Takut yang Terpuji dan Tercela

Takut yang Terpuji dan Tercela

Sedih dan duka. Itulah yang dirasakan kaum muslimin setelah perang Uhud.

Mereka harus mengalami kekalahan dan banyak di antara mereka yang menjadi korban.

Perang tersebut telah melukai hati dan perasaan mereka.

Ketika luka tersebut belum sembuh, tiba-tiba seorang musyrik berkata kepada mereka: “Sesungguhnya orang-orang sudah mengumpulkan pasukan untuk menyerang dan menghabisi kalian, karena itu takutlah kalian kepada mereka!”

Lalu apa reaksi mereka ketika itu?

Ucapan itu ternyata tidak menggentarkan hati mereka. Bahkan, bertambah kuatlah iman mereka. Mereka mengucapkan:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung kami.”

Allah menceritakan yang demikian dalam kitab-Nya:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang yang ketika ada yang mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka!’, ternyata perkataan itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung kami.” (QS. Ali-‘Imran: 173)

Lalu Allah menyebutkan dalam ayat ke 175:

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawan setianya, karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman.”

Ayat ini menunjukkan wajibnya takut kepada Allah dan hanya kepada Allah. Dan itu merupakan konsekuensi dari keimanan kita kepada Allah.

Makin kuat keimanan kita kepada Allah, maka makin kuatlah rasa takut kita kepada-Nya. Dan makin lemah keimanan kita kepada Allah, maka makin lemah rasa takut kita kepada-Nya.

“Janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku..”

Ayat ini menunjukkan wajibnya takut kepada Allah. Lantas, apa hukum takut kepada selain Allah?

 

Takut kepada Selain Allah

Takut kepada selain Allah ada 2:

  1. Takut yang manusiawi yaitu takut yang memang ada pada tabiat setiap manusia.

Seperti apa contoh takut yang manusiawi?

Nabi Musa pernah tidak sengaja menyebabkan kematian seorang dari Mesir.

Karena itu, ketika Allah mengutus beliau untuk berdakwah kepada Fir’aun, Raja Mesir, terbetiklah rasa takut pada diri beliau. Beliau pun berdoa:

 قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seorang dari golongan mereka. Karena itu, aku takut mereka akan membunuhku.” (QS. Al-Qashshash: 33)

Beliau khawatir bangsa Mesir yang ketika itu kafir menangkap beliau lalu menyiksa dan membunuh beliau.

Itu namanya takut yang manusiawi. Dan itu wajar dan tidak tercela.

Contoh takut yang manusiawi lainnya, yaitu takut kepada binatang buas, seperti takut kepada ular, atau singa.

Takut seperti itu wajar dan tidak tercela.

Sebab, takut seperti itu adalah takut kepada sesuatu yang jelas membahayakan dan harus dihindari.

Namun, kalau takut jenis ini menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban atau melakukan kemaksiatan, maka takut tersebut berubah menjadi takut yang tercela dan berdosa.

Seperti orang yang takut kepada pemimpinnya, sehingga melakukan apa pun perintah dari pemimpinnya, walaupun bertentangan dengan aturan agama.

Seperti orang yang takut kepada masyarakat, sehingga mengikuti apa pun kebiasaan masyarakat, walaupun bertentangan dengan aturan syariat.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

من التمس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضى عنه الناس، ومن التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس

“Siapa yang mencari rida Allah dengan resiko membuat marah manusia, maka Allah akan rida kepadanya dan akan menjadikan manusia rida kepadanya. Dan siapa yang mencari rida manusia dengan resiko membuat murka Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka pula kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban)

Maka, sudah seharusnya kita lebih takut kepada Allah daripada kepada makhluk, sehebat apa pun ia. Dan seperkasa apa pun ia. Sebab, keridaan Allah lah yang pertama dan utama.

 

  1. Takut yang merupakan syirik

Seperti takut kepada patung tertentu, pohon tertentu, batu tertentu, atau takut kepada kuburan tertentu, jin tertentu, atau wali tertentu.

Takut kalau semua itu membahayakanmu. Takut kalau semua itu menimpakan musibah kepadamu.

Padahal, siapa yang bisa memberi malapetaka dan musibah?

Allah berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Sebagian orang awam karena takut kalau anak mereka sakit-sakitan atau diganggu setan, mereka memakaikan jimat kepada anak-anak mereka.

Dan yang lainnya karena takut kalau rumah mereka tertimpa musibah, mereka menyembelih ayam lalu mengucurkan darahnya di pojokan rumah.

Dan yang lainnya lagi karena takut kalau orang yang sudah dalam kubur menimpakan bahaya dan keburukan, mereka meletakkan di kuburnya persembahan.

Mereka berkata, “Kalau kami tidak memberikan sesajen ini, nanti musibah akan menimpa diri kami atau keluarga kami.”

Itu adalah syirik. Itu adalah penyekutuan terhadap Allah. Sebab, itu mempersembahkan ibadah kepada selain Allah.

Padahal, siapakah yang bisa memberi penyakit, malapetaka, mematikan dan menghidupkan?

Karena itu, kalau di dalam hati seseorang terdapat ketakutan seperti itu, maka ketahuilah, ia sudah menyekutukan Allah. Ia harus siap menghadapi kemurkaan dan kutukan dari Allah.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa: 48)

Siberut, 27 Syawwal 1441

Abu Yahya Adiya