah, lalu ia meyakini bahwa musibah itu dari Allah, maka ia pun menerima itu dan rida.” (Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Quran karya Imam Ath-Thabari)

 

Para Penentang Takdir

Kalau memang beriman kepada takdir Allah adalah kewajiban….

Dan kalau memang rida kepada takdir-Nya adalah suatu keharusan….

Berarti melakukan perbuatan yang berlawanan dengan itu adalah diharamkan.

Lantas, apa perbuatan yang bertentangan dengan iman dan rida kepada takdir-Nya?

Di antaranya yaitu:

 

  1. Meratapi orang mati.

Ketika tertimpa musibah, seorang muslim diperintahkan untuk menahan hatinya agar tidak marah, menahan lisannya agar tidak berkeluh kesah, dan menahan anggota badannya agar tidak melakukan perbuatan yang dimurkai Allah. Bukan malah meraung-raung, berteriak-teriak, dan menjerit-jerit!

Itu tandanya ia tidak menerima keputusan Allah.

Itu tandanya ia tidak rida akan ketetapan Allah.

Itu tandanya ia bersikap kurang ajar kepada Allah.

Makanya, wajarlah orang yang suka meratapi orang mati akan bernasib tragis di akhirat nanti.

Nabi ﷺ bersabda:

النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا، تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

“Wanita yang meratapi orang mati bila ia mati sebelum bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan memakai pakaian dari ter, dan mantel dari kudis.” (HR. Muslim)

Lalu perbuatan berikutnya yang bertentangan dengan iman dan rida kepada takdir-Nya:

 

  1. Hasad, iri, dan dengki.

Disadari atau tidak, orang yang hasad, iri, dan dengki, sebenarnya telah menentang takdir yang Allah tetapkan atas dirinya atau orang lain.

Ia seakan-akan protes atas keputusan Allah. Seolah-olah ia berkata dalam hatinya, “Ya Allah, kenapa Engkau melebihkan fulan atas diriku, padahal aku begini dan begitu?!”

Ibnu Mas’ud berkata:

لا تعادوا نعم الله!

“Jangan kalian menentang nikmat-nikmat Allah!”

Ada yang bertanya:

ومن يعادي نعم الله؟

“Siapa orang yang menentang nikmat-nikmat Allah?”

Ia menjawab:

الذين يحسدون الناس على ما آتاهم الله من فضله.

“Yaitu orang-orang yang iri dan dengki kepada orang lain karena karunia yang Allah berikan kepadanya” (Bahjatul Majalis wa Unsul Majalis)

Orang yang menentang keputusan-Nya pasti menderita dan sengsara.

Makanya, lihatlah orang yang memelihara hasad, iri, dan dengki. Alangkah sengsaranya ia. Melihat orang lain makin sukses dan bahagia, makin sesak dadanya, makin mendidih darahnya, dan makin tercekik lehernya.

Dan sayangnya….

Sekuat apa pun rasa irinya dan sebesar apa pun rasa dengkinya, tetap saja ia tidak bisa merebut kenikmatan dari tangan orang lain. Karena itu, menderitalah ia. Dan benar-benar menderitalah ia.

Abul Laits As-Samarqandy berkata:

يصل إلى الحاسد خمس عقوبات قبل أن يصل حسده إلى المحسود: أولاها: غم لا ينقطع. الثانية: مصيبة لا يؤجر عليها. الثالثة: مذمة لا يحمد عليها. الرابعة: سخط الرب. الخامسة: يغلق عنه باب التوفيق

“Orang yang iri dan dengki akan mendapatkan lima hukuman sebelum kedengkiannya sampai kepada orang yang ia benci: pertama: kegundahan yang terus-menerus. Kedua: musibah yang tidak membawa pahala. Ketiga: kehinaan yang tidak terpuji. Keempat: kemurkaan Tuhan. Kelima: tertutupnya pintu taufik untuknya.” (Al-Mustathrof fi kuli fanin Mustazhraf)

 

Siberut, 8 Dzulqa’dah 1441

Abu Yahya Adiya