Dicemooh dan ditertawakan. Itulah yang harus diterima Nabi ﷺ setelah beliau mengabarkan peristiwa Isra Mi’raj kepada musyrikin Quraisy.
Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha biasanya menghabiskan waktu berbulan-bulan. Lantas, bagaimana mungkin itu bisa ditempuh dalam semalam, apalagi ditambah dengan naik sampai ke langit ketujuh?!
Bagi mereka, kabar itu sangat tidak masuk akal.
Karena itu, banyak yang mendustakannya. Bahkan, ada beberapa orang yang memilih murtad setelah mendengarnya.
Orang-orang pun berdatangan kepada Abu Bakar menanyakan pendapatnya tentang kabar Isra Mi’raj itu.
Lantas, apa pendapat Abu Bakar?
Ketika Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, beliau melaksanakan salat dengan menghadap Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan. Dan sebenarnya, beliau lebih senang menghadap ke arah Ka’bah (Mekah). Maka turunlah ayat:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
“Sungguh Kami telah melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh, Kami akan memalingkan wajahmu ke kiblat yang kau ridai, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.” (QS. Al-Baqarah: 144).
Setelah itu, beliau ﷺ pun melaksanakan salat Ashar dengan menghadap kiblat baru yaitu Ka’bah.
Seusai salat, seseorang yang ikut salat bersama Rasulullah ﷺ pergi melewati orang-orang Anshar yang sedang melaksanakan salat di suatu masjid. Mereka masih menghadap ke Baitul Maqdis, dan ketika itu mereka dalam posisi rukuk.
Maka berkatalah orang itu:
أَشْهَدُ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي قِبَلَ الْكَعْبَةِ
“Aku bersaksi, bahwa aku telah melihat Rasulullah ﷺ melaksanakan salat dengan menghadap Ka’bah!”
Apa reaksi jamaah salat ketika itu?
Ketika sedang berada di rumah, Abu Thalhah mendengar suara teriakan:
أَلاَ إِنَّ الخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ
“Ketahuilah, minuman keras sudah diharamkan!”
Ternyata baru saja turun wahyu yang mengharamkan minuman keras. Dan di dalam rumah Abu Thalhah ada minuman keras, lalu apa yang akan ia lakukan?
Dan ketika itu juga ada seorang sahabat Nabi yang hendak meminum minuman keras.
Minuman keras sudah di tangannya, bahkan hampir saja ia meneguknya, namun terdengar bahwa wahyu telah turun mengharamkannya, maka apa reaksinya?
Suatu hari Ibnu ‘Abbas melaksanakan tawaf bersama Mu’awiyah.
Ia melihat Mu’awiyah menyentuh semua sudut Ka’bah. Maka Ibnu Abbas berkata kepadanya:
إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمْ يَكُنْ يَسْتَلِمُ إِلَّا الحَجَرَ الأَسْوَدَ، وَالرُّكْنَ اليَمَانِيَ
“Sesungguhnya Nabi ﷺ tidak menyentuh bagian Ka’bah kecuali Hajar Aswad dan Rukun Yamani.”
Mu’awiyah berkata:
لَيْسَ شَيْءٌ مِنَ الْبَيْتِ مَهْجُورًا
“Tidak ada bagian dari Ka’bah ini yang diabaikan.”
Ibnu Abbas pun membacakan ayat:
{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ}
“Sungguh, telah ada teladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Lalu apa reaksi Mu’awiyah?
Konsekuensi dari Syahadat Muhammad ﷺ Rasulullah
Segala sesuatu memiliki konsekuensi. Begitu pula ketika seorang sudah mengucapkan:
وأشهد أن محمدا رسول الله
“Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”
Itu pun ada konsekuensinya. Lantas, apa konsekuensi dari pengucapan kalimat itu?
Imam At-Tamimi menyebutkan konsekuensinya yaitu:
طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ، وَتَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ، واجْتِنَابُ مَا عنه نهى وزجر، وأن لا يعبد الله إلا بما شرع
“Menaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan tinggalkan, serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.”
Berarti, ada 4 konsekuensi dari kesaksian bahwa Muhammad ﷺ adalah Rasulullah, yaitu:
- Membenarkan apa yang beliau ﷺ kabarkan
Kita harus menerima dan membenarkan berita apa saja yang beliau ﷺ kabarkan. Walau berita itu terdengar aneh sekalipun.
- Menaati apa yang beliau ﷺ perintahkan
Kita harus menaati perintah beliau ﷺ semampu mungkin. Walau itu terasa berat di hati sekalipun.
- Menjauhi apa yang beliau ﷺ larang dan beliau ﷺ tinggalkan.
Kita harus menjauhi larangan beliau ﷺ. Walaupun itu terasa nikmat kalau dikerjakan.
- Beribadah hanya dengan cara yang beliau tuntunkan.
Kita harus beribadah dengan cara yang beliau ﷺ tuntunkan. Bukan dengan cara yang dikarang oleh akal dan perasaan kita, sebaik apapun itu menurut akal dan perasaan kita.
Karena itulah, Ibnu Abbas mengingatkan Mu’awiyah bahwa perbuatannya menyentuh semua sudut Ka’bah adalah salah, karena tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ, walaupun ia menganggapnya baik.
Dan Mu’awiyah pun menyadari bahwa amalan yang tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ adalah amalan yang salah, walaupun pelakunya menganggap itu sangat baik sekalipun.
Karena itu, setelah ditegur Ibnu Abbas, Mu’awiyah pun berkata kepadanya:
صَدَقْتَ
“Engkau benar!” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Dan ketika baru saja turun ayat yang mengharamkan minuman keras, Abu Thalhah berkata kepada anak tirinya, Anas bin Malik:
اذْهَبْ فَأَهْرِقْهَا
“Pergilah dan tumpahkanlah minuman keras.”
Anas pun mengambil semua minuman keras yang ada di rumahnya lalu membuangnya sampai tidak tersisa sedikit pun.
Bukan ia saja, para sahabat Nabi ﷺ yang lain pun membuang seluruh minuman keras dari rumah-rumah mereka.
Anas berkata:
فَجَرَتْ فِي سِكَكِ المَدِينَةِ
“Maka minuman keras mengalir di jalan-jalan kota Madinah.” (Bukhari dan Muslim)
Artinya mereka mengeluarkan minuman keras dari rumah mereka lalu membuangnya ke jalan sehingga beceklah jalan-jalan di Madinah karena minuman keras.
Bahkan, ada di antara mereka yang sedang memegang gelas berisi minuman keras dan hampir saja meneguknya. Namun, tatkala mendengar bahwa telah turun ayat yang mengharamkannya, ia langsung membuangnya dan tidak meminumnya!
Allahu Akbar!
Dan kaum Anshar yang sedang rukuk dalam salat Ashar, apa reaksi mereka ketika ada orang yang memberitahukan kepada mereka bahwa nabi mereka sudah menghadap kiblat yang baru?
Al-Barra bin ‘Azib berkata:
فَانْحَرَفُوا وَهُمْ رُكُوعٌ فِي صَلاَةِ العَصْرِ
“Mereka pun langsung mengubah posisi mereka menghadap kiblat baru dalam keadaan rukuk ketika salat Ashar!” (HR. Bukhari)
Allahu Akbar!
Betapa cepat mereka mengikuti jejak rasul mereka. Mereka tidak menunda-nundanya. Bahkan, tidak menunggu hingga kepala mereka diangkat dari ruku!
Dan ketika banyak yang mendustakan Rasulullah ﷺ dalam peristiwa Isra Miraj, bahkan sampai ada yang murtad dari Islam ketika itu, orang-orang pun bertanya kepada Abu Bakar, apa pendapatnya tentang itu.
Ya, pendapatnya mengenai peristiwa yang dianggap sangat tidak masuk akal itu.
Apa pendapat Abu Bakar?
Abu Bakar berkata:
وَاَللَّهِ لَئِنْ كَانَ قَالَهُ لَقَدْ صَدَقَ
“Demi Allah, seandainya beliau benar-benar mengabarkan seperti itu, maka sungguh, perkataan beliau benar!”
Lalu Abu Bakar menjelaskan, seandainya Rasulullah ﷺ mengabarkan sesuatu yang lebih aneh daripada peristiwa Mi’raj, ia tetap akan membenarkannya.
Kemudian Abu Bakar mendatangi Rasulullah ﷺ menanyakan kabar tentang Isra’ Mi’raj itu.
Maka, setiap kali Rasulullah ﷺ menyampaikan kejadian yang beliau lihat dalam peristiwa itu, Abu Bakar berkata:
صَدَقْتَ، أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ
“Engkau benar, aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.”
Begitu terus sampai Rasulullah ﷺ menyelesaikan ceritanya.
Allahu Akbar!
Karena itu, Rasulullah ﷺ pun menggelari Abu Bakar dengan gelar Ash-Shiddiq, yang artinya sosok yang membenarkan.
Siberut, 9 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya






